Peringatkan Trump, Bank Sentral Dunia Bersatu Dukung Ketua The Fed

wartaekonomi.co.id
11 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Para pimpinan bank sentral dari berbagai negara di dunia menyatakan dukungan penuh kepada Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. Hal ini menyusul ancaman dakwaan pidana terhadap sang ekonom dari Rezim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dalam pernyataan bersama, para gubernur bank sentral menyatakan bahwa mereka mendukung Powell. Pihaknya juga memperingatkan soal dampak intervensi pemerintah terhadap kebijakan moneter, termasuk dari AS.

Baca Juga: Dinginnya Respons Trump Soal Kriminalisasi Bos The Fed

“Kami berdiri dalam solidaritas penuh dengan Sistem Federal Reserve dan Ketua Jerome H. Powell," ungkapnya, dilansir Rabu (14/1).

Independensi dari campur tangan pemerintah telah lama menjadi fondasi utama sistem perbankan sentral modern dan selama ini menjadi standar yang tidak dipertanyakan bagi institusi moneter terbesar dunia.

Namun, Trump mencoba menentang hal itu dengan secara terbuka menuntut penurunan suku bunga dan memberikan tekanan langsung kepada para pembuat kebijakan moneter.

Kepala Bank Sentral Eropa (ECB), Bank of England, Bank of Canada, serta delapan institusi moneter lainnya menyatakan bahwa bank sentral telah bertindak dengan integritas dan menegaskan bahwa independensi bank sentral sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan pasar keuangan.

“Independensi bank sentral merupakan pilar utama stabilitas harga, stabilitas keuangan, dan stabilitas ekonomi demi kepentingan warga yang kami layani,” kata mereka..

Penandatangan pernyataan juga mencakup pimpinan bank sentral Swedia, Denmark, Swiss, Australia, Korea Selatan, Brasil, Prancis, serta pejabat senior Bank for International Settlements (BIS). Bank of Japan tercatat tidak termasuk dalam daftar penandatangan.

Para bankir sentral menyatakan kekhawatiran bahwa campur tangan politik terhadap bank sentral dapat mengikis kepercayaan terhadap komitmen pengendalian inflasi dari The Fed. Hal tersebut berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi serta meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

AS dikenal sebagai ekonomi terbesar dunia, kebijakan moneter negara tersebut dinilai berisiko mengekspor tekanan inflasi ke negara lain melalui pasar keuangan internasional sehingga menyulitkan bank sentral global dalam menjaga stabilitas harga di negara masing-masing.

Baca Juga: Terungkap Alasan Rezim Trump Kriminalisasi Ketua The Fed

“Karena itu, sangat penting untuk menjaga independensi tersebut, dengan tetap menghormati supremasi hukum dan akuntabilitas demokratis,” kata mereka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Calista Maya Ungkap Biang kerok Bandung BJB Tandamata Babak Belur Dihajar Runner Up Proliga Musim Lalu
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Profil Martina Ayu Pratiwi, Atlet Perempuan yang Borong Medali SEA Games 2025
• 2 jam lalubeautynesia.id
thumb
Aurelie Moeremans Bongkar Child Grooming dan KDRT dalam Buku Broken Strings, Ada Peran Ibu Joshua jadi Penyelamat
• 16 jam lalufajar.co.id
thumb
Beda Superflu dengan Covid, Penyebaran Cepat tapi Tak Terlalu Berbahaya
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pengin Main Film Lagi, Catherine Wilson Kangen Adrenalin Naik
• 13 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.