Emiten kontraktor pertambangan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Petrosea Tbk (PTRO), disebut berpeluang masuk ke dua indeks global utama, yakni Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan Financial Times Stock Exchange (FTSE), dalam waktu dekat. Tak hanya itu, harga saham PTRO juga diramal bisa melesat ke Rp 16.000.
Adapun MSCI akan mengumumkan hasil review pada 10 Februari 2026 dan FTSE akan menyusul pada 20 Februari 2026. Henan Putihrai Sekuritas menyebut kombinasi dapat memunculkan double-index catalyst window, sebuah fase di mana saham tidak hanya melonjak sesaat, tetapi perubahan struktural dalam basis investor dan kerangka valuasi.
Henan menilai, inklusi ke dalam indeks global memiliki karakter yang berbeda dibandingkan reli spekulatif jangka pendek. Masuknya suatu saham ke indeks acuan dunia menciptakan permintaan yang bersifat struktural karena dana pasif, ETF, serta manajer investasi berbasis benchmark wajib menyesuaikan komposisi portofolionya.
Ketika dua indeks global utama masuk secara berurutan, dampaknya ada dua. MSCI dinilai berpotensi memicu fase awal re-rating, sementara FTSE berperan sebagai penguat lanjutan yang memperpanjang momentum pergerakan saham.
Berdasarkan simulasi bobot saham dan assets under management (AUM) indeks terkait, Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan kombinasi MSCI dan FTSE dapat mendorong arus dana lebih dari US$ 300 juta ke saham PTRO. Aliran dana tersebut secara fundamental berpotensi memperluas basis investor global, meningkatkan likuiditas serta kedalaman pasar, sekaligus membuat pergerakan harga saham menjadi lebih responsif terhadap arus dana masuk.
“Secara historis, saham yang mendekati inklusi MSCI Standard hampir selalu mengalami re-rating sebelum pengumuman resmi karena investor global tidak menunggu konfirmasi, mereka melakukan pre-positioning,” ungkap Henan dalam risetnya, Rabu (14/1).
Secara historis, harga saham umumnya bergerak sekitar 10–15% di atas ambang batas kelayakan MSCI. Adapun untuk PT Petrosea Tbk (PTRO), ambang batas tersebut berada di kisaran Rp 13.050.
Dengan mengacu pada pola tersebut, arus dana berbasis indeks secara mekanis berpotensi mendorong harga saham ke rentang Rp 14.350 hingga Rp 15.000. Henan menekankan bahwa kenaikan harga dalam fase ini bukan didorong oleh perubahan laba atau kinerja operasional, melainkan oleh pergeseran rezim likuiditas dan permintaan saham.
“Dalam konteks ini, harga menjadi fungsi dari berapa banyak dana global yang harus membeli, bukan berapa besar laba perusahaan,” demikian tertulis dalam riset Henan.
Adapun faktor lainnya adalah waktu masuk FTSE yang berada setelah MSCI. Arus dana dari MSCI bakal membangun fondasi harga dan likuiditas, sementara FTSE hadir sebagai katalis lanjutan yang memperpanjang sekaligus memperkuat proses re-rating.
Pada fase ini, Henan menyebut PTRO mulai bergerak keluar dari kategori “saham lokal” dan masuk ke dalam peta alokasi investor global. Henan meramal nantinya saham PTRO tidak lagi dibandingkan dengan emiten domestik, melainkan mulai disejajarkan dengan peer internasional.
“Karena itu kami menilai bahwa kenaikan saham PTRO menuju Rp 15.000 bukanlah puncak, melainkan fase awal dari sebuah re-rating struktural,” ujarnya.
Dengan mempertimbangkan pola historis pre-positioning menjelang inklusi MSCI, potensi tambahan arus dana dari FTSE, serta ekspansi basis investor institusional global, Henan Putihrai Sekuritas merevisi target harga saham PTRO menjadi Rp 16.000.
Target harga tersebut mencerminkan nilai wajar yang terbentuk dari peningkatan likuiditas global dan permintaan saham yang bersifat wajib (forced demand), seiring masuknya dana berbasis indeks. Bukan karena laba perusahaan saat ini.
“PTRO sedang mengalami pergeseran identitas pasar: dari saham Indonesia menjadi aset global yang harus dimiliki oleh indeks,” kata lembaga sekuritas itu.



