Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Saat ini, masyarakat tengah di hebohkan dengan isu penyakit superflu. Informasi yang beredar luas di media sosial tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama karena dikaitkan dengan gejala flu berat serta potensi penularan yang cepat.
Menanggapi kondisi tersebut, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh istilah yang tidak memiliki dasar medis.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Debi Intan, menegaskan bahwa istilah superflu tidak dikenal dalam diagnosis penyakit apa pun.
“Kita tekankan di sini bahwa sebenarnya istilah superflu itu tidak ada di dalam diagnosa penyakit apa pun. Jadi superflu yang berkembang di masyarakat ini sebenarnya adalah influenza musiman yang sama seperti influenza-influenza sebelumnya,” ujar Debi Intan kutip Kamis, 15 Januari 2026.
Debi menjelaskan, influenza yang saat ini banyak dialami masyarakat merupakan Influenza A H3N2 sub-clade K. Menurutnya, virus tersebut bukan merupakan varian baru dan telah lama dikenal sebagai influenza musiman yang sering muncul saat perubahan cuaca.
“Tidak ada varian baru. Ini adalah Influenza A H3N2 sub-clade K, dengan gejala yang sama seperti flu pada umumnya, seperti demam, menggigil, batuk, pilek, dan nyeri menelan,” jelasnya.
Terkait penanganan, Debi memastikan pengobatan influenza ini tidak berbeda dengan flu biasa. Penanganan dilakukan secara simtomatis, yakni berfokus pada pengobatan gejala yang dialami pasien
“Pengobatannya lazimnya sama semua. Kalau demam kita obati demamnya dengan penurun panas, kalau batuk kita obati batuknya, kalau nyeri menelan kita obati nyeri menelannya. Jadi pada dasarnya pengobatan influenza ini untuk mengatasi gejala klinis yang ada,” ungkap Debi.
Sudinkes Jakarta Selatan juga mengingatkan adanya kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap infeksi influenza, yakni anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit kronis dan gangguan sistem kekebalan tubuh.
“Influenza ini menyerang imunitas tubuh. Jadi yang paling rentan itu adalah anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis dan gangguan penurunan imunitas seperti HIV dan penyakit autoimun lainnya,” kata Debi.
Hingga saat ini, Sudinkes Jakarta Selatan memastikan belum ditemukan kasus Influenza A di wilayah Jakarta Selatan maupun secara umum di Provinsi DKI Jakarta.
“Pada saat ini dapat dipastikan belum ada temuan kasus influenza tipe A di Jakarta Selatan. Jadi yang disebut-sebut sebagai superflu itu sebenarnya tidak ada, baik di Jakarta Selatan maupun di DKI Jakarta,” tegasnya.
Meski demikian, seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta Selatan telah disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus influenza, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan.
“Hampir seratus persen fasilitas kesehatan kita siap melayani kasus influenza. Penanganan awal bisa dilakukan di puskesmas dan jika diperlukan akan dirujuk ke rumah sakit,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menghimbau masyarakat untuk terus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS.
Upaya tersebut meliputi kebiasaan mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, berolahraga, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan atau ketika kondisi tubuh sedang kurang fit.
“Pencegahannya yang selalu kita gaungkan adalah PHBS. Rajin mencuci tangan, makan bergizi, istirahat cukup, olahraga, dan memakai masker di tengah kerumunan atau saat kondisi tubuh kurang fit,” imbaunya.
Debi menambahkan bahwa influenza merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dan dicegah apabila ditangani sejak dini.
Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan apabila mengalami gejala flu yang berkepanjangan.
“Penyakit ini bisa disembuhkan dan dicegah. Yang penting adalah deteksi dini dan pencegahan sejak awal, sehingga tidak jatuh ke kondisi yang lebih berat,” pungkasnya.
Editor: Redaktur TVRINews





