REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG SELATAN — Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Ma’mun Murod menilai isu terorisme di Indonesia kerap dibingkai secara berlebihan dan tidak jarang dijadikan bagian dari proyek kepentingan tertentu. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam sambutannya pada acara pengukuhan empat Guru Besar UMJ yang turut dihadiri Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan, Wiranto.
Prof Ma’mun mengungkapkan, dalam berbagai diskus terdapat perbedaan pandangan dengan salah satu guru besar yang dikukuhkan, Prof Sri Yunanto, khususnya terkait isu terorisme. Ia secara tegas menyatakan tidak sepakat dengan narasi yang menggambarkan Indonesia berada dalam kondisi darurat intoleransi.
- Jubir Presiden: Prabowo Koreksi Desain Kompleks IKN
- Guru Besar UMJ Tegaskan Soft Power sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045
- Punya Karakter yang Berbeda, Ini Dua Sosok Ini Kandidat Kuat Pemimpin Baru Hamas
“Saya termasuk tidak meyakini bahwa Indonesia itu digambarkan seperti negara yang kemudian darurat intoleran. Karena negara ini kan negara yang serba bermain proyek. Termasuk saya meyakini terorisme itu juga bagian dari proyek itu,” ujar Prof Ma’mun di Auditorium KH Azhar Ba’asyir, Gedung Cendekia UMJ, Selasa (13/1/2026).
Menurutnya, memang ada kelompok yang memahami ajaran agama secara ekstrem dan radikal. Namun, fenomena tersebut bukan hal baru dan telah ada sejak lama dalam sejarah umat beragama, termasuk dalam penafsiran ayat-ayat Alquran yang dilakukan secara berlebihan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Dan ini sejak dulu pun, sejak masa Khawarij sampai dengan saat ini juga ada ayat-ayat kita di dalam Alquran ditafsirkan secara ekstrem. Tapi saya berkeyakinan juga ada main-main dibalik soal terorisme itu," ucapnya.
Prof Ma’mun menambahkan, dirinya dan Prof Sri Yunanto memiliki data masing-masing terkait terorisme itu.
"Dan terbukti sekarang landai-landai saja. Tidak ada isu-isu terorisme yang berlebihan tidak seperti tahun 2014 sampai dengan 2024. Harapannya tentu tidak lagi main-main dalam persoalan ini, apalagi terkait dengan persoalan nyawa," katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Ma’mun juga menyampaikan kritiknya terhadap pendekatan penegakan hukum yang dinilainya kerap mengabaikan prinsip kemanusiaan. Ia menyinggung kinerja Densus 88 yang menurutnya perlu dievaluasi.
“Saya termasuk yang cukup mengkritik keras terkait dengan Densus 88. Yang seolah-olah dengan mudah menghilangkan nyawa manusia. Untuk alasan-alasan yang tidak terlalu jelas," jelas Prof Ma'mun.
"Maka ke depan saya berharap Pak Sri Yunanto sekarang sudah jadi guru besar tentu akan bisa membesarkan lebih jauh Universitas Muhammadiyah Jakarta,” ucapnya.
Sementara itu, Prof Sri Yunanto menegaskan bahwa kondisi terorisme di Indonesia dalam dua tahun terakhir telah menunjukkan perkembangan yang sangat positif. Ia menyebut, Indonesia mencatatkan nol serangan teror (zero attack), meskipun upaya penegakan hukum tetap berjalan secara efektif.
“Terorisme ini di Indonesia sudah bagus Dua tahun ini kita zero attack, gak ada serangan. Tapi penangkapannya banyak karena sudah efektif,” ujar Prof Yunanto kepada Republika.co.id saat ditemui usai acara pengukuhan.
Ke depan, ia pun menilai arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka perlu difokuskan pada pembinaan dan pencegahan. Terlebih, ribuan mantan anggota jaringan terorisme telah menyatakan pembubaran diri dan membutuhkan pendampingan serius.
“Ada 8 ribu anggota Jamaah Islamiyah itu sudah membubarkan dirim harus dibina Ex-Napiter itu. Ribuan keluar, itu harus dibina sama pencegahan tentu ya,” ucapnya.
Prof Yunanto menambahkan, capaian tersebut juga tercermin dari penurunan Global Terrorist Index dan indeks radikalisasi Indonesia di tingkat dunia. Menurutnya, tren positif ini tinggal dilanjutkan dan diperkuat oleh pemerintahan mendatang dengan pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan.
“Jadi sebenarnya trennya sudah bagus tinggal pemerintahan ini melanjutkan untuk prioritas yang akan datang,” kata Prof Yunanto.


