Penasaran, Warga Kunjungi Pohon Randu Alas Raksasa Borobudur

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sejak viral di media sosial, pohon randu alas raksasa yang diduga berusia ratusan tahun di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ramai dikunjungi masyarakat. Pohon ini viral di media sosial, karena rencananya akan ditebang tapi batal.

"Yang pertama (ke sini) karena viral. Yang kedua kami sering memantau yang rodo (agak) ada sakralnya," kata Alamtaro pengunjung dari Kabupaten Sleman, Rabu (14/1).

Dia mengaku kaget mendengar kabar pohon ini akan ditebang. Menurutnya pohon randu alas sudah jadi ikon Tuksongo.

"Ikon wisata kebanggaan Tuksongo. Saya sering ke sini," katanya.

Alamtoro meyakini, pohon ini memiliki unsur mistis. Tapi, ia tetap melihat hal positif dari pohon ini.

"Mengganggu tidak. Ada energi. Energinya positif," katanya.

Sementara itu, Yuwan pengunjung lain juga mengaku penasaran. Dia menyempatkan datang untuk foto-foto.

"Ini saya foto-foto untuk mengabadikan. Katanya mau ditebang," tuturnya.

kumparan sudah mengunjungi pohon randu alas. Tingginya 30 meter lebih. Sementara diameternya, diperlukan delapan orang dewasa lebih untuk memeluknya. Sayangnya, kondisi pohon saat ini sudah mengering.

Beberapa ranting dari pohon randu alas ini telah dipangkas pada Senin (12/1) lalu. Ranting-ranting pohon tampak di samping pohon yang masih berdiri gagah.

Sebelumnya warga telah bersepakat menebang pohon karena kondisinya yang sudah tampak mati mengering. Ini dinilai berbahaya karena kondisi pohon berada di samping jalan raya dan lapangan. Selain itu sebagai desa wisata, Tuksongo selalu dihadiri wisatawan. Jika sampai pohon tumbang dikhawatirkan menimbulkan korban.

"Dulu-dulunya simbah-simbah saya itu, ini kan tanah pribadi kemudian yang sebelahnya tanah bengkok. Ini ditanami randu ini untuk batas tanah, zaman dulu," kata warga yang rumahnya tak jauh dari randu alas, Haji Ashari Munhajir (53).

Tak ada yang tahu pasti usia randu alas ini. Namun diperkirakan usianya 200 sampai 300 tahun. Ashari mengatakan ketika dia kecil, randu alas ini juga sudah seperti ini.

"Saya sudah nalar (besar) pohonnya sudah besar seperti ini," katanya.

Pada tahun 1990an, pohon randu diwakafkan ke masjid. Oleh pengurus masjid dijual ke perorangan seharga Rp 900 ribu. Namun oleh sebagian masyarakat dicegah agar tidak ditebang karena untuk simbol atau ikon desa.

"Kemudian gagal. Terus sampai sekarang yang mempunyai masyarakat. Tapi posisi tanahnya ada separuh di tempat pribadi ada yang di tanah milik desa," bebernya.

Ashari mengatakan warga bersepakat memotong randu alas ini karena khawatir membahayakan keselamatan warga. Secara kasat mata pohon sudah kering dan tampak mati. Mereka juga telah berkoordinasi dengan dinas terkait.

Warga juga telah menggelar selametan untuk memulai pemotongan pohon. Selametan ini adalah tradisi di desa ini.

"Warga sudah sepakat, kemudian dari Dinas DLH dikembalikan ke masyarakat. Tapi ada LSM datang ngebel (nelpon) Pak Bupati, biar mau nunggu dicek dulu disurvei dulu (kesehatan pohon). Mati sungguh-sungguh atau nggak," kata Ashari.

"Aktivitas banyak ini desa wisata kalau ada wisatawan lewat (khwatir) ketiban," jelasnya.

Beberapa kali ranting juga sudah jatuh ke bangunan. Hal itu cukup merugikan warga.

"Beberapa kali jatuh di atap," bebernya.

Sementara itu pada Senin kemarin, akhirnya pohon hanya dipangkas ranting-rantingnya saja.

"Rencana mau ditebang tapi dimulai dari ranting dulu tapi sampai tengah jalan (berhenti)," katanya

Saat ini warga masih menunggu kajian Pemkab Magelang terkait kondisi pohon randu ini. Warga berharap keselamatan warga tetap diutamakan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Aulia Sarah Ungkap Tantangan Fisik dan Emosi Saat Perankan Rahayu di Sengkolo Petaka Satu Suro
• 8 jam laluintipseleb.com
thumb
Pembangunan Disneyland Thailand Diprediksi Habiskan Rp45 Triliun
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Ingin Berwisata ke Bulan? Startup AS Buka Pemesanan Hotel Bulan Pertama untuk 2032
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Doa Menyembelih Ayam Lengkap: Arab, Latin, dan Tata Cara Sesuai Syariat
• 9 jam lalumediaindonesia.com
thumb
BP Tapera Ungkap Penyaluran FLPP Tembus 1,87 Juta Unit Sejak 2010
• 1 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.