Seruan dari Katedral untuk Negara: Soal Pilkada, Teror hingga Demokrasi

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah tokoh lintas agama dan masyarakat sipil yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap arah demokrasi Indonesia.

Dari wacana perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada), teror terhadap pengkritik negara hingga menyempitnya ruang kebebasan berekspresi, semua disoroti dalam pesan kebangsaan yang disampaikan dari Gereja Katedral, Jakarta, Selasa (13/1/2026).

Pesan tersebut ditujukan kepada seluruh elemen bangsa, termasuk Presiden Prabowo Subianto, DPR, dan para penyelenggara negara, agar tetap menjadikan demokrasi, suara rakyat, serta kebebasan sipil sebagai fondasi utama dalam pengambilan kebijakan publik.

Baca juga: Influencer Diteror, GNB: Demokrasi Indonesia Hadapi Tantangan Serius

Pelaksanaan Pilkada Harus Dengarkan Suara Rakyat

Anggota GNB, Lukman Hakim Saifuddin, meminta Presiden dan DPR bersikap bijak dalam menyikapi wacana pengembalian mekanisme pilkada melalui DPRD.

Menurut dia, perubahan tersebut tidak bisa dilakukan secara sepihak karena menyangkut revisi undang-undang.

"Terkait dengan Pilkada untuk kembali diserahkan kepada DPRD, ini kan harus mengubah merevisi UU, dan UU itu tidak hanya kewenangan presiden tapi juga DPR," kata Lukman dalam konferensi pers di Gereja Katedral, Jakarta, Selasa.

Ia menekankan, sebelum perubahan dilakukan, suara rakyat harus menjadi pertimbangan utama.

KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Eks Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim menyambangi Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (11/9/2025) sore. Presiden Prabowo Subianto mengundang tokoh bangsa yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa ke Istana Kepresidenan Jakarta.

Demokrasi, menurut Lukman, bukan sekadar prosedur, melainkan ruh dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

"Nah oleh karenanya, tadi dalam pesan kami, kami nyatakan bahwa pemerintah dan DPR itu harus bijak kalau ingin mengubah ini, jadi dengarlah suara rakyat seperti apa," ujarnya.

Lukman menambahkan, pesan kebangsaan yang disampaikan GNB tidak dimaksudkan sebagai kritik personal, melainkan seruan moral demi menjaga kualitas demokrasi.

Lukman yang juga mantan Menteri Agama ini menegaskan, GNB terbuka apabila Presiden Prabowo Subianto ingin meminta klarifikasi atau penjelasan lebih lanjut terkait sikap mereka.

"Kalau lah beliau lalu merasa perlu untuk mendapatkan klarifikasi atau penjelasan lebih lanjut dengan mengundang kami, tentu kami akan dengan senang hati menerima undangan itu," terangnya.

Baca juga: Kalau Mewakili Rakyat, Mestinya Partai Tolak Pilkada Lewat DPRD

Menurut dia, dialog antara pemerintah dan masyarakat sipil merupakan bagian penting dari demokrasi yang sehat.

Dalam kesempatan itu, Lukman menyinggung hasil jajak pendapat Litbang Kompas yang menunjukkan mayoritas publik masih menghendaki pilkada langsung.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sebanyak 77,3 persen responden menilai pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan sistem yang paling cocok diterapkan di Indonesia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Puluhan RT di Jakarta Masih Terendam Banjir, Ini Daftar Lengkapnya
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Harapan Mama Papua Saat Gibran Blusukan di Biak Numfor
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Tender Terlalu Mepet, Pengerjaan Proyek Lelet
• 37 menit laluharianfajar
thumb
BEI Suspensi Berjamaah 11 Saham yang Naik Tajam, Salah Satunya RMKE
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Buya Eson Pertanyakan Alasan Menkeu Purbaya Beri Bantuan Hukum ke Tersangka Korupsi Pajak
• 18 jam lalufajar.co.id
Berhasil disimpan.