Pusing! Trump Bikin Dunia Berantakan, Dagang Makin Susah

cnbcindonesia.com
14 jam lalu
Cover Berita
Foto: Presiden Trump berbicara saat makan malam penggalangan dana di sebuah ballroom sambil memegang model lengkungan yang rencananya akan dibangunnya. (Kevin Dietsch/Getty Images)

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Dunia alias World Bank memperkirakan semakin lemahnya aktivitas perdagangan dunia pada 2026, efek lanjutan dari kebijakan tarif resiprokal tinggi yang diterapkan pemerintahan Amerika Serikat (AS) kepada negara-negara mitra dagang utamanya.

Dalam Global Economic Prospect (GEP) edisi Januari 2026, Bank Dunia meramal, pertumbuhan perdagangan global dalam bentuk barang dan jasa akan melambat pada tahun ini, dari dari 3,4 persen pada 2025 menjadi 2,2 persen pada 2026, seiring meredanya praktik front-loading yang sebelumnya menopang perdagangan pada 2025.

Baca: Investor Tenang! Airlangga Pastikan Defisit APBN 2026 Tak Lampaui 3%

Istilah front loading ini untuk menggambarkan permintaan tinggi importir AS terhadap barang dan jasa setelah Trump memberlakukan tarif resiprokal tinggi ke negara-negara mitra dagang utamanya, dan menunda pelaksanaan penerapan tarif untuk ruang negosiasi selama 90 hari dan diperpanjang hingga awal tahun ini.


"Pertumbuhan perdagangan global pada 2025 tercatat 1,6 poin persentase lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan pada Juni, yang mencerminkan penimbunan persediaan yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.," kata Bank Dunia dalam laporan terbarunya itu, dikutip Kamis (15/1/2026).

"Sebaliknya, berakhirnya dorongan sementara tersebut, bersama dengan dampak tarif yang tertunda, telah menyebabkan revisi penurunan sebesar 0,2 poin persentase terhadap proyeksi pertumbuhan perdagangan pada 2026," tegas Bank Dunia.

Pada 2027, pertumbuhan perdagangan diperkirakan Bank Dunia akan menguat menjadi 2,7%, sejalan dengan pertumbuhan output global akibat berkurangnya dampak kenaikan tarif dan meredanya ketidakpastian kebijakan.

Baca: Setelah 32 Tahun Lamanya, Akhirnya RI Punya Proyek Kilang Minyak Baru!

Negara-negara dengan tujuan ekspor yang lebih terdiversifikasi diperkirakan akan mengalami pertumbuhan perdagangan yang lebih kuat. Tarif yang berlaku hingga akhir 2025 diasumsikan tetap berlaku sepanjang periode proyeksi.

Meski begitu, Bank Dunia memperkirakan, prospek perdagangan tetap dibayangi oleh risiko penurunan yang signifikan.

Terutama karena meski ada kemajuan dalam perundingan perdagangan dan terbatasnya aksi balasan telah membantu meredakan ketegangan sejak pertengahan 2025, ketidakpastian masih berlanjut terkait pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan terbaru serta arah hubungan perdagangan di antara negara-negara ekonomi utama.

"Terdapat risiko besar bahwa ketegangan perdagangan dapat kembali meningkat, khususnya karena tarif yang lebih tinggi berpotensi mengalihkan ekspor ke negara ketiga, sehingga produsen domestik di negara-negara tersebut akan mencari perlindungan dari meningkatnya persaingan impor," kata Bank Dunia.

Selain itu, Bank Dunia juga memperingkatkan, peningkatan ketegangan geopolitik dan penggunaan sanksi sekunder yang lebih luas dapat semakin menekan perdagangan global.

Dengan melemahnya aktivitas perdagangan dunia, World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat pada 2026 dibanding 3 tahun terakhir. Imbas dari tak kondusifnya iklim perdagangan global akibat ketegangan geopolitik dan perang dagang, hingga lemahnya konsumsi masyarakat dunia.

Dalam GEP edisi Januari 2026, World Bank meramal pertumbuhan ekonomi dunia hanya akan mencapai titik 2,6%. Titik proyeksi terbaru ini menjadi yang terendah dibanding realisasi 2023 dan 2024 sebesar 2,8%, dan estimasi 2025 di level 2,7%. Adapun proyeksi untuk 2027 akan kembali meningkat ke level 2,7%.

Bila proyeksi pertumbuhan ini menjadi kenyataan, World Bank menganggap dekade 2020-an berada di jalur pertumbuhan untuk dekade dengan pertumbuhan global terlemah sejak 1960-an.

"Dalam beberapa tahun ke depan, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh lebih lambat dibandingkan dekade 1990-an yang penuh gejolak-sementara menanggung tingkat utang publik dan swasta yang mencapai rekor," ujar Indermit Gill, Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan World Bank Group saat merilis laporan GEP terbaru, dikutip Kamis (15/1/2025).

World Bank mencatat, pada 2025 pertumbuhan ditopang oleh lonjakan perdagangan menjelang perubahan kebijakan tarif resiprokal Trump, serta penyesuaian cepat dalam rantai pasok global. Namun, dorongan ini mereka anggap akan memudar pada 2026 seiring melemahnya perdagangan dan permintaan domestik.

Meski demikian, pelonggaran kondisi keuangan global dan ekspansi fiskal di sejumlah negara besar dapat membantu meredam perlambatan, sehingga World Bank sebetulnya merevisi ke atas laju pertumbuhan untuk 2026 ini sebesar 0,2% poin dibanding proyeksi pada Juni 2025. Sebagaimana revisi ke atas untuk pertumbuhan 2025 sebesar 0,4% poin dan 2027 yang sebesar 0,1% poin.


(arj/mij)
Saksikan video di bawah ini:
Video: 2026, Pertumbuhan Ekonomi India Diperkirakan Tumbuh 7,4%

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Diduga Jadi Perantara, KPK Klaim Kantongi Bukti Aliran Uang Kasus Kuota Haji ke Ketua Bidang Ekonomi PBNU
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemerintah Terbitkan 156 Izin Prodi Spesialis Kedokteran Baru, Tambah 3.150 Mahasiswa FK
• 47 menit laluliputan6.com
thumb
Beda Arah Pasar Saham vs Pasar Uang, IHSG Rekor 9.000 Kala Rupiah Terpuruk
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Kenali Ciri-Ciri Kampas Kopling Mobil Aus
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
7 Hal yang Harus Dilakukan saat Terjadi Banjir
• 2 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.