Pohon randu alas raksasa di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, jadi pro kontra antara dipertahankan atau ditebang. Pohon direncanakan ditebang karena dinilai sudah mati, ranting pohon pun kerap jatuh.
Dosen Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS, Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, mengatakan randu alam merupakan pohon perindang. Fungsinya untuk menaungi karena tajuknya cukup tebal.
"Kalau menyimpan air, jelas. Cuma salah satu ciri dari pohon Randu itu, iya, dia memiliki percabangan yang cukup kuat, sehingga dia, itu kalau masih hidup, itu sangat jarang untuk ranting ataupun cabangnya itu patah. Jadi itu termasuk pohon yang kuat," kata Hatma saat dihubungi, Rabu (14/1).
Lantaran pohon yang kuat maka randu alas bisa berumur panjang hingga ratusan tahun. Termasuk seperti yang di Borobudur.
"Kalau secara alaminya itu rata-rata pertumbuhan diameter pohon itu ya sekitar 2 cm per tahun. Jadi dilihat saja itu nanti umurnya berapa bisa dihitung dari, dari situ," katanya.
Ciri-ciri Pohon Randu MatiWarga menilai pohon randu tersebut sudah mati karena kering, ranting kerap jatuh, dan kulit mengelupas. Menurut Hatma analisa warga itu sudah tepat.
"Ciri pohon mati di antaranya daunnya nggak ada, kemudian ranting, batang mulai mengering, terus kulit mulai mengelupas, itu kan ciri-ciri pohon mati. Jadi secara, secara visual itu bisa dilihat, ini pohon ini mati atau masih hidup," katanya.
"Sudah benar (pemahaman warga)," jelasnya.
Soal pro kontra menebang atau mempertahankan pohon ini, karena posisi pohon ada di tepi jalan dan dekat dengan pemukiman jika pohon mati biasanya ada kerapuhan-kerapuhan di batang, cabang, dan ranting.
Sehingga jika ranting tak dibersihkan, maka potensi mengganggu keamanan warga.
"Nah sisi kalau kemudian itu ada yang merasa perlu dipertahankan, itu memang yang pertama saya kira lebih bijak kalau kemudian dicek terkait dengan kondisi batangnya," katanya.
Pengecekan ini dapat dilakukan oleh ahlinya, contohnya tim vegetasi UGM. Dari situ akan diketahui mana saja batang yang kerowong, terkena jamur, dan bagian mana bagian yang harus ditebang.
"Ya, itu mungkin bisa minta bantuan ke tim vegetasi UGM untuk melihat kondisi pohonnya itu, apakah di dalamnya kerowong atau tidak. Kalau ternyata di dalamnya kerowong, maka itu potensi untuk dia rubuh itu sangat tinggi. Karena sangat tinggi (pohonnya)," katanya.
Apabila ada yang kerowong dan ingin dipertahankan maka dipotong cabang dan rantingnya. Sehingga batang masih bisa dipertahankan sebagai tetenger atau simbol.
"Batangnya itu masih bisa dipertahankan. Sebagai tetenger, lah, ya, sebagai tetenger atau sebagai simbol," katanya.
Namun tetap saja batang itu semakin lama akan membusuk. Maka pengecekan perlu dilakukan tiap hari. Ini sebagai cara menurunkan risiko ketika ingin mempertahankan batang pohon.
"Kalau memang dia ternyata risikonya terlalu tinggi, tidak bisa dipertahankan, ya, harus direlakan buat ditebang," Tapi kalau mau dijadikan sebagai monumen atau simbol bahwa ada tegakan itu, ya, harus dipastikan kondisinya masih mampu untuk tegak," bebernya.
Sebenarnya bisa saja batang pohon dipaksakan tegak dengan cara diberi penguat di batang supaya tak mudah goyang. Di negara-negara maju hal itu kerap digunakan untuk mempertahankan pohon yang besar.
"Saya setuju dipertahankan tapi faktor keselamatan dan risiko harus dipikir benar," katanya.
Soal Getah Menyerupai DarahSoal getah menyerupai darah ketika pemangkasan ranting pohon randu alas raksasa ini Hatma memberikan penjelasan. Getah ini tak bisa dikaitkan dengan hal-hal lain seperti soal mistis.
"Iya beberapa jenis itu kan memang getahnya macam-macam. Ya, ada yang berwarna ya. Ada yang putih, kemudian ada yang merah juga. Mungkin itu termasuk randu yang dia getahnya merah. Jadi ya itu alamiahnya saja," katanya.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472129/original/080701400_1768316309-WhatsApp_Image_2026-01-13_at_21.37.21.jpeg)

