Waspada! Ini Ciri Pelaku Child Grooming yang Mengincar Anak di Dunia Nyata dan Online

mediaindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita

KASUS pelecehan seksual terhadap anak kerap berawal dari pendekatan yang terlihat wajar dan penuh perhatian. Pelaku tidak selalu menggunakan kekerasan, melainkan membangun kedekatan emosional secara perlahan hingga anak merasa aman dan percaya. Pola inilah yang dikenal sebagai child grooming dan sering luput disadari oleh orang tua maupun lingkungan sekitar.

Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra A. Putranto, mengungkapkan bahwa masyarakat perlu memahami karakteristik pelaku child grooming guna mencegah anak menjadi korban pelecehan seksual, baik di dunia nyata maupun dunia digital.

Menurut Kasandra, pelaku child grooming umumnya membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan. Proses ini dapat terjadi di berbagai lingkungan, termasuk rumah, sekolah, hingga melalui media sosial dan platform daring.

Baca juga : Child Grooming vs Pedofilia, Beda tapi Sama-sama Ancaman Serius bagi Anak

“Pelaku sering kali membangun hubungan emosional dengan anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka, yang dapat terjadi di mana saja, baik di dunia nyata maupun di dunia maya,” ujar Kasandra dilansir dari Antara, Kamis (15/1).

Ciri-Ciri Pelaku Child Grooming

Kasandra menjelaskan bahwa pelaku child grooming biasanya memiliki sifat manipulatif dan sangat terampil dalam manipulasi emosional. Mereka mampu membangun kepercayaan tidak hanya dengan anak, tetapi juga dengan orang dewasa di sekitarnya.

Pelaku kerap menunjukkan empati dan perhatian yang berlebihan kepada anak untuk menciptakan kesan peduli dan memahami kebutuhan korban. Selain itu, mereka umumnya memiliki kemampuan sosial yang baik, sehingga mudah disukai dan dipercaya.

Baca juga : Waspadai Child Grooming, Kenali Karakteristik dan Manipulasi Pelaku pada Anak

“Pelaku mungkin menunjukkan minat yang tidak biasa terhadap aktivitas anak-anak, seperti bermain gim, berolahraga, atau hobi anak lainnya,” kata Kasandra.

Tak jarang, pelaku juga berupaya menyembunyikan niat jahat dengan berbagai cara agar aksinya tidak terdeteksi. Meski demikian, sebagian pelaku diketahui memiliki riwayat pelecehan seksual atau perilaku menyimpang di masa lalu.

Siapa Saja yang Bisa Menjadi Pelaku?

Kasandra menekankan bahwa pelaku child grooming tidak selalu orang asing. Orang dewasa yang dikenal anak, seperti anggota keluarga, guru, atau pihak lain yang memiliki akses dekat dengan anak, juga berpotensi menjadi pelaku.

Selain itu, dalam beberapa kasus, remaja atau anak yang lebih tua dapat melakukan grooming terhadap anak yang lebih muda. Media sosial, aplikasi pesan instan, dan platform gim daring juga sering dimanfaatkan pelaku untuk menjalin kedekatan dengan korban.

Bahkan, pekerja sosial atau konselor dapat menyalahgunakan posisi dan kepercayaan mereka untuk melakukan tindakan grooming.

Anak yang Rentan Menjadi Target Grooming

Menurut Kasandra, pelaku biasanya menargetkan anak-anak yang merasa kesepian, terisolasi, atau kurang memiliki teman. Anak dengan kepercayaan diri rendah, mengalami masalah di rumah, memiliki pengetahuan terbatas, serta aktif di media sosial juga lebih rentan menjadi korban.

Setelah mengenali karakteristik korban, pelaku akan meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan dan ikatan emosional sebelum mengarahkan hubungan ke arah yang lebih berbahaya.

Pelaku sering memberikan perhatian berlebihan dan pujian, membuat anak merasa istimewa dan aman. Hal ini mendorong anak untuk berbagi informasi pribadi dan rahasia.

“Pelaku dapat menggunakan teknik manipulasi seperti gaslighting untuk membuat anak meragukan diri sendiri, mengisolasi korban dari teman dan keluarga, sehingga anak semakin bergantung secara emosional pada pelaku,” jelasnya.

Proses Grooming Bisa Berlangsung Lama

Kasandra menambahkan bahwa proses child grooming dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga bertahun-tahun, tergantung pada strategi pelaku dan kecepatan dalam membangun kepercayaan.

Pelaku umumnya bersabar dan menciptakan hubungan yang kuat terlebih dahulu sebelum melakukan eksploitasi terhadap anak. (Ant/Z-10)

 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Liga Italia Como vs AC Milan Dini Hari Nanti: Ujian Konsistensi Rossoneri
• 21 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Stimulus Rp110,7 Triliun, Pemerintah Pacu Ekspor Tekstil
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sedang Berlangsung! Live di ANTV: Duel Inter Milan vs Lecce, La Beneamata Pertahankan Capolista?
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Bojan Hodak Ogah Tenggelam dalam Euforia usai Persib Juarai Paruh Musim Super League
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Libur Isra Mikraj, 37 Ribu Penumpang Tinggalkan Jakarta dengan Kereta Api
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.