MANTAN Wakil Presiden Jusuf Kalla, Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo hadir dalam pengukuhan guru besar,Prof. Zainal Arifin Mochtar. Dalam pidatonya, Zainal mengungkapkan kegundahannya, terkait banyak lembaga negara baru yang lahir saat reformasi satu-persatu mengalami kemunduran bahkan berguguran.
Zainal menyampaikan pidato berjudul, Konservatisme Yang Menguat dan Independensi Lembaga Negara Yang Melemah: Mencari Relasi dan Mendedah Jalan Perbaikan di Balai Senat UGM, Kamis (15/1),
"Iya, di situ saya gambarkan bahwa memang ada yang berbahaya alarm bagi demokrasi. Karenanya kita semua harus bekerja untuk membalikannya, bahaya kalau dibiarkan," ungkap Zainal.
Baca juga : Ganjar Mengaku Sudah Tahu JK Dukung Amin
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla menyampaikan, pemikiran-pemikiran yang disampaikan Prof Zainal bermanfaat kepada untuk kemajuan bangsa agar kembali pada jalur yang benar dalam berdemokrasi.
"Ya, ini negara demokrasi, orang masyarakat kepada wakil itu tentu diharapkan memberikan suatu kritikan apabila dibutuhkan," ungkap dia.
Bagi politikus Ganjar Pranowo, pidato Prof Zainan bergizi.
Baca juga : Junjung Netralitas untuk Jaga Muruah Demokrasi
"Bagaimana pidato Mas Uceng itu sangat luar biasa menjelaskan bagaimana proses konservatisme dari lembaga-lembaga yang ada di Indonesia ini bersaing dengan kondisi real yang ada di lapangan," papar dia.
Pidato itu juga menjelaskan dengan sangat bagus tentang sejarah, pengaruh dunia luar, sampai kondisi Indonesia riil. "Di mana hari ini hati-hati ya, akan menuju pada otoritarianisme. Hati-hati ya, karena ada beberapa yang tidak bisa bicara lebih bebas," papar dia.
Pidato tersebut, lanjut dia, itu mencerdaskan buat kita. "Selamat Mas Uceng sebagai profesor, sebagai aktivis, menyuarakan kebenaran berdasarkan data fakta secara keilmuan dan mudah-mudahan amanah ini akan terus terbawa menjadi sikap intelektual yang organik," papar dia.
Sementara itu, Anies Baswedan mengharapkan terus agar Prof Zainal bukan saja menjadi intelektual kampus, tapi juga intelektual publik. Peran Prof Zainal bukan saja mencerdaskan mahasiswanya, tetapi juga mencerdaskan seluruh bangsa.
"Kita tahu bahwa beliau memiliki keahlian, kewarasan dan keberanian untuk mengungkapkan pikirannya dan menegur penyimpangan," kata Anies.
Ia berharap, lebih banyak akademisi dan guru besar yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan pikiran dan mengoreksi penyimpangan.
"Kecendekiawanan bukan sekadar untuk kemajuan ilmu, melainkan untuk menjaga agar republik ini tata negaranya tetap berjalan dengan baik dan benar," tutup dia. (H-4)



