Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) mencatatkan capaian penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) atau rumah subsidi sepanjang 2025.
Hingga 31 Desember 2025, realisasi FLPP mencapai 278.868 unit rumah, dengan mayoritas penerima berasal dari generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial.
"Kami melaporkan bahwa pada tahun 2025 kami mencatatkan capaian tertinggi sepanjang sejarah FLPP, dengan angka realisasi sebesar 278.868," ujar Komisioner BP Tapera Heru Pudyo Nugroho, dalam konferensi pers di Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Jakarta, Kamis (15/1).
Dari total realisasi tersebut, sebanyak 278.865 unit terdiri atas rumah tapak dan 3 unit rumah susun, dengan total nilai FLPP mencapai sekitar Rp 34,64 triliun. Capaian ini setara sekitar 80 persen dari target penyaluran FLPP 2025 sebesar 350.000 unit.
BP Tapera mencatat, berdasarkan usia penerima manfaat, kelompok usia 19-30 tahun menjadi yang paling dominan dalam mengakses KPR FLPP sekitar 62,03 persen. Secara total ada sebanyak 172.991 orang yang mengambil kredit rumah subsidi ini.
Sementara itu, kelompok usia 31-40 tahun tercatat sebanyak 74.538 orang atau 26,72 persen, dan usia di atas 41 tahun sebanyak 31.339 orang atau 11,23 persen.
Ia menilai capaian ini menunjukkan perubahan pola pikir generasi muda terhadap kepemilikan rumah. Menurut Heru, anggapan Gen Z dan milenial lebih memilih menyewa dibanding memiliki rumah tak terbukti dalam realisasi FLPP.
"Saya kira inilah yang harus kita dorong ke depan. Anggapan bahwa Gen Z dan milenial malas bergerak dan lebih memilih menyewa ternyata tidak terbukti. Sebanyak 62 persen penerima akses FLPP adalah milenial dan Gen Z," katanya.
Pekerja Swasta Mendominasi
Berdasarkan jenis pekerjaan, penerima FLPP paling banyak berasal dari sektor swasta. Tercatat sebanyak 205.330 orang atau 73,63 persen merupakan pekerja swasta.
Disusul wiraswasta sebanyak 39.218 orang atau sebesar 14,06 persen, PNS sebanyak 20.826 orang atau 7,47 persen, kategori lainnya 8.085 orang atau 2,90 persen, serta TNI/Polri sebanyak 5.409 orang atau 1,94 persen.
Dari sisi segmentasi profesi, buruh menjadi penerima FLPP terbanyak dengan 44.077 unit atau sekitar 16 persen dari total realisasi, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp 5,44 triliun.
Disusul profesi lain-lain sebanyak 21.981 unit atau sebesar 8 persen, guru 3.193 unit, tenaga kesehatan masyarakat 1.499 unit, pegawai Polri 984 unit, perawat 860 unit, petani 733 unit, serta berbagai profesi lain seperti wartawan, pengemudi ojek online, nelayan, dan asisten rumah tangga.
Penyaluran FLPP tahun 2025 didukung oleh sekitar 42 bank penyalur. Sepuluh bank penyalur terbesar antara lain Bank Tabungan Negara (BTN) dengan 132.744 unit atau sekitar 47,60 persen dari total realisasi, BTN Syariah, BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Syariah Indonesia, BPD Jawa Barat dan Banten, BJB Syariah, BPD Sumsel Babel, serta Bank Sumsel Babel Syariah.
Dari sisi wilayah, Jawa Barat menjadi provinsi dengan realisasi FLPP tertinggi sebanyak 62.591 unit. Posisi berikutnya ditempati Jawa Tengah 24.470 unit, Jawa Timur 18.361 unit, Banten 18.966 unit, Sumatera Selatan 16.452 unit, Sumatera Utara 11.496 unit, Kalimantan Selatan 11.218 unit, Sulawesi Tenggara 9.055 unit, Kalimantan Barat 8.957 unit, dan provinsi lainnya dengan total 74.047 unit.
Untuk tahun 2026, BP Tapera menargetkan penyaluran FLPP minimal 350.000 unit.
"Pada tahun 2026, minimal kami diberi target untuk mencapai 350.000 unit [FLPP]. Maka kepada seluruh rekan-rekan asosiasi, mari terus semangat untuk berkompetisi dan memberikan yang terbaik dalam realisasi tahun 2026," ujarnya.
Heru menilai tingginya minat generasi muda menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan program perumahan subsidi ke depan.
"Ini membawa harapan baru bahwa pada tahun 2026, potensi market perumahan subsidi akan semakin berkembang," imbuh dia.




