Airlangga menjelaskan implementasi B40 tetap berjalan sepanjang tahun ini. Adapun B50 membutuhkan kajian berkelanjutan dengan mempertimbangkan selisih harga fuel oil, bahan bakar minyak (BBM), serta harga kelapa sawit di pasar domestik dan internasional.
“Jadi tahun ini, arahan Pak Presiden (Prabowo Subianto) tetap B40. Untuk B50, kajian harus dilakukan terus-menerus,” kata Airlangga dikutip dari Antara.
Ia menegaskan kebijakan B50 tidak dibatalkan. Pemerintah tetap melanjutkan kajian teknis serta uji coba di sektor otomotif sambil memantau pergerakan harga dan kesiapan industri nasional dari hulu hingga hilir. Baca Juga:
Diprediksi Industri Otomotif Tahun Ini Masih Hadapi Tantangan Serupa
Menurut Airlangga pemerintah terus menghitung selisih harga biodiesel, BBM, dan kelapa sawit guna memastikan kebijakan campuran bahan bakar berjalan seimbang, menjaga pasokan energi, serta menopang stabilitas ekonomi nasional, termasuk industri otomotif, fiskal, dan daya saing nasional.
“Kita akan selalu melihat perbedaan harga antara harga fuel oil, harga BBM, dengan harga kelapa sawit, deltanya berapa. Kajian B50 diteruskan, uji coba otomotif juga lanjut. Jadi kita tergantung pada dinamika harga,” ujarnya.
Airlangga menyebut persiapan menuju B50 terus dilakukan. Namun, implementasinya bergantung pada skenario harga yang berkembang, dengan arahan Presiden saat ini tetap menjalankan kebijakan B40.
“Ya, kita siapkan menuju semester kedua, tetapi saat sekarang, dengan skenario harga yang ada, arahan Bapak Presiden tetap B40, namun siap untuk B50,” imbuh Airlangga. Baca Juga:
Kendaraan Listrik 'Mengancam' Pendapatan Daerah, Kok Bisa?
Sebagai informasi, biodiesel B40 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri atas 60 persen solar dan 40 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit. Program B40 menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong transisi menuju energi hijau dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)




