JAKARTA, KOMPAS — Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya membongkar praktik clandestine drug laboratory atau laboratorium pembuatan narkotika rumahan jenis etomidate di Apartemen Greenbay, Pluit, Jakarta Utara. Polisi menangkap dua tersangka, salah satunya warga negara asing China.
Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta terkait paket mencurigakan yang dikirim melalui jasa ekspedisi internasional. Paket tersebut diketahui berisi bahan narkotika dan peralatan laboratorium yang ditujukan ke lobi Tower H Apartemen Greenbay.
Kepala Subdirektorat 2 Direktorat Reserse Narkotika dan Obat Terlarang Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Parikhesit, Rabu (14/1/2026), mengatakan, timnya langsung menyelidiki laporan itu. Hasilnya, dua orang ditangkap, D dan HW, pada Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.
Dari hasil penggeledahan di lokasi kejadian, polisi menemukan paket Fedex berisi narkotika jenis etomidate seberat 100 gram. Etomidate masuk golongan II narkotika berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 15 Tahun 2025 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika.
Selain itu, ditemukan juga bahan kimia SLS seberat 1 kilogram serta berbagai peralatan laboratorium. Peralatan itu antara lain tabung lab berkapasitas 3.000 mililiter, 1.000 ml, 100 ml; botol lab, alat aduk kaca, timbangan digital, alat suntik, dan dandang antikarat.
Uniknya, bahan-bahan yang disita itu justru datang dari India, sedangkan peraciknya, HW, adalah warga negara China. ”Diperkirakan, lab itu nantinya akan menghasilkan sekitar 30 liter cairan etomidate per hari,” kata Parikhesit.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Ahmad David menuturkan, etomidate biasanya dijadikan bahan racikan rokok elektrik atau vape. Berdasarkan penghitungan, satu cartridge vape rata-rata berisi 2 ml etomidate.
”Jadi, dari total 30 liter cairan etomidate itu, lab ini berpotensi menghasilkan 15.000 cartridge pods etomidate yang siap diedarkan ke masyarakat,” katanya.
Untuk mengelabui petugas, ujar Ahmad, pelaku memasukkan barang ilegal ini via transportasi udara dengan menyamarkannya sebagai barang kiriman paket. ”Beruntung paket sudah terdeteksi,” ujar Ahmad.
Sebelumnya, sepanjang tahun 2025, terdata ada 7.426 laporan terkait penyalahgunaan narkotika di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Jumlah ini naik sebesar 1,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.
Dari data ini, ungkap Ahmad, dalam satu hari setidaknya ada sekitar 27 warga Jakarta dan sekitarnya yang berisiko terpapar narkotika. Karena itu, pencegahan langsung dari produsen akan sangat menentukan.
Industri narkotika rumahan juga pernah diungkap Badan Narkotika Nasional (BNN) belum lama ini. Sebuah apartemen di kawasan Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten, yang digunakan memproduksi sabu digerebek pada Jumat (17/10/2025).
”Tim menangkap IM dan DF,” ujar Kepala BNN Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto.
Kedua tersangka, kata Suyudi, memiliki peran berbeda. IM adalah peracik sabu. Adapun DF bertugas memasarkannya.
”Keduanya residivis kasus serupa tahun 2016,” katanya.
Suyudi mengatakan, selama beraksi, pelaku meraup untung hingga Rp 1 miliar dalam enam bulan. Sebagai bahan pembuatan sabu, mereka meraciknya lewat obat-obatan untuk asma sebanyak 15.000 butir pil demi menghasilkan 1 kilogram ephedrine murni.
”Pelaku membeli bahan baku dan peralatan laboratorium secara daring,” katanya.
Dari pengungkapan ini, ucap Suyudi, petugas menyita sejumlah barang bukti, yaitu sabu padatan hasil produksi sebanyak 209,02 gram dan sabu cair 319 ml.
Selain itu, ada prekursor ephedrine sekitar 1,06 kg, prekursor aseton 1.503 ml, asam sulfat 400 ml, dan prekursor toluen 3,43 liter, 2 gelas kimia, dan peralatan lainnya.




