Rusia kembali menggempur Ukraina dengan ratusan drone dan puluhan rudal pada Selasa (13/1) dini hari waktu setempat. Rentetan serangan itu menewaskan empat orang dan menghancurkan pembangkit listrik, menambah tekanan pada sistem energi Ukraina yang rapuh.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan "beberapa ratus ribu" rumah tangga di dekat Kyiv, ibu kota Ukraina mengalami pemadaman listrik setelah serangan tersebut. Dia pun kembali menyerukan kepada negara-negara sekutu untuk memperkuat sistem pertahanan udara negaranya.
"Dunia dapat menanggapi teror Rusia ini dengan paket bantuan baru untuk Ukraina," tulis Presiden Volodymyr Zelensky di media sosial, dilansir kantor berita AFP, Selasa (13/1/2026).
"Rusia harus belajar bahwa cuaca dingin tidak akan membantunya memenangkan perang," imbuhnya.
Pihak berwenang di Kyiv dan wilayah sekitarnya memberlakukan pemadaman listrik darurat beberapa jam setelah serangan itu.
DTEK, penyedia energi terbesar Ukraina, mengatakan pasukan Rusia telah menyerang salah satu pembangkit listriknya, dan menyatakan ini adalah serangan kedelapan sejak Oktober tahun lalu.
Operator tersebut tidak mengungkapkan pembangkit listrik mana yang diserang, tetapi mengatakan Rusia telah menyerang pembangkit listriknya lebih dari 220 kali sejak Moskow menginvasi Ukraina pada tahun 2022.
(ita/ita)




/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2025%2F11%2F30%2F0ef40b90-40ce-4e3c-9f29-1b48884130f2.jpg)
