Mata uang Garuda turun 31 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp16.896 per USD.
IDXChannel - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Kamis (15/1/2026). Mata uang Garuda turun 31 poin atau sekitar 0,18 persen ke level Rp16.896 per USD.
Rupiah berbalik arah melemah setelah sehari sebelumnya ditutup menguat ke Rp16.865 per USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menilai sentimen eksternal masih membayangi pergerakan mata uang, di mana ketegangan antara AS dan Iran kemungkinan mereda usai Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa dia mungkin akan menunda serangan terhadap Iran untuk sementara waktu.
"Kemudian, AS juga mengisyaratkan pembicaraan positif dengan Venezuela setelah pembicaraan Trump dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menggambarkan hal tersebut sebagai sangat positif," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Trump mengatakan diskusi mencakup minyak, mineral, perdagangan dan, tentu saja, keamanan nasional, dan mengeklaim pihaknya membuat kemajuan yang luar biasa, saat kami membantu Venezuela stabil dan pulih.
Kemudian, dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan dia tidak berencana memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meskipun ada penyelidikan yang sedang berlangsung, meredakan kecemasan investor atas independensi kebijakan moneter AS.
Sementara itu, Laporan Indeks Harga Produsen (PPI) di AS untuk Oktober menunjukkan harga produsen jauh dari target 2 persen Fed, namun para pedagang tetap yakin bahwa bank sentral akan memangkas suku bunga pada 2026.
Data lebih lanjut mengungkapkan bahwa penjualan ritel melebihi perkiraan, sebuah indikasi rumah tangga Amerika Serikat (AS) meningkatkan pengeluaran, sebagian besar untuk kendaraan bermotor dan lainnya.
Hari ini fokus pasar adalah Klaim Pengangguran Awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya.
Dari sentimen domestik, konsumsi rumah tangga hingga kini masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi nasional, dengan didominasi oleh kelas menengah. Namun, kelas menengah di Indonesia mengalami kondisi tertekan dan bergerak menuju ke kelompok rentan.
Ibrahim menilai, perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi.
Stimulus ekonomi pemerintah diketahui kerap kali lebih banyak digelontorkan untuk rumah tangga berpenghasilan rendah atau kelompok miskin. Di antaranya seperti bantuan sosial (bansos), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai (BLT).
Sementara untuk kalangan menengah, di antaranya yang baru-baru ini ditetapkan pemerintah yakni insentif pajak penghasilan (PPh) 21 bagi pekerja di sektor padat karya dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan.
Namun, stimulus itu baru diberlakukan bagi lima sektor, yakni industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta sektor pariwisata.
Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah. Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.840 - Rp17.000 per USD.
(NIA DEVIYANA)

:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Gemilang-Pagessa-dan-Chaidir-Syam.jpg)
