Dolar Amerika Serikat (AS) bergerak tipis menguat pada Selasa (13/1). Rilis data inflasi terbaru menunjukkan harga konsumen secara tahunan meningkat 2,7% di Desember 2025.
Dilansir dari Reuters, Rabu (14/1), Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama seperti euro dan yen, terakhir tercatat menguat 0,28% ke 99,15.
Baca Juga: JPMorgan Dukung Independensi The Fed, Cap Ide Trump Buruk!
Ekonom mengatakan data consumer price index yang stabil menunjukkan tren penurunan inflasi, meski masih sedikit di atas target 2%. Angka inti harga konsumen, yang mengecualikan makanan dan energi, juga tercatat secara tahunan 2,6%. Data ini dipandang memberi banyak ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga, meskipun terdapat tekanan dari berbagai arah pasar.
Federal Reserve (The Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kebijakan 27–28 Januari, Meski demikian, masih ada harapan dua kali pemangkasan suku bunga nanti tahun ini. Ekspektasi pasar sudah sebagian besar menggeser potensi pemangkasan suku bunga ke pertengahan tahun.
Dolar juga mendapat dukungan dari data ketenagakerjaan yang kuat pada Desember. Hal itu semakin mengokohkan ekspektasi bahwa bank sentral akan menahan suku bunga untuk sementara waktu.
Namun, pasar juga terus mencermati ketegangan politik yang memengaruhi persepsi risiko terhadap aset dari AS. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Hal tersebut memicu kekhawatiran global terkait independensi bank sentral dan mendapat reaksi dari pemimpin bank sentral di seluruh dunia.
Baca Juga: Sambut Data Inflasi, Trump Kembali Desak The Fed Pangkas Suku Bunga Dolar AS
Selain itu, pelaku pasar juga menanti keputusan mengenai legalitas kebijakan tarif yang diperkirakan bisa diumumkan dalam waktu dekat. Ia diyakini akan memberi dampak pada sentimen perdagangan dan nilai tukar dari dolar.



