GELOMBANG tinggi di perairan utara mengakibatkan ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah berhenti melaut dan terjadi paceklik, hingga banyak diantaranya terjerat pinjaman online ataupun bank titil (rentenir), Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang keluarkan program bagi nelayan.
Pemantauan Media Indonesia Rabu (14/1) akibat gelombang tinggi di perairan utara, ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah hingga kini berhenti melaut dan memilih menyandarkan kapal di sejumlah pelabuhan perikanan dan muara sungai, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka bekerja secara serabutan dan terjerat pinjaman online maupun bank titil.
"Musim baratan seperti ini kami memilih berhenti melaut, karena gelombang tinggi dan hadang disertai hujan badai hingga berisiko kecelakaan," ujar Jasmin,50, nelayan di Mangkang Kulon, Kita Semarang.
Baca juga : Gelombang Tinggi tidak Dapat Melaut Nelayan di Pantura Jawa Tengah Terjerat Rentenir
Hal serupa juga diungkapkan rasidi,40, nelayan di Tambaklorok, Kota Semarang bahwa akibat musim baratan ini nelayan pada umumnya berhenti melaut dan mengalami paceklik, sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup terpaksa bekerja serabutan atau mengandalkan pinhahsn dari bank titil. "Kalau sekarang banyak memanfaatkan pinjol," imbuhnya.
Ribuan nelayan di Pantura Jawa Tengah, ungkap Hanafi, nelayan lain di pelabuhan Bandengan, Kendal pada umumnya menggunakan perahu sopek berkapasitas paling besar 40 PK, sehingga ketika gelombang besar seperti saat ini dapat mencapai 3 meter sandar berisiko terjadi kecelakaan karena terbalik dihantam gelombang.
Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang Soenarto mengatakan menghadapi kondisi gelombang tinggi terjadi di perairan utara hingga nelayan terpaksa berhenti melaut dan kesulitan memenuhi kebutuhan, maka Pemkot Semarang telah menyiapkan program bagi para nelayan agar tidak terjerat punjaman dengan bunga tinggi.
Baca juga : Cuaca Ekstrem, Nelayan Bangka Diimbau Waspada Melaut
Salah satu program segera diluncurkan, lanjut Soenarto, adalah memberikan pekerjaan sampingan yakni budidaya ikan tawar, meskipun masih versiala kecil namun diharapkan para nelayan di Kota Semarang tetap bisa memperoleh penghasilan meski tidak melaut saat masa paceklik seperti sekarang ini
Menurut Soenarto Pemkot Semarang mengalokasikan anggaran sekitar Rp87 juta dari pengalihan beberapa kegiatan di Dinas Perikanan untuk mendukung program tersebut sehingga setiap nelayan akan menerima biaya sekitar Rp1,2 juta sebagai modal awal budidaya ikan tersebut.
"Meski masih berupa pilot project, program ini secara konseptual diharapkan dapat memberikan dampak positif dan menjadi embrio untuk pengembangan lebih besar," ujar Soenarto.
Mengingat lahan dimiliki oleh nelayan di Kota Semarang terbatas, ungkap Soenarto, maka Pemkot Semarang akan menerapkan sistem gorong-gorong beton, metode ini memungkinkan nelayan menaruh kolam di depan rumah dan tidak memerlukan kompetensi khusus tetapi tetap dapat memberikan hasil.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, selain meluncurkan program budidaya perikanan darat bagi nelayan, juga memberikan bantuan paket sembako kepada nelayan yang terdampak musim baratan hibggavtidakvdapat beraktivitas melaut.
"Kita juga akan menyiapkan strategi ekonomi alternatif agar nelayan tetap memiliki aktivitas produktif selama musim paceklik," tutur Agustina Wilujeng Pramestuti usai menyerahkan bantuan sembako kepada nelayan di Kawasan Tambak Mulyo, Kota Semarang. (H-2)





