Child Grooming Kejahatan Halus yang Merusak Masa Depan Anak

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Child grooming tidak selalu dimulai dengan kekerasan, ancaman, atau paksaan. Sebaliknya, ia sering muncul dalam bentuk perhatian, kedekatan emosional, dan rasa aman palsu yang dibangun secara bertahap. Oleh karena itu, banyak orang tua, pendidik, bahkan aparat penegak hukum terlambat menyadari bahwa seorang anak sedang mengalami kekerasan seksual.

Child grooming menjadi populer di era digital. Pelaku dapat dengan mudah mendekati anak melalui media sosial, game daring, dan aplikasi percakapan. Mereka datang sebagai "teman", "kakak", atau individu yang seolah-olah paling memahami perasaan anak daripada sebagai orang asing yang mencurigakan. Tidak ada yang instan dalam proses ini. Pelaku mempelajari kebiasaan anak, mencari celah emosional, dan secara bertahap membangun kemandirian.

Sifat manipulatif child grooming membuatnya berbahaya. Anak-anak seringkali tidak merasa mereka adalah korban. Mereka merasa dipilih, diperhatikan dan dipercaya. Ketika hubungan itu mulai mengarah pada sesuatu yang berbau seksual, anak biasanya sudah dalam kondisi konten psikologis yang buruk. Ada rasa takut kehilangan, rasa bersalah, dan rasa bingung.

Sayangnya, child grooming masih sering diremehkan dalam masyarakat kita. Banyak orang dewasa yang menggambarkannya sebagai "hanya chat", "hanya bercanda", atau "hanya anak yang terlalu aktif di media sosial." Perspektif ini menimbulkan risiko. Selain itu, negara harus menjadi lebih progresif dalam mengenali dan menangani tindakan kriminal ini. Aparat penegak hukum, pendidik, dan pekerja sosial harus memahami pola dandan. Agar anak tidak terluka lagi oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka, sangat penting untuk menangani korban dengan hati-hati.

child grooming adalah kejahatan yang tidak dibicarakan, tetapi dampaknya tidak pernah hilang bagi korbannya. Ia meninggalkan luka yang nyata, meskipun seringkali tidak terlihat. Sudah saatnya kita berhenti melihat masalah ini sebagai hal yang kecil. Melindungi anak bukan hanya tentang menanggapi kejahatan ketika terjadi, tetapi juga tentang mengetahui tanda-tanda sebelum terlambat.

Dari segi hukum, Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual untuk melindungi anak dari kejahatan seksual. Tetapi pembuktian dan pemahaman adalah masalahnya. Karena grooming tidak selalu menimbulkan kerugian fisik yang kasat mata, tetapi juga sesuatu hal yang sulit untuk diidentifikasi seperti dampak psikologis yang dapat sangat lama dan berkelanjutan.

Anak-anak yang berisiko mengalami trauma, gangguan kepercayaan, dan bahkan kesulitan membangun hubungan yang baik di masa depan. Lebih ironis lagi, banyak korban yang sebenarnya disalahkan. Pertanyaan seperti "kenapa mau?", "kenapa tidak menolak?", atau "kenapa tidak cerita dari awal?" masih sering didengar. Padahal, tujuan grooming adalah membuat korban merasa tidak dapat menolak.

Masalah child grooming tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum. Pencegahan justru menjadi penting. Literasi digital orang tua dan anak sangat penting. Anak-anak harus diajarkan bahwa tidak semua perhatian itu aman, bahwa orang-orang yang baik di layar tidak benar-benar baik, dan bahwa mereka berhak mengatakan tidak tanpa merasa bersalah.

Sebaliknya, orang tua dan lingkungan sekitar harus menyediakan tempat yang aman di mana anak dapat bercerita. Anak-anak yang merasa didengarkan dan dihormati akan lebih berani mengatakan hal-hal yang membuat mereka tidak nyaman. Benteng pertama yang paling efektif melawan child grooming adalah hubungan yang hangat dan terbuka.

Selain itu, negara harus menjadi lebih progresif dalam mengenali dan menangani tindakan kriminal ini. Aparat penegak hukum, pendidik, dan pekerja sosial harus memahami pola-pola ini. Agar anak tidak terluka lagi oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka, sangat penting untuk menangani korban dengan hati-hati. Karena anak-anak pada akhirnya tidak membutuhkan dunia yang sempurna; mereka hanya membutuhkan dunia yang mau menjaga mereka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wapres Gibran Batal Kunjungi Yahukimo, Begini Penjelasan Pangdam Cenderawasih
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Wamen LH Ingatkan Jaga Kelestarian Alam Lewat Perintah Konstitusi demi Bangsa
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
BLACKPINK Umumkan Comeback Februari 2026, Rilis Teaser Perdana
• 6 jam laluinsertlive.com
thumb
Pulihkan Sawah Terdampak Bencana di Aceh, Mentan Amran Salurkan Benih dan Pupuk
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Generasi Z Nilai Pelestarian Alam Bentuk Bela Negara Non-Militer
• 15 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.