Hesti Purwadinata menerima pesan ancaman setelah mengutarakan dukungannya kepada Aurelie Moeremans yang merilis memoar Broken Strings.
Pesan ancaman itu diterima Hesti melalui suaminya, Edo Borne. Isi pesan tersebut kemudian diunggah Aurelie di Instagram-nya.
"Gw tunggu feedback-nya, ya, bro. Gw lewat elu, karena gw masih respect sama lu sebagai suami Hesti, dan gw kenal elu juga. Tolong feedback-nya. Oke bro," bunyi pesan tersebut.
"Oke, do, gw sudah berusaha menjangkau kalian berdua, ya, tapi kelihatannya memang tidak direspons. Gw tunggu 1x24 jam, ya, bro. Kalau memang tidak ada respons, jadi gw tahu mesti menempuh jalur hukum apabila diperlukan," sambungnya.
Warganet menduga pesan tersebut datang dari aktor Roby Tremonty yang belakangan ini dituding sebagai sosok asli dari karakter Bobby dalam Broken Strings.
Menurut laporan detikhot, Rabu (14/1), Roby Tremonti mengakui sendiri bahwa ia yang mengirimkan pesan ke suami Hesti Purwadinata. Roby menjelaskan bahwa ia menghubungi Edo Borne lewat direct message (DM) Instagram dan WhatsApp.
"Do, gimana kabar? Gue dapat kabar dari teman gue, Hesti ikut-ikutan sebarin link bukunya Aurelie," ucap Robby membacakan pesannya ke Edo Borne.
Roby mengaku sakit hati melihat unggahan Hesti yang menurutnya, membenarkan cerita dalam buku tersebut. Ia juga keberatan dengan unggahan Hesti saat mendukung Aurelie. Di unggahannya, Hesti berharap sosok Bobby tidak lagi mendapatkan 'panggung' di industri hiburan.
"Wajar saya merasa sakit hati? Sangat wajar menurut saya. Hesti tahu orangnya, pernah syuting bareng dan kenal, dan memvalidasi, 'Aku sungguh berharap dia tidak pernah lagi diberi panggung'. Pekerjaan saya di dunia syuting, berarti kan pengen diboikot orangnya?," ungkap Roby.
Bintang film Tenung itu kemudian menjelaskan soal niatnya mengambil langkah hukum terkait unggahan Hesti Purwadinata.
"Saya mengatakan apabila diperlukan, bukan berarti saya pasti ke jalur hukum," pungkasnya.
Sebagai informasi, buku Broken Strings Aurelie Moeremans mengisahkan perjalanan hidup sang artis, termasuk pengalaman traumatis sebagai penyintas child grooming.



