Gelombang Tinggi di Papua Ancam Kapal Kecil hingga Tonase Besar 

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAYAPURA, KOMPAS - Gelombang tinggi 2,5 meter hingga 4 meter melanda sejumlah kawasan di perairan Papua. Tidak hanya di laut tapi juga sungai. Hal ini sangat rawan menganggu pelayaran kapal kecil hingga bertonase besar.

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura Heri Purnomo mengatakan, cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir ini merupakan dampak tidak langsung bibit siklon tropis 91W. Bibit siklon ini terbentuk pada 12 Januari 2026 di Samudra Pasifik atau sebelah utara Papua Barat Daya.

Akibatnya, perairan utara Papua turut dihantam gelombang tinggi hingga 2,5 meter. Bahkan, di beberapa wilayah tercatat gelombang tinggi hingga 4 meter.

Adapun kecepatan angin berkisar 4-30 knot atau 7-56 km per jam. Kecepatan angin tertinggi tercatat di perairan sekitar Biak, Jayapura, Serui-Waropen, serta Sarmi-Mamberamo.

“Hingga hari ini, gelombang dan kecepatan angin masih tinggi. Meskipun bibit siklon 91W mulai menjauh ke arah Filipina, dampaknya masih lumayan signifikan,” ujar Heri, Kamis (15/1/2026).

Berdasarkan peringatan harian Stasiun Meteorologi Maritim Jayapura, hingga 18 Januari 2026, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter masih berpotensi terjadi perairan utara Papua.

Baca JugaKecelakaan Laut di Perairan Utara Papua, Belasan Orang Masih Hilang

Sejauh ini, dampak cuaca ekstrem ini telah menghambat aktivitas pelayaran di Papua. Pada Selasa (13/1/2026), misalnya, kapal milik Pelni, KM Sinabung, menunda keberangkatan dari Pelabuhan Biak, Kabupaten Biak Numfor menuju Pelabuhan Jayapura, Kota Jayapura.

Penyebabnya, kemunculan angin dengan kecepatan hingga 30 knot dan gelombang setinggi 3-4 meter. Setelah tertunda 13 jam, kapal berbobot belasan ribu gross ton ini baru diberangkatkan pada Rabu (14/1/2025).

Sementara itu, di Jayapura, Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) setempat mengeluarkan imbauan larangan berlayar untuk kapal perintis. Imbauan dikeluarkan sejak 12 Januari 2026 berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

“Hari ini kami mendapat informasi dari BMKG, situasi gelombang dan angin mulai melandai. Pelayaran untuk perintis juga seharusnya sudah bisa dibuka kembali,” ucap Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Laut dan Usaha Kepelabuhanan KSOP Jayapura Samuel Yabes.

Perahu nelayan

Cuaca yang sempat menghambat pelayaran kapal besar itu jelas sangat rawan mengancam perahu nelayan dan kapal kecil. Oleh karena itu, otoritas pelabuhan di Papua memantau ketat pelayaran perahu dan kapal itu.

Otoritas pelabuhan dan BMKG selalu mengimbau, kapal nelayan tidak dianjurkan berlayar jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter. Bila nekat, bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan yang tidak diinginkan semua pihak.

Baca JugaHampir Sepekan ”Speedboat” Terbalik di Kepulauan Yapen, 17 Orang Masih Hilang

Pada Selasa (13/1/2026), insiden perahu motor (speedboat) terbalik terjadi di perairan Kabupaten Waropen. Kapal bermuatan sembilan orang ini dihantam gelombang tinggi saat hendak berangkat dari Kampung Demba, Distrik Demba menuju ke pusat ibu kota Waropen.

Beruntung semua penumpang berhasil diselamatkan warga dan aparat kepolisian setempat. Namun, kerugian akibat kecelakaan ditaksir sekitar Rp 128 juta, termasuk harta benda milik penumpang.

Di Asmat, Papua Selatan perahu ketinting juga terbalik di muara Kali Asue, Distrik Atsj, Selasa (13/1). Kapal bermuatan tujuh penumpang dihantam gelombang tinggi.

Sebanyak enam penumpang berhasil diselamatkan. Adapun satu penumpang bernama Abraham Aitu (50) masih dalam pencarian.

“Di sekitar lokasi kejadian angin masih bertiup cukup kencang dengan gelombang 0,5-1 meter. Sementara itu, saat air pasang di muara sungai, ketinggian gelombang bisa mencapai 2 meter,” ujar koordinator Pos SAR Asmat, Wagianto.

KOMPAS
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi selama libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Kemunculan bibit siklon tropis di selatan Pulau Jawa diperkirakan dapat memicu hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi, yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk wisatawan yang tengah berlibur.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Realisasi PSO Laut 2025 Capai Rp5,04 Triliun, Layani Penumpang hingga Ternak
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Sosok Kombes M Anwar Nasir Calon Jenderal Asal Palopo, Letting Brigjen Faizal di Akpol
• 15 jam lalutribuntimur.com
thumb
Ratu Sofya Akui Gaji Syuting Habis untuk Orang Tua hingga Sepupu, Sang Bunda Unggah Sindiran Pedas
• 4 jam laluintipseleb.com
thumb
Apresiasi Karya Jurnalis Nasional, PNM Gelar Pameran Foto Perempuan Lentera Kehidupan di MRT Bundaran HI
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Senegal vs Mesir di Semiifinal Piala Afrika, Pelatih Menatap Laga dengan Rasa Hormat
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.