Penulis: Arianto Panambang
TVRINews - Gorontalo
Faktor ekonomi dan ketidakstabilan domestik memicu peningkatan lebih dari 200 kasus sepanjang 2025 .
Tren keretakan rumah tangga di Provinsi Gorontalo mencatat grafik kenaikan yang mengkhawatirkan sepanjang tahun 2025.
Data terbaru dari Pengadilan Tinggi Agama (PTA) Gorontalo menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah perkara perceraian dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan resmi otoritas setempat, jumlah kasus perceraian yang ditangani meningkat dari 2.435 perkara pada tahun 2024 menjadi 2.880 perkara pada penghujung tahun 2025. Kenaikan ini mencerminkan adanya tekanan sosial dan ekonomi yang kian membebani institusi keluarga di wilayah tersebut.
Panitera Pengadilan Tinggi Agama Gorontalo, Drs. H. Rahmading, mengungkapkan bahwa klasifikasi perkara masih didominasi oleh cerai gugat permohonan yang diajukan oleh pihak istri. Meski demikian, cerai talak yang diajukan suami juga menunjukkan tren yang tidak sedikit.
Dalam keterangannya, Rahmading menyoroti persoalan finansial sebagai pemicu utama di balik keputusan pasangan untuk berpisah.
"Faktor ekonomi menjadi penyebab utama tingginya angka perceraian. Selain itu, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta kehadiran pihak ketiga juga turut memengaruhi keutuhan rumah tangga," ujar Rahmading saat menjelaskan rincian data tersebut.
Secara geografis, persebaran kasus tidak merata di seluruh provinsi. Pengadilan Agama Limboto mencatatkan beban perkara yang lebih tinggi dibandingkan Pengadilan Agama Gorontalo.
Kenaikan di wilayah Limboto mencakup kedua jenis perkara, baik gugatan dari pihak istri maupun talak dari suami, yang semuanya mengalami eskalasi signifikan.
Fenomena ini memicu kekhawatiran mengenai rapuhnya struktur sosial di tingkat domestik. Para ahli menilai bahwa angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal perlunya intervensi lintas sektoral untuk memperkuat ketahanan keluarga.
Penguatan edukasi pranikah dan pendampingan ekonomi keluarga dipandang sebagai langkah krusial untuk menekan angka perpisahan di masa depan, mengingat korelasi yang kuat antara stabilitas ekonomi dan keharmonisan rumah tangga.
Editor: Redaksi TVRINews





