TRIBUN-TIMUR.COM - Pembangunan rumah sakit kembali menjadi agenda penting di Sulawesi Selatan. P
emerintah Provinsi Sulsel tengah mempersiapkan dua rumah sakit regional di Luwu dan Gowa, sementara Kabupaten Maros mulai mengoperasikan RSUD Camba di wilayah dataran tinggi.
Di atas kertas, ini adalah kabar baik: layanan kesehatan didekatkan, jarak rujukan dipangkas, dan ketimpangan wilayah coba dikoreksi.
RS Regional Luwu akan melayani wilayah dengan populasi lebih dari 1,2 juta jiwa di Luwu Raya, sementara RS Regional Gowa berpotensi melayani warga di kawasan selatan Sulsel, Gowa, Takalar, dan Jeneponto, yang dihuni sekitar 1,6 juta jiwa.
Angka itu menunjukkan besarnya tanggung jawab sekaligus tantangan. Di level kabupaten, RSUD Camba di Maros mulai beroperasi sejak akhir Desember 2025.
Rumah sakit tipe D dengan 50 tempat tidur itu menjadi harapan baru bagi warga Camba, Cenrana, dan Mallawa, wilayah yang selama ini identik dengan jarak dan keterbatasan akses.
Meski masih terbatas dan belum melayani BPJS, RSUD Camba menandai upaya konkret mendekatkan layanan dasar, ditopang penguatan Puskesmas, bidan desa, dan sistem rujukan.
Namun, pengalaman publik mengajarkan satu hal penting: pembangunan fasilitas kesehatan tidak otomatis menghadirkan keadilan layanan.
RS Regional di Luwu dan Gowa adalah harapan. Tapi harapan itu hanya akan bermakna jika dibarengi reformasi layanan: administrasi yang sederhana, kepastian pelayanan BPJS, distribusi tenaga medis yang adil, serta pengawasan ketat agar rumah sakit tidak berubah menjadi monumen proyek semata.
Kesehatan bukan soal siapa paling megah membangun, melainkan sejauh mana negara benar-benar hadir saat warga paling rapuh. Di situlah ukuran sesungguhnya dari pemerataan. Wassalam!.


