Memasuki puncak musim dingin, serangan Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina membuat upaya pertahanan Ukraina semakin berat. Menyikapi hal ini, negara-negara sekutu Eropa pun kembali memberikan bantuan. Pada Senin (12 Januari), Norwegia mengumumkan bantuan terbaru sebesar 400 juta dolar AS untuk Ukraina, dengan 200 juta dolar di antaranya akan digunakan untuk pemulihan fasilitas energi. Sementara itu, Inggris meluncurkan sebuah proyek bernama “Nightfall” yang bertujuan mengembangkan jenis rudal balistik baru untuk Ukraina.
EtIndonesia. Petugas pemadam kebakaran Ukraina terlihat memadamkan api di tengah cuaca dingin. Pada Senin dini hari, Rusia melancarkan serangan udara ke sebuah kawasan industri di wilayah barat Kyiv, memicu kebakaran besar. Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Seorang warga Kyiv bernama Mala mengatakan: “Apa yang bisa kami lakukan? Tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada pemanas. Tidak ada apa-apa.”
Pada Jumat lalu, pasukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran terhadap jaringan energi Ukraina. Hingga tanggal 11, lebih dari 1.000 gedung apartemen di Kyiv masih tanpa listrik dan pemanas. Warga berkumpul di titik-titik bantuan kemanusiaan sementara untuk mengisi daya ponsel, minum teh, dan menghangatkan tubuh, sementara suhu luar ruangan turun hingga minus 13 derajat Celsius.
Pada Senin, Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide, saat berkunjung ke Kyiv, mengumumkan bahwa Norwegia akan memberikan bantuan baru senilai 400 juta dolar AS kepada Ukraina, dengan setengah dari dana tersebut dialokasikan untuk perbaikan sektor energi.
“Sebanyak 200 juta dolar AS akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini, membeli gas alam, serta menangani berbagai perbaikan energi darurat lainnya, guna memastikan pasokan listrik dan pemanas dapat berjalan senormal mungkin,” ujarnya.
Dalam serangan besar pekan lalu, Rusia juga untuk kedua kalinya menggunakan rudal balistik hipersonik “Hazel” (Oreshnik), yang menyerang wilayah Ukraina barat dekat perbatasan Polandia, negara anggota NATO. Langkah ini dipandang sebagai ancaman bagi NATO dan Uni Eropa. Kementerian Pertahanan Rusia pada Senin menyatakan bahwa target serangan rudal “Hazel” tersebut adalah sebuah pabrik perbaikan pesawat Ukraina.
“Rusia berusaha menghalangi kami untuk mendukung Ukraina, tetapi kami tidak akan pernah menyerah. Saat Ukraina menghadapi tekanan besar akibat musim dingin yang keras, dukungan Anda, dukungan dari seluruh negara anggota NATO, kini lebih penting dari sebelumnya,” ujar Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte.
Pemerintah Inggris menyatakan telah memulai proyek bernama “Nightfall”, yang bertujuan mengembangkan dengan cepat rudal balistik darat jenis baru untuk Ukraina, guna menyerang target Rusia di kedalaman wilayahnya.
Rudal tersebut mampu membawa hulu ledak seberat 200 kilogram dengan jangkauan lebih dari 500 kilometer. Selain itu, Kyiv juga akan menerima lima unit kendaraan tempur infanteri KF41 “Lynx” buatan Jerman.
Sementara itu, negara-negara Uni Eropa sedang membahas penerapan paket sanksi ke-20 terhadap Moskow. Sanksi sebelumnya terutama menargetkan sektor energi Rusia. Pada Senin, Swedia menyatakan bahwa paket sanksi berikutnya seharusnya mencakup larangan total bagi perusahaan-perusahaan Eropa untuk memberikan layanan kepada kapal Rusia yang mengangkut minyak, gas alam, dan batu bara; pemberian sanksi terhadap pupuk Rusia; serta penghentian ekspor barang-barang mewah ke Moskow.
Bagi Kyiv, menyerang infrastruktur energi Rusia juga dipandang sebagai salah satu bentuk sanksi terhadap Rusia. Militer Ukraina merilis sebuah video yang menunjukkan serangan drone Ukraina terhadap tiga anjungan pengeboran milik perusahaan minyak Lukoil Rusia di Laut Kaspia. Ukraina menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk mendukung militer Rusia tersebut telah terkena serangan langsung, sementara tingkat kerusakan masih dalam tahap penilaian. (Hui)
Laporan gabungan oleh reporter New Tang Dynasty Television, Yi Jing.




