Teriknya cuaca Arab Saudi tak membuat Dokter Budi Prasetyo gentar untuk kembali melayani kesehatan jemaah haji. Ini adalah kali ketiga dokter spesialis anestesi RS Bhayangkara Bojonegoro ini terlibat sebagai tim kesehatan jemaah haji asal Indonesia.
Baginya, melayani jemaah adalah sebuah pengabdian dan menabung kebaikan.
"Jadi gini, kita nggak tahu ya mungkin nanti saat dihisab, dari tangan-tangan merekalah kita ditarik masuk surga, karena kita sudah melayani mereka," kata pria yang akrab disapa Tyo, Kamis (15/1), sambil memamerkan fotonya saat melayani jemaah haji lansia.
kepada kumparan, Dokter Tyo menceritakan pengalamannya sebagai petugas Haji.
Apa yang jadi motivasinya, sehingga ia mau tiga kali jadi petugas haji? Dan seperti apa pesannya kepada para calon jemaah haji? Simak tanya-jawab kumparan dengan dokter Tyo.
Dok, ini tahun ke berapa menjadi petugas haji?
Alhamdulillah, ini Insyaallah tahun ketiga. Saya tugas tahun 2023 sebagai TKHK (Tenaga Kesehatan Haji Khusus), petugas kesehatan yang membersamai waktu itu saya kloter 22. Kemudian tahun 2024, saya sebagai PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) sektor, waktu itu saya sektor 9 Daker (daerah kerja) Makkah. Insyaallah ini tahun 2026 sebagai petugas juga.
Sudah mau tiga kali ya Dok, kenapa ketagihan?
Sekali kita tugas kita akan merasakan bagaimana kita bisa melayani tamu Allah. Jadi tugas sebagai PPIH itu kita dapat dua hal: bertugas dan beribadah. Tugas kita tentunya melayani tamu Allah, jemaah haji, terutama banyak yang lansia ya, itu seperti kita lagi melayani orang tua kita sendiri, merawat orang tua kita sendiri.
Kemudian dapat ibadahnya apa? kan kita selalu membersamai jemaah tuh, ke mana jemaah pergi kita ikut. Jadi insyaallah apa yang jemaah lakukan, kita juga akan lakukan.
Tapi tentu saja, sebagai petugas tetap kita harus meluruskan niat kita, meluruskan mindset kita, bahwa kita tugas itu ya untuk melayani tamu Allah bukan untuk ibadah. Selain itu, ketika kita melayani tamu Allah tidak semua orang dapat kesempatan ini.
Jadi gini, kita nggak tahu ya mungkin nanti dihisab, dari tangan-tangan merekalah kita ditarik masuk surga, karena kita sudah melayani mereka, memberikan yang terbaik buat mereka, bismillah sih mudah-mudahan dapat berkah sebanyak-banyaknya sebagai petugas.
Dok, boleh diceritakan pengalaman paling berkesan selama menjadi petugas haji?
Semua hal sangat berkesan ya, terutama saya sesuai bidang saya. Saya dokter anestesi, saya selalu bekerja berdekatan dengan antara nyawa dan kehidupan sangat tipis batasnya ya. Dengan kemampuan saya, dengan skill saya, saya berusaha menolong jemaah yang dalam kondisinya gawat darurat. Sehingga nyawa mereka bisa terselamatkan.
Contohnya waktu kemarin 2024 itu saya kan sebagai PJ (penanggung jawab) sektor 9 Makkah, jadi itu ada sekitar 15 hotel yang harus kita ampu ya. Kalau misalnya ada kegawatan terkait misalnya henti jantung, henti napas, dari jemaahnya itu benar-benar butuh effort yang lumayan baik, itu secara fisik maupun pikiran.
Itulah mengapa petugas itu harus sehat, karena kita benar-benar tugas di sana itu butuh fisik yang prima, jangan sampai di sana petugas itu tidak bisa melayani Jemaah dengan baik.
Terakhir dok, apakah ada pesan untuk jemaah yang akan berhaji tahun ini?
Untuk para jemaah, pertama tetap jaga kesehatan ya, karena nanti di sana itu para jemaah harus sehat, biar ibadahnya lancar. Karena ibadah haji ini ibadah fisik. Karena ibadah fisik, maka jemaah sekarang harus sudah mulai latihan untuk beraktivitas, mulai jalan kaki pagi hari, mulai 1 Km, lama-lama ditingkatkan.
Karena di sana itu bisa jalan jauhnya berkilo-kilo, nanti ibadah pun ada rangkaiannya misalnya tawaf, sa'i itu harus jalan kaki. Tentunya untuk jemaah yang punya penyakit ada penyesuaian, tidak memaksakan diri.
Kedua, jemaah jangan terlalu beraktivitas yang tidak dibutuhkan. Contohnya mau berangkat nih, ada semacam walimatussafar, ada banyak orang yang datang ke rumah jemaah. Itu sebisa mungkin menjelang keberangkatan paling tidak seminggu sebelumnya selesai, biar kondisi fit karena nanti jemaah begitu mau berangkat ke embarkasi sampai nanti di Makkah maupun Madinah, nanti aktivitas fisik sudah banyak sekali. Jadi di Indonesia harus benar-benar memilah-memilih kegiatan mana yang diperlukan dan tidak diperlukan.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F09%2F08%2F42df8c2a1702269893f0f84ebea117ff-1000379410.jpg)


