pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi serta potensi kebijakan yang lebih akomodatif.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menyampaikan, IHSG menunjukkan tren positif sejak awal 2026, melanjutkan momentum dari tahun sebelumnya.
Pada Januari, IHSG bahkan mencatatkan rekor tertinggi dengan penutupan di level
8.944,8 pada Rabu, 7 Januari 2026.
“Menariknya, penguatan IHSG di awal 2026 terjadi di tengah data ekonomi yang relatif kurang
menggembirakan, mulai dari inflasi Desember yang tinggi, surplus neraca perdagangan yang
lebih rendah, hingga defisit fiskal yang melebar akibat penerimaan pemerintah yang masih
lemah,” ujar Rully dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis, 15 Januari 2026.
Baca juga: IHSG Pagi Ini Menguat, Sentimen The Fed Jadi Perhatian Pasar
Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pasar keuangan domestik. Sentimen risk-
off global mendorong penguatan indeks Dollar AS (DXY), yang berdampak pada depresiasi nilai tukar rupiah.
Rupiah bahkan pertama kalinya ditutup di atas level Rp16.800 per USD sejak April 2025. Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi semakin terbatas.
Kombinasi inflasi yang tinggi dan depresiasi rupiah menyebabkan Bank Indonesia memiliki
ruang yang sangat sempit untuk menurunkan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG)
20-21 Januari 2026.
“Dalam jangka pendek, arah kebijakan moneter akan sangat berhati-hati. Namun, pasar saham
tetap bergerak positif karena pelaku pasar melihat prospek ekonomi yang lebih baik ke depan,
terutama jika kebijakan moneter dan fiskal dapat diselaraskan,” jelas Rully. Pertumbuhan ekonomi Indonesia Menurutnya, dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan meningkat
menjadi 5,3 persen pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1 persen pada 2025. Momentum ini akan sangat bergantung pada efektivitas kebijakan fiskal dalam mendorong belanja produktif dan menjaga keberlanjutan pertumbuhan.
“Keselarasan kebijakan moneter dan fiskal akan menjadi salah satu faktor kunci yang mendukung
target IHSG 10.500. Jika likuiditas terjaga dan stimulus fiskal berjalan efektif, pasar akan memiliki
fondasi yang lebih kuat,” tambahnya.
Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan dan kepastian arah ekonomi akan memperkuat kepercayaan investor. Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong saham-
saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS, dengan potensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah ketidakpastian
geopolitik.
“Selain komoditas, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga berpotensi menjadi pendorong IHSG, didukung oleh pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi
jaringan yang berkelanjutan,” tutur Rully.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)





