Setiap hari, banyak karyawan berangkat ke kantor dengan beban pikiran yang tidak ringan. Tekanan kerja sering dianggap bagian normal dari profesionalisme, bahkan ketika membuat seseorang kelelahan secara mental. Ironisnya, saat karyawan mulai mengeluh atau mempertanyakan kondisi kerjanya, narasi yang muncul justru soal “kurang bersyukur”.
Fenomena ini bukan sekadar soal individu yang dianggap lemah menghadapi tuntutan kerja. Ia mencerminkan cara budaya kerja di banyak kantor memaknai tekanan, loyalitas, dan makna bersyukur itu sendiri. Seolah-olah rasa lelah tidak punya ruang untuk dibicarakan.
Di banyak lingkungan kerja, bersyukur sering dipahami secara sempit: punya pekerjaan berarti tidak boleh mengeluh. Padahal, bersyukur tidak otomatis menghapus fakta bahwa sistem kerja bisa menekan. Ketika keluhan selalu dibalas dengan nasihat moral, bukan dialog, komunikasi di kantor menjadi timpang. Tekanan kerja juga sering dinormalisasi lewat kalimat-kalimat klise. Lembur dianggap bukti dedikasi, beban berlebih dianggap tantangan, dan kelelahan mental dianggap kurang kuat. Dalam situasi seperti ini, karyawan belajar satu hal: diam lebih aman daripada bicara.
Masalahnya, budaya diam bukan solusi. Tekanan yang tidak tersalurkan justru menumpuk. Ia muncul dalam bentuk penurunan produktivitas, hilangnya motivasi, hingga keinginan resign diam-diam. Namun, akar persoalannya jarang dibahas secara terbuka.
Di sinilah komunikasi kantor diuji. Apakah ruang kerja hanya menuntut hasil, atau juga mampu mendengar manusia di dalamnya? Budaya kerja yang sehat seharusnya memberi ruang diskusi tanpa langsung memberi label negatif pada karyawan yang bersuara.
Refleksi ini penting, terutama di tengah generasi kerja yang semakin sadar akan kesehatan mental. Bagi banyak anak muda, bekerja bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal keberlanjutan hidup. Mereka tidak menolak kerja keras, tetapi mempertanyakan sistem yang terus menekan tanpa empati.
Pada akhirnya, membicarakan tekanan kerja bukan tanda tidak bersyukur. Justru, ia bisa menjadi langkah awal memperbaiki budaya kerja di kantor. Karena kantor yang sehat bukan yang bebas tekanan, melainkan yang mampu mengelola tekanan secara manusiawi.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471388/original/091306400_1768284905-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_23.jpg)
