Barca dan Mes Que un Club

mediaindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita

SEPAK bola, seperti hidup, sering kali tidak ditentukan skor. Ia ditentukan sikap. Oleh cara seseorang berdiri ketika kalah dan oleh kesediaannya menunduk walaupun menang. Di titik itulah kisah tentang Xabi Alonso, Kylian Mbappe, Real Madrid, dan Barcelona menjadi lebih dari sekadar cerita lapangan hijau. Ia menjelma cermin. Cermin tentang kuasa, tentang hormat, dan tentang siapa yang sebenarnya sedang memimpin siapa.

Sejumlah media daring menuliskan, setelah Real Madrid tumbang 2-3 dari FC Barcelona di Piala Super Spanyol, Xabi Alonso, dengan ketenangan seorang mantan gelandang yang terbiasa membaca permainan, mengajak para pemainnya memberikan guard of honour. Sebuah barisan sunyi. Sebuah gestur kecil. Namun, justru di sanalah martabat diuji. Ajakan itu ditentang. Bukan oleh manajemen. Bukan oleh suporter. Melainkan oleh seorang bintang, siapa lagi kalau bukan Kylian Mbappe, seorang bintang.

Yang lebih ganjil bukanlah penolakan itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Para pemain Madrid, satu per satu, lebih memilih mengikuti suara sang bintang ketimbang suara manajer mereka. Seolah ruang ganti telah bergeser porosnya, dari pelatih ke pemain, dari visi ke pamor, dari kolektif ke individual. Alonso pun sadar, ia tak lagi didengar. Ia hanya pelatih di papan nama, bukan di hati para pemain. Karena itu, mundurnya Alonso dari Madrid bukan sekadar soal kalah kuasa, melainkan soal harga diri. Ketika seorang pelatih tak lagi dihormati, ia tak punya rumah di klub itu.

Baca juga : Real Madrid vs Real Betis: Xabi Alonso Optimistis Hadapi Los Verdiblancos mesti tanpa Mbappe

Real Madrid, dalam kisah itu, tampak seperti kerajaan para galactico, julukan yang pernah melekat kepada mereka ‘Los Galacticos’, yang lupa cara memberikan hormat. Klub besar yang terbiasa menjadi pusat semesta sehingga sulit mengakui cahaya dari bintang lain.

Penolakan guard of honour itu bukan sekadar sikap emosional pascakalah, melainkan gejala bahwa individualisme telah menebal, bahwa kebesaran nama lebih nyaring daripada kebesaran sikap.

Ironisnya, di sisi lain, Barcelona, rival abadi yang baru saja menaklukkan mereka, justru berdiri membentuk barisan kehormatan saat medali disematkan kepada Real Madrid. Para pemain Barca berdiri. Diam. Bertepuk tangan. Mereka mengakui lawan. Mereka menghormati pertandingan. Dalam diam itu, ada suara yang jauh lebih lantang daripada sorak-sorai, yakni suara etika.

Baca juga : Real Madrid vs Athletic: Xabi Alonso Puas Real Madrid Akhiri Tren Negatif Usai Kalahkan Athletic

Di situlah Barcelona menampakkan wajah mereka yang lain. Wajah yang tahu cara menang, sekaligus tahu cara menghormati kekalahan orang lain. Sikap itu bukan kebetulan. Ia lahir dari sebuah keyakinan lama klub, Mes que un club, yang artinya ‘Lebih dari sekadar klub’.

Sejak Narcis de Carreras mengucapkan slogan itu pada 1968, Barcelona tak pernah benar-benar memisahkan sepak bola dari identitas. Klub itu ialah bahasa, ingatan, dan perlawanan. Ia adalah Katalonia yang tak selalu bisa berbicara lewat politik, tapi bisa bersuara lewat sepak bola. Karena itu, nilai-nilai kolektif, solidaritas, dan martabat bersama merembes hingga ke cara mereka bermain dan bersikap.

Sepak bola Barca bukan tentang satu orang yang paling bercahaya. Ia tentang banyak pemain yang saling mengisi. Tentang operan pendek yang sabar. Tentang ruang yang diciptakan untuk orang lain.

Filosofi itu pula yang menjelma dalam gestur guard of honour, yaitu menghormati dalam keadaan apa pun, menang atau kalah, karena mengakui bahwa lawan juga bagian dari permainan yang sama.

Madrid, dengan sejarah Los Galacticos mereka, memilih jalan lain. Jalan bintang. Jalan individu. Jalan tempat suara paling nyaring sering kali menang. Ketika sepak bola terlalu tunduk pada ego, yang retak bukan hanya ruang ganti, melainkan juga makna kemenangan itu sendiri.

Pada akhirnya, kisah itu bukan tentang siapa yang lebih hebat. Ia tentang pilihan nilai. Tentang apakah sepak bola akan menjadi panggung ego, atau ruang perjumpaan manusia.

Alonso memilih pergi karena ia tak lagi menemukan hormat. Barcelona memilih berdiri karena mereka percaya bahwa ‘bahkan rival pun pantas dihormati’. Mungkin, di situlah pula perbedaan paling mendasar antara sekadar menang dan ‘menang sekaligus bermakna’.

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemprov Kepri Ajukan Pinjaman Rp400 Miliar ke Bank bjb untuk Biayai Infrastruktur 2026
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
109 Tiang Monorel Dibongkar, Dishub Prediksi Kinerja Lalin Rasuna Said Naik 18%
• 23 menit lalukumparan.com
thumb
BMKG Ingatkan Waspada Hujan Lebat dan Petir di Sejumlah Kota Besar Hari Ini
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
RSMH Palembang Bentuk Tim Khusus Tangani Dugaan Bullying PPDS FK Unsri
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Tambah 57 Titik Sumur Bor Kebut Akses Air Bersih Warga Aceh
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.