EtIndonesia. Akhir-akhir ini, mungkin kamu pernah melihat iklan yogurt Uni-President AB di televisi. Mungkin pula kamu terkesan dengan sosok tokoh utama di dalamnya.
Ia adalah Huang Shengxiong, Direktur Mennonite Christian Hospital. Delapan tahun sebelumnya, dia mengajar dan praktik kedokteran di University of Pittsburgh, Amerika Serikat.
Huang Shengxiong adalah pakar bedah saraf kelas dunia yang sangat disegani di Amerika. Dia kerap menjadi tamu Gedung Putih dan pernah menjadi dokter pribadi yang ditunjuk untuk mendampingi Presiden Ronald Reagan. Dijuluki Doctor’s doctor—dokter bedah saraf yang menjadi rujukan para dokter—setiap tahun dia menangani sekitar 5.000 pasien dan melakukan 360 operasi. Gajinya melampaui satu juta dolar AS per tahun, dengan rumah seluas beberapa hektare.
Pada tahun 1990, Direktur Mennonite Hospital sebelumnya, dr. Roland Brown, pensiun dan kembali ke Amerika. Karena bertahun-tahun mengonsumsi aspirin, dr. Brown mengalami tinnitus dan gangguan pendengaran. Meski demikian, dia tidak pernah menyesali pengabdiannya hampir 40 tahun untuk Hualien—daerah yang akses transportasi dan fasilitas medisnya kala itu masih terbatas. Bahkan setelah pensiun, dia tidak memiliki rumah. Ketulusan pengorbanan ini sangat menggetarkan hati Huang Shengxiong.
Tahun 1991, saat dr. Bo menerima Taiwan Contribution Award di Los Angeles, dia berkata: “Aku telah mempersembahkan hidupku bagi Taiwan. Aku berharap orang Taiwan—terutama para dokter—juga mau melayani bangsanya sendiri, khususnya masyarakat Hualien yang lemah dan membutuhkan. Sangat disayangkan, banyak dokter merasa Hualien itu jauh, sementara Amerika terasa dekat. Tak banyak yang mau ke Hualien; justru banyak yang datang ke Amerika.”
Kata-kata itu membuat Huang Shengxiong memutuskan meninggalkan semua yang dimilikinya di Amerika dan kembali ke Hualien untuk melayani. Saat dia pergi, 400 orang dari kalangan politik dan medis Amerika mengantarnya—termasuk gubernur dan ketua parlemen negara bagian. Mereka merasa amat kehilangan.
Kepada mereka, Huang berkata bahwa lebih banyak pasien menunggunya di Hualien. Itulah tempat yang Tuhan percayakan kepadanya—dan ia harus kembali.
Pada November 1993, Huang Shengxiong menerima tongkat estafet kepemimpinan dari dr. Bo dan resmi menjabat sebagai direktur rumah sakit. Hingga saat kisah ini dituturkan, hampir delapan tahun dia mengemban amanah tersebut.
Dia bersikeras mengemudi sendiri, bahkan saat melakukan layanan medis keliling ke daerah pegunungan terpencil—mengendarai jip berjam-jam naik turun gunung. Dewan rumah sakit beberapa kali hendak menyediakan sopir untuknya, namun selalu dia tolak.
Alasannya sederhana: “Mennonite masih membutuhkan dukungan masyarakat. Jika aku bisa punya sopir dan mobil mewah, lebih baik kita tidak perlu menggalang donasi.”
Huang melayani setiap pasien dengan kesabaran dan kasih. Dia meluangkan 30–40 menit untuk satu pasien. Orang-orang yang mengenalnya khawatir tubuhnya tak sanggup menanggung beban kerja seberat itu.
Namun di usia 63 tahun, dia selalu menjawab dengan senyum khasnya: “Tak apa. Aku sehat.”
Gajinya sebagai direktur rumah sakit sekitar 300 ribu dolar Taiwan per bulan—lebih rendah dari rata-rata direktur rumah sakit, bahkan kurang dari sepersepuluh penghasilannya di Amerika. Dari jumlah itu, 200 ribu dolar Taiwan dia donasikan kembali ke rumah sakit. Dia tinggal di asrama karyawan dan menjalani hidup sederhana.
Apa yang sulit dimiliki kebanyakan orang—dia telah memilikinya. Apa yang sulit dilepaskan kebanyakan orang—dia justru berani melepaskannya.
Huang Shengxiong berkata: “Aku punya rumah besar dan mobil bagus. Secara materi, aku tak kekurangan apa pun. Namun makna sejati kehidupan bukanlah materi. Aku pulang ke Taiwan untuk membeli jiwaku.”
Renungan Pembaca
Air mengalir ke tempat rendah; manusia cenderung mendaki ke tempat tinggi. Di masa muda, kita memandang luar negeri sebagai simbol kemajuan dan tantangan—tempat menguji kemampuan dan meraih penghasilan lebih besar.
Bagi kaum muda, Amerika terasa dekat karena ada mimpi dan tantangan.
Namun ketika usia bertambah dan pandangan hidup semakin matang, kita perlahan menyadari: setinggi apa pun pohon tumbuh, dia tak pernah lepas dari akarnya. (jhn/yn)


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F11%2F45f76db86fe768eeb24b8b048a23945e-20251211PRI9HR.jpg)


