Aktivitas fisik terbukti berperan penting dalam menurunkan risiko kanker. Sejumlah studi menunjukkan bahwa olahraga, termasuk yang berdurasi singkat namun intensif, dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, berkebun, atau membersihkan rumah juga berkontribusi dalam menurunkan risiko, terutama kanker usus.
Manfaat olahraga tidak hanya berlaku untuk pencegahan, tetapi juga bagi penyintas kanker. Aktivitas fisik sedang hingga berat setelah diagnosis kanker berkaitan dengan peningkatan kelangsungan hidup penyintas kanker. Selain itu, olahraga membantu mengendalikan berat badan dan menekan obesitas, salah satu faktor risiko kanker.
- Apa hubungan antara aktivitas fisik dan risiko kanker?
- Apakah aktivitas fisik berupa jalan kaki juga dapat memberi perlindungan dari kanker?
- Apakah aktivitas fisik juga bermanfaat bagi penyintas kanker?
- Bagaimana olahraga dapat membantu menurunkan faktor risiko kanker melalui mekanisme tubuh lainnya?
Hasil studi tim peneliti University of Newcastle, Inggris, bersama University of Wisconsin, Amerika Serikat, dan University of Nigeria di jurnal Cancer edisi Desember 2025 menemukan, olahraga intensif singkat dengan aktivitas fisik berat 10 menit saja dapat membantu memperlambat pertumbuhan kanker.
Para peneliti memperkirakan, aktivitas fisik teratur menurunkan risiko kanker usus sekitar 20 persen. Olahraga tak harus berarti latihan di pusat kebugaran atau olahraga berat. Berjalan atau bersepeda ke tempat kerja, bersama dengan aktivitas sehari-hari, seperti berkebun atau membersihkan rumah, juga bisa berkontribusi.
Olahraga singkat dan intensif dengan cepat mengubah komposisi molekul yang beredar di aliran darah. Pergeseran cepat ini tampaknya menekan pertumbuhan sel kanker, terutama sel kanker usus, sekaligus mempercepat perbaikan DNA yang rusak.
Selain itu, hasil studi tersebut menunjukkan olahraga tidak hanya bermanfaat bagi jaringan sehat, tetapi juga dapat menciptakan lingkungan yang lebih tidak ramah bagi sel kanker untuk tumbuh.
Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik yang teratur seperti berjalan kaki dapat menurunkan risiko kanker. Para peneliti menyarankan agar individu yang kurang aktif secara fisik dapat menurunkan risiko kanker mereka dengan memasukkan lebih banyak jalan kaki, dengan kecepatan apa pun, ke dalam rutinitas harian mereka.
Makin banyak langkah, berarti risiko kanker lebih rendah, terlepas dari seberapa cepat langkah itu diambil. Manfaat aktivitas fisik mulai terlihat pada sekitar 5.000 langkah per hari, dengan risiko kanker turun 11 persen pada 7.000 langkah per hari dan hingga 16 persen pada 9.000 langkah per hari dibandingkan orang yang kurang aktif.
Temuan ini mendukung rekomendasi populer untuk mencapai 10.000 langkah sehari—tidak hanya untuk kesehatan umum, tetapi juga berpotensi untuk pencegahan kanker.
Memasukkan lebih banyak langkah ke dalam rutinitas harian, terutama di usia paruh baya, bisa jadi salah satu cara paling sederhana untuk menurunkan risiko terkena kanker tertentu. Pesannya jelas: kurangi duduk, perbanyak bergerak dan Anda bisa berjalan menuju kesehatan yang lebih baik.
Olahraga juga bermanfaat bagi penyintas kanker. Aktivitas fisik sedang hingga berat setelah diagnosis kanker dikaitkan dengan peningkatan kelangsungan hidup. Penyintas kanker yang tetap aktif menunjukkan risiko kematian keseluruhan dan risiko kematian khusus kanker yang lebih rendah dibanding yang tidak aktif.
Jumlah olahraga yang disarankan adalah 7,5 jam hingga di bawah 15 jam Metabolic Equivalent of Task (MET) per minggu, setara dengan 2,5-5 jam jalan cepat per minggu.
Hasil studi menunjukkan bahwa pasien yang melakukan olahraga sedang hingga berat setelah diagnosis kanker memiliki kelangsungan hidup secara keseluruhan yang lebih baik.
Efek pengobatan kanker dapat membuat Anda lelah secara fisik dan mental. Hal ini dapat membuat olahraga terasa seperti tugas berat, tetapi melakukan sedikit olahraga lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali. Menemukan olahraga yang kita sukai atau berolahraga bersama teman dapat membuatnya lebih mudah dilakukan.
Selain aktivitas fisik, gaya hidup sehat, seperti konsumsi pangan sehat dan menghindari rokok serta alkohol, juga direkomendasikan bagi penderita kanker.
Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya kanker meliputi antara lain, memiliki genetik dengan kanker, menerapkan pola diet tidak sehat, merokok, dan obesitas. Meski begitu, hanya sekitar 5 persen kanker diakibatkan oleh faktor genetika, sedangkan selebihnya karena lingkungan.
Oleh karena itu, selain perlu menjalani deteksi dini, orang-orang yang memiliki faktor risiko tersebut juga perlu membiasakan diri untuk berolah raga secara rutin.
Hal ini disebabkan olahraga membantu mengontrol berat badan dan mengurangi obesitas, salah satu faktor risiko kanker. Obesitas dikaitkan dengan peningkatan kadar insulin dan peradangan yang memicu perkembangan kanker. Oleh karena itu, aktivitas fisik yang membantu menjaga berat badan ideal turut menurunkan risiko kanker.
Risiko kanker pada usia muda makin besar karena banyak generasi muda menerapkan gaya hidup tak sehat. Kesadaran menjalankan pola diet sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta rutin beraktivitas fisik masih rendah. Angka obesitas pada usia muda pun terus meningkat.





