Cuaca Buruk Picu Harga Ikan Melonjak di Bone

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, BONE — Cuaca buruk yang melanda perairan Kabupaten Bone dalam sepekan terakhir memicu efek berantai yang berdampak langsung hingga ke dapur masyarakat setempat.


Aktivitas nelayan terganggu, pasokan ikan berkurang, dan harga ikan di pasar tradisional pun melonjak signifikan.


Kenaikan harga ikan tersebut dirasakan langsung oleh ibu rumah tangga di sejumlah pasar tradisional.


Salah satunya Darmawati (45), warga yang ditemui di Pasar Sentral Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat.


Ia mengaku terpaksa mengubah pola konsumsi keluarga akibat harga ikan yang terus merangkak naik.


“Ikan sekarang mahal sekali. Tuna sedang yang biasanya Rp50 ribu per ekor, sekarang sudah naik jadi Rp80 ribu,” ujar Darmawati saat ditemui usai berbelanja kebutuhan rumah tangga.


Tak hanya tuna, ikan kembung yang selama ini menjadi lauk harian juga mengalami kenaikan cukup tajam.


Menurutnya, harga ikan kembung yang biasanya Rp30 ribu per setengah kilogram kini naik menjadi Rp45 ribu dengan jumlah lebih sedikit.


“Kalau ikan kembung biasanya Rp30 ribu setengah kilo, itu bisa dapat 4 sampai 5 ekor. Sekarang sudah naik jadi Rp45 ribu setengah kilo,” katanya.


Kondisi tersebut memaksa Darmawati mencari alternatif lauk yang lebih terjangkau. Ia memilih telur karena dinilai lebih hemat dan bisa dikonsumsi lebih lama oleh keluarganya.


“Biasanya ikan itu dipakai makan sehari-hari. Tapi sekarang saya pilih telur saja karena lebih hemat,” jelasnya.


Ia menyebutkan satu rak telur seharga sekitar Rp50 ribu dapat mencukupi kebutuhan keluarga selama hampir sepekan. Pilihan serupa juga dilakukan warga lainnya di Bone.


“Sekarang jarang beli ikan, paling dua kali seminggu. Selebihnya masak telur atau tempe,” ujar Nur Aisyah (38), warga lainnya.


Lonjakan harga ikan ini diduga kuat dipicu cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang melanda perairan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Kondisi tersebut membuat banyak nelayan memilih menunda melaut demi keselamatan.
Berdasarkan pantauan di lapangan, tinggi gelombang laut dilaporkan mencapai hampir dua meter disertai angin kencang yang tidak menentu. Situasi ini berdampak langsung pada jumlah tangkapan nelayan.


“Saya hampir satu minggu tertahan di laut karena ombak tinggi dan angin kencang. Baru sekarang bisa sampai,” ujar nelayan Bajoe, Muh Rahman Bukhari.


Ia mengatakan hasil tangkapan ikan menurun drastis akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, sebagian besar nelayan memilih tidak melaut jika kondisi laut belum aman.


“Kalau hasil tangkapan berkurang sekali. Andai tidak tertahan di laut, saya pilih tinggal di darat dulu tunggu angin dan ombak turun,” katanya.


Nelayan lainnya, Basri, juga mengaku memilih bertahan di darat demi keselamatan jiwa.
“Daripada nyawa jadi taruhannya, lebih baik menunggu kondisi laut kembali aman,” tandasnya.(an)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alasan Manchester United Lebih Pilih Michael Carrick ketimbang Xabi Alonso Terungkap
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Menlu Sugiono Tegaskan Diplomasi Ketahanan sebagai Pilar Politik Luar Negeri Indonesia
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Menlu Sugiono Nilai Ekonomi Indonesia Masih Solid
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
Perpusnas laporkan realisasi anggaran tahun 2025 capai 98 persen
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Kendari Perkuat Stabilitas Harga dengan Gerakan Pangan Murah
• 14 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.