SBN Ritel ORI029 Segera Meluncur, Intip Proyeksi Kuponnya di Sini

bisnis.com
11 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – SBN ritel seri ORI029 akan menjadi produk surat utang negara ritel pertama yang diterbitkan Kementerian Keuangan pada 2026. Seiring tren menurunnya suku bunga, imbal hasil atau kupon produk ini diprediksi tidak akan jauh berbeda dengan imbal hasil produk SBN Ritel pamungkas 2025.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin, menilai kupon yang ditawarkan oleh ORI029 akan berkisar pada level 5,3–5,9%.  ORI bertenor 3 tahun diprediksi bakal memiliki imbal hasil senilai 5,3% dan ORI bertenor 6 tahun diprediksi memiliki imbal hasil 5,9%.

Hal itu sejalan dengan yield obligasi negara pada tenor yang sama, masing-masing 5,31% dan 5,85% pada perdagangan hari ini, Selasa (13/1/2026). Prediksi itu juga tidak jauh berbeda dengan ORI028 yang saat itu menawarkan kupon sebesar 5,35% dan 5,65%. 

Selain itu, prediksi imbal hasil itu juga didasarkan pada proyeksi suku bunga BI yang belum dipangkas sebelum penerbitan ORI029 yang jatuh pada 26 Januari 2026.

“Kalau saya lihat kan dari sisi The Fed, kemungkinan tidak akan menurunkan suku bunga dan Bank Indonesia juga kemungkinan tidak akan menurunkan dulu,” katanya kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).

Baca Juga : Kupon Lebih Rendah, Serapan SBN Ritel 2026 Diprediksi Tetap Solid

Ihwal daya tarik ORI029, Ahmad memprediksi pasar akan menyerap produk ini dengan maksimal. Kendati penurunan suku bunga berpotensi memberikan kupon yang rendah, tetapi capital gain di pasar sekunder diprediksi akan lebih besar seiring dengan pemangkasan lanjutan oleh BI.

Belum lagi, jumlah investor pasar modal Tanah Air bertumbuh. Hal itu dinilai bakal mendorong serapan pasar yang solid terhadap ORI029.

“Saya kira dari sisi makro, dari sisi geopolitik, investor akan cenderung konservatif dan cukup besar untuk menaruh minatnya di SBN Ritel,” katanya.

Sementara itu, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto memprediksi penerbitan ORI029 masih menawarkan kupon di level 5,35–5,45%. Menurutnya, suku bunga pasar masih berada di sekitar level tersebut dan pemerintah dinilai cukup pede untuk memberikan kupon di bawah 5,5%.

“Saya sih melihat pemerintah masih cukup confident di bawah 5,5%. Karena memang suku bunga yang di market  sekitar level itu dan data mereka mengacu kepada itu kan,” katanya, Selasa (13/1/2026).

Meskipun begitu, Ramdhan memprediksi daya serap pasar terhadap SBN Ritel perdana ini akan cukup solid. Hal itu lantaran didorong oleh daya tarik SBN Ritel yang menawarkan kupon lebih tinggi ketimbang deposito perbankan.

Selain itu, perlakuan pajak yang berbeda juga memberikan daya tarik tersendiri bagi produk ini. Bahkan, Ramdhan memprediksi daya serap pasar terhadap SBN Ritel di 2026 cenderung lebih baik ketimbang 2025.

Hal itu didasarkan pada edukasi investor ritel yang telah berjalan masif belakangan, yang memberikan pemahaman mengenai era suku bunga rendah kepada investor ritel.

“Ya investor saat ini lebih memahami kondisi pasar. Mereka juga melihat bahwa instrumen SBN Ritel menjadi pilihan karena memang tidak ada instrumen lain yang bisa menggantikan,” tambahnya.

Adapun untuk diketahui, pemerintah telah merilis jadwal penerbitan SBN Ritel sepanjang 2026. Terdapat total 8 produk SBN Ritel, dengan 2 produk ORI, 2 SR, 2 ST, 1 SWR, dan 1 SBR. Penerbitan pertama akan diawali oleh ORI029 yang bakal ditawarkan pada periode 26 Januari–19 Februari 2026.

Berikut Jadwal Tentatif Masa Penawaran Obligasi Ritel 2026: 

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemain Bintang Ramai-ramai Mundur dari India Open 2026: Ada Akane Yamaguchi Hingga Jagoan China
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
SBY Ingatkan Potensi ”Bangsa Gagal”, Persatuan Harus Terus Dirawat
• 22 jam lalukompas.id
thumb
Sambut Data Inflasi, Trump Kembali Desak The Fed Pangkas Suku Bunga Dolar AS
• 2 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Meikarta Masuk Daftar Lokasi Rusun Subsidi, Menteri PKP Ungkap Rencana dan Tantangannya
• 5 jam lalupantau.com
thumb
Belanja Live Streaming Jadi Tren Baru Penggerak Transaksi E-Commerce
• 10 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.