Hoaks dan Kebenaran: Siapa yang Menang di Ruang Publik?

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

RUANG publik kita hari ini dipenuhi oleh banjir informasi yang tak selalu ramah pada kebenaran. Hoaks beredar cepat, narasi manipulatif tampil meyakinkan, dan kebohongan sering kali lebih menarik daripada fakta. Dalam situasi seperti ini, muncul pertanyaan mendasar, yakni siapa yang sebenarnya menang—hoaks atau kebenaran?

Lebih jauh lagi, masyarakat dihadapkan pada pilihan etis yang tidak ringan, yaitu hanyut dalam rasa nyaman kebohongan, atau berjuang menegakkan integritas yang sering kali menuntut keberanian dan keteguhan.

Kesulitan menyuarakan kebenaran di ruang publik bukan semata soal kurangnya data atau lemahnya literasi, melainkan juga soal perubahan cara kita memaknai kebenaran itu sendiri. Dalam masyarakat digital, kebenaran kerap direduksi menjadi “apa yang viral”, “apa yang dipercaya banyak orang”, atau “apa yang menguntungkan kelompok tertentu”.

Di titik inilah hoaks menemukan momentumnya: ia tidak perlu benar, cukup terasa meyakinkan dan sesuai dengan emosi kolektif.

Filsuf Amerika Richard Rorty menawarkan lensa menarik untuk membaca situasi ini. Rorty menolak gagasan kebenaran sebagai cermin realitas yang objektif dan final. Baginya, kebenaran tidak pernah berdiri di luar bahasa, praktik sosial, dan komunitas manusia. Kebenaran adalah hasil percakapan, kesepakatan sementara, dan solidaritas antarmanusia.

Namun, penolakan Rorty terhadap fondasionalisme tidak berarti relativisme sembrono yang membenarkan kebohongan. Justru sebaliknya, ia menekankan tanggung jawab moral dalam penggunaan bahasa dan narasi di ruang publik.

Dalam kerangka Rorty, masalah hoaks bukan pertama-tama soal kesalahan faktual, melainkan soal rusaknya etos percakapan publik. Hoaks mematikan dialog, merusak kepercayaan, dan memecah solidaritas. Ia tidak mengundang pengertian, tetapi memanipulasi emosi. Karena itu, melawan hoaks bukan hanya soal “meluruskan fakta”, melainkan memulihkan budaya berbicara yang jujur, terbuka, dan berorientasi pada kebaikan bersama.

Masyarakat, dalam hal ini, tidak cukup hanya bersikap netral. Netralitas di tengah kebohongan yang sistematis justru menjadi bentuk pembiaran. Rorty mengingatkan bahwa demokrasi hidup bukan karena klaim kebenaran absolut, melainkan karena komitmen warganya untuk terus memperluas lingkaran solidaritas. Hoaks mempersempit lingkaran itu dengan menciptakan musuh imajiner dan kecurigaan permanen.

Maka, pilihan moralnya menjadi jelas: hanyut dalam kebohongan berarti mengkhianati solidaritas; menegakkan integritas berarti menjaga kemungkinan dialog yang sehat.

Namun, kebenaran juga tidak bisa dimenangkan dengan cara yang salah. Menghadapi hoaks dengan caci maki, stigmatisasi, atau arogansi intelektual hanya akan memperdalam polarisasi. Rorty akan menyebut pendekatan semacam ini sebagai kegagalan pragmatis, yakni benar secara logis, tetapi gagal secara sosial.

Kebenaran perlu diperjuangkan dengan cara persuasif, empatik, dan kontekstual—bukan dengan klaim moral superior, melainkan dengan kesediaan mendengarkan dan menjelaskan.

Dalam lingkup pendidikan, persoalan ini menjadi semakin mendesak. Sekolah dan perguruan tinggi bukan sekadar tempat berbagi pengetahuan, tetapi ruang pembentukan watak intelektual dan moral. Jika pendidikan ikut hanyut dalam relativisme dangkal—di mana semua pendapat dianggap setara tanpa pertanggungjawaban rasional—maka hoaks akan menemukan rumah yang subur.

Sebaliknya, jika pendidikan kembali menegaskan pentingnya kejujuran intelektual, ketelitian berpikir, dan tanggung jawab dalam berbahasa, kebenaran dapat dihidupkan.

Menghidupi kebenaran, dalam semangat Rorty, berarti membiasakan peserta didik agar memahami bahwa pengetahuan lahir dari dialog, koreksi, dan keterbukaan terhadap revisi. Kebenaran tidak dihafalkan, tetapi dipraktikkan. Ia tampak dalam cara bertanya, cara mengutip sumber, cara berbeda pendapat, dan cara mengakui kesalahan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Di sinilah pendidikan menjadi benteng paling efektif melawan hoaks: bukan dengan indoktrinasi, melainkan dengan pembentukan kebiasaan berpikir yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, pertarungan antara hoaks dan kebenaran bukan soal siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling konsisten menjaga integritas percakapan publik. Sudah saatnya kebenaran dimenangkan dengan cara benar—melalui pendidikan, dialog, dan solidaritas. Dalam dunia yang rapuh oleh kebohongan, keberpihakan pada kebenaran bukan sikap naif, melainkan pilihan etis yang paling realistis.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Druze: Israel Sang Penjamin Masa Depan, Saatnya Suriah Dipecah-Pecah Jadi Wilayah Otonom
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemenkes Buka Lowongan Kerja untuk SMA/SMK dan S1, Simak Posisi dan Syaratnya
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
MENGEJUTKAN! Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice Soal Kasus Ijazah Jokowi
• 10 jam laludisway.id
thumb
Dongeng Anak Sebelum Tidur: Burung Pipit yang Belajar Berbagi
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Arti Bersin Menurut Medis, Primbon Jawa, dan Pandangan Islam
• 41 menit lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.