Nairobi (ANTARA) - Kepala badan Persatuan Bangsa-Bangsa untuk pengunsi UNHCR, Senin (12/1), menyerukan dukungan global yang lebih luas dan kuat untuk mengembangkan solusi bahwa pengunsi butuh membangun kembali hidup mereka.
Pada kunjungan resmi perdananya ke Kenya, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) Barham Salih memuji peran penting Kenya dalam menyambut para pengungsi serta komitmen pemerintah terhadap kebijakan pengungsi yang progresif.
Dia mengapresiasi kedermawanan Kenya selama puluhan tahun dalam menampung para pengungsi serta kebijakan visioner yang memungkinkan para pengungsi untuk bekerja serta mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan jasa keuangan.
"Meski memiliki sumber daya yang terbatas, Kenya terus menunjukkan solidaritas yang luar biasa bagi orang-orang yang membutuhkan melalui kebijakan cerdas yang mendorong kemandirian dan pertumbuhan ekonomi," kata Salih dalam sebuah pernyataan yang dirilis di Nairobi, ibu kota Kenya, usai melakukan pertemuan dengan Presiden Kenya William Ruto dan mengunjungi Kamp Pengungsi Kakuma di Kenya barat laut.
Pada Maret 2025, Kenya meluncurkan program bersejarah untuk meningkatkan kualitas hidup lebih dari 800.000 pengungsi dan pencari suaka, serta komunitas lokal yang secara dermawan menerima para pengungsi, dengan mengubah status kamp pengungsi di negara tersebut menjadi permukiman terintegrasi.
Rencana Shirika (Shirika Plan) merupakan sebuah kerangka kerja yang bertujuan menggeser pendekatan dari semata-mata bantuan kemanusiaan menuju kemandirian pengungsi, sekaligus mendorong koeksistensi secara damai dengan komunitas setempat.
Melalui rencana ini, para pengungsi memperoleh akses terhadap dokumen identitas legal, izin kerja, layanan perbankan dan keuangan digital, pendidikan publik, serta layanan kesehatan universal.
"Kakuma adalah tempat bagi transformasi dan inovasi, yang mengirimkan pesan kuat kepada dunia, yakni alih-alih menjebak pengungsi dalam ketergantungan pada bantuan, kita harus segera memprioritaskan solusi yang memungkinkan mereka untuk hidup bermartabat dan berkontribusi bagi masyarakat," tutur Salih.
Komisaris tinggi tersebut mengatakan krisis pendanaan mengancam nyawa serta berisiko membalikkan kemajuan yang telah dicapai dengan susah payah.
"Oleh karena itu, saya mendorong para pelaku pembangunan, lembaga keuangan internasional, donatur, dan sektor swasta untuk meningkatkan dukungan mereka terhadap Rencana Shirika," ujar Salih.
Pada kunjungan resmi perdananya ke Kenya, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) Barham Salih memuji peran penting Kenya dalam menyambut para pengungsi serta komitmen pemerintah terhadap kebijakan pengungsi yang progresif.
Dia mengapresiasi kedermawanan Kenya selama puluhan tahun dalam menampung para pengungsi serta kebijakan visioner yang memungkinkan para pengungsi untuk bekerja serta mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan jasa keuangan.
"Meski memiliki sumber daya yang terbatas, Kenya terus menunjukkan solidaritas yang luar biasa bagi orang-orang yang membutuhkan melalui kebijakan cerdas yang mendorong kemandirian dan pertumbuhan ekonomi," kata Salih dalam sebuah pernyataan yang dirilis di Nairobi, ibu kota Kenya, usai melakukan pertemuan dengan Presiden Kenya William Ruto dan mengunjungi Kamp Pengungsi Kakuma di Kenya barat laut.
Pada Maret 2025, Kenya meluncurkan program bersejarah untuk meningkatkan kualitas hidup lebih dari 800.000 pengungsi dan pencari suaka, serta komunitas lokal yang secara dermawan menerima para pengungsi, dengan mengubah status kamp pengungsi di negara tersebut menjadi permukiman terintegrasi.
Rencana Shirika (Shirika Plan) merupakan sebuah kerangka kerja yang bertujuan menggeser pendekatan dari semata-mata bantuan kemanusiaan menuju kemandirian pengungsi, sekaligus mendorong koeksistensi secara damai dengan komunitas setempat.
Melalui rencana ini, para pengungsi memperoleh akses terhadap dokumen identitas legal, izin kerja, layanan perbankan dan keuangan digital, pendidikan publik, serta layanan kesehatan universal.
"Kakuma adalah tempat bagi transformasi dan inovasi, yang mengirimkan pesan kuat kepada dunia, yakni alih-alih menjebak pengungsi dalam ketergantungan pada bantuan, kita harus segera memprioritaskan solusi yang memungkinkan mereka untuk hidup bermartabat dan berkontribusi bagi masyarakat," tutur Salih.
Komisaris tinggi tersebut mengatakan krisis pendanaan mengancam nyawa serta berisiko membalikkan kemajuan yang telah dicapai dengan susah payah.
"Oleh karena itu, saya mendorong para pelaku pembangunan, lembaga keuangan internasional, donatur, dan sektor swasta untuk meningkatkan dukungan mereka terhadap Rencana Shirika," ujar Salih.




