Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Sahabat Sampoerna memetakan sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B) lokal serta usaha eceran sebagai segmen UMKM yang masih memiliki prospek pertumbuhan di tengah tekanan ekonomi sepanjang 2025.
Sebaliknya, UMKM yang sangat bergantung pada bahan baku impor dinilai memiliki risiko lebih tinggi akibat sensitivitas terhadap inflasi dan fluktuasi harga.
Direktur Finance & Business Planning Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra, mengatakan sektor F&B lokal dan ritel relatif lebih adaptif karena memiliki basis permintaan domestik yang stabil serta fleksibilitas dalam menyesuaikan model bisnis.
“Sektor F&B lokal dan usaha eceran masih menjadi UMKM yang potensial. Adapun sektor yang sangat bergantung pada bahan baku impor atau barang tersier yang sensitif terhadap inflasi menjadi sektor yang cukup berisiko,” ujar Henky kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Henky menuturkan, kinerja UMKM sepanjang 2025 secara umum masih menunjukkan ketahanan, meskipun bersifat selektif. Tekanan yang terjadi tidak hanya berasal dari daya beli masyarakat, tetapi juga perubahan pola konsumsi ke arah digital serta kenaikan biaya logistik.
Menurutnya, UMKM yang mampu beradaptasi dengan digitalisasi operasional cenderung mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan pelaku usaha yang masih mengandalkan model konvensional.
Baca Juga
- Bank Capital dan Bank Sampoerna Kerja Sama Penyediaan Kredit bagi Pensiunan
- Laba Bank Sampoerna Turun 79,5% jadi Rp10,71 Miliar
- Dongkrak Kredit UMKM, Bank Sampoerna Siapkan Pendanaan untuk Fintech
Dalam penyaluran pembiayaan, Bank Sampoerna menerapkan prinsip kehati-hatian dengan menitikberatkan pada kualitas aset dan keberlanjutan model bisnis debitur. Penilaian tidak hanya didasarkan pada kemampuan bayar saat ini, tetapi juga pada daya tahan usaha di tengah dinamika inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
“Kami selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan analisis perilaku calon debitur dalam proses seleksi,” jelas Henky.
Ke depan, Bank Sampoerna melihat ketidakpastian suku bunga global dan fluktuasi harga komoditas masih menjadi tantangan bagi segmen UMKM. Namun, peningkatan adopsi pembayaran digital dinilai membuka peluang baru bagi pelaku usaha, khususnya di sektor-sektor yang berorientasi pada pasar domestik.
Sebagai bagian dari strategi, Bank Sampoerna mengombinasikan kemitraan dengan fintech melalui skema Bank as a Service serta pendekatan personal melalui jaringan kantor cabang untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan UMKM tetap sehat dan terukur.
Adapun sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan minat penyaluran kredit perbankan umumnya masih baik, tercermin pada persyaratan pemberian kredit atau lending requirement yang semakin longgar.
“Kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM akibat peningkatan risiko kredit pada kedua segmen tersebut,” kata Perry dalam Konferensi Pers Hasil RDG Bulanan Desember 2025, Rabu (17/12/2025).
Kondisi ini lantas memengaruhi pertumbuhan kredit UMKM. Pada November 2025, Perry mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM secara tahunan mengalami kontraksi sebesar 0,64% (year on year/YoY).



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471353/original/054574800_1768284168-John_Herdman_-9.jpg)