Di tengah riuh rendah linimasa media sosial yang serbacepat, sebuah fenomena mengejutkan terjadi dari generasi muda—khususnya Generasi Z—diam-diam mereka meminati buku-buku yang selama ini dicap “berat”. Buku filsafat, pemikiran politik, sejarah ide, hingga sastra serius, yang dulu kerap dianggap terlalu rumit bagi pembaca muda, kini semua ‘dilahap” mereka dari rak toko buku.
Fenomena ini di samping mengejutkan, tentu sekaligus menyenangkan. Mengejutkan karena selama bertahun-tahun Gen Z nyaris selalu ditempatkan dalam bingkai stereotip yang sama: generasi digital native yang cepat bosan, menyukai hal instan, kurang sabar pada bacaan panjang, dan alergi terhadap pemikiran mendalam. Menyenangkan karena realitas di lapangan menunjukkan gambaran yang jauh lebih kompleks—dan jauh lebih menjanjikan.
Data GoodStats Indonesia pada 2024, misalnya, menunjukkan lebih dari 84 persen Gen Z Indonesia mengaku gemar membaca buku, dengan mayoritas masih memilih buku cetak karena dinilai membantu fokus dan pemahaman yang lebih utuh. Angka ini tentu turut membantah anggapan bahwa buku—terlebih buku berat—telah sepenuhnya ditinggalkan generasi muda.
Dari Madilog hingga Bumi ManusiaYang menarik, bacaan Gen Z hari ini bukan semata novel populer atau bacaan hiburan. Dalam sejumlah komunitas literasi dan ruang diskusi digital, muncul nama-nama buku yang selama ini identik dengan pembacaan serius seperti Madilog dan Aksi Massa karya Tan Malaka—dua karya pemikiran yang padat, penuh argumentasi filosofis dan politik—kembali dibaca dan diperbincangkan di antara mereka. Padahal Madilog bukan sekadar buku sejarah, melainkan sebuah upaya merumuskan cara berpikir rasional dan ilmiah dalam konteks Indonesia awal abad ke-20.
Tak hanya itu. Karya-karya sastra Pramoedya Ananta Toer, terutama Tetralogi Buru—Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca—juga banyak dibaca di kalangan Gen Z. Padahal novel-novel ini menuntut kesabaran, empati sejarah, dan kemampuan membaca konteks sosial-politik kolonial yang tidak sederhana.
Sastra berat lain pun ikut dibaca, seperti Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang memadukan tragedi sejarah, seksualitas, politik, dan nilai-nilai lokal dalam satu narasi yang kompleks dan menggugah. Dan masih banyak lagi karya-karya magnum opus penulis besar Indonesia yang menjadi camilan bacaan mereka di tongkrongan mereka.
Di rak yang sama, kerap pula dijumpai karya-karya pemikiran global seperti Homo Deus (Yuval Noah Harari), Sapiens, A Brief History of Time (Stephen Hawking), hingga tulisan-tulisan filsafat eksistensial yang menuntut pembacaan perlahan.
Fenomena ini bisa dibaca bukan sekadar soal pilihan bacaan. Melainkan ini adalah soal keberanian intelektual di kalangan Gen Z.
Terkonfirmasi oleh PenerbitDalam kunjungan penulis ke salah satu penerbit besar di Yogyakarta, Diva Press, fenomena ini pun terkonfirmasi. Avifah Vee, editor di penerbit tersebut mengungkapkan data penjualan menunjukkan kecenderungan yang menarik: buku-buku filsafat, sejarah pemikiran, dan tokoh bangsa justru mencatatkan angka penjualan tinggi—dan mayoritas pembelinya adalah Gen Z.
Buku Madilog terbitan Grup Diva Press, menurut Avifah, termasuk salah satu yang penjualannya konsisten dan kuat. Padahal, karya Tan Malaka itu selama ini dianggap terlalu “berat” bagi pembaca muda. “Tapi justru faktanya yang membeli kebanyakan sekarang anak-anak muda. Mereka datang dengan rasa ingin tahu yang besar,” ujarnya.
Temuan ini penting. Karena menunjukkan bahwa minat baca Gen Z bukanlah mitos, melainkan realitas yang mungkin selama ini luput dari perhatian, karena stereotip kepada mereka mengenai literasi menjadi kabur gegara kegemarannya dalam bermedia sosial yang dinilai negatif.
Bookfluencer dan Jalan Baru LiterasiTak bisa dimungkiri, media sosial justru memainkan peran kunci dalam perubahan lanskap literasi ini. Rekomendasi buku kini tidak lagi hanya datang dari halaman resensi surat kabar, melainkan dari BookTok, Bookstagram, BookTube, dan para bookfluencer lintas platform.
Influencer seperti Ferry Irwandi, misalnya, kerap membahas buku-buku pemikiran dan sejarah dengan gaya populer namun substansial. Di ruang yang sama, muncul pula para kreator literasi yang menjadikan buku-buku serius sebagai bahan konten—tanpa mereduksinya menjadi sekadar hiasan estetis.
Penelitian mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pun menunjukkan adanya korelasi positif antara rekomendasi bookfluencer dengan keputusan pembelian buku oleh Gen Z. Rekomendasi personal, narasi pengalaman membaca, dan konteks sosial yang dibangun di media sosial, terbukti mampu mendorong minat baca, termasuk terhadap buku-buku yang tidak ringan.
Dengan kata lain, teknologi—yang selama ini dituduh sebagai musuh membaca—justru menjadi jembatan baru menuju bacaan mendalam.
Membaca sebagai Upaya Memahami DiriAda satu dimensi lain yang tak kalah penting: kesehatan mental. Dugaan yang patut dikaji lebih lanjut adalah bahwa ketertarikan Gen Z pada buku-buku filsafat dan sastra berat juga berkaitan dengan pencarian makna di tengah tekanan zaman. Hidup di era digital yang penuh perbandingan sosial, tuntutan produktivitas, dan banjir informasi, membuat banyak anak muda merasa lelah secara emosional.
Dalam konteks ini, membaca menjadi ruang hening. Buku filsafat menawarkan kerangka berpikir, sastra memberi empati dan pengalaman batin, sementara sejarah mengajarkan bahwa krisis adalah bagian dari perjalanan manusia. Seperti kata filsuf Albert Camus, “In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.” Membaca sering kali menjadi jalan untuk menemukan “musim panas” itu.
Penelitian di bidang psikologi pun menunjukkan bahwa membaca dapat membantu menurunkan stres, menstabilkan emosi, dan meningkatkan kemampuan refleksi diri. Maka, tidak mengherankan jika buku-buku berat justru dipilih sebagai teman dialog batin mereka.
Namun apa pun motivasinya—entah dorongan konten, pengaruh bookfluencer, FOMO, atau pencarian makna—fakta bahwa Gen Z membaca buku-buku berat adalah kabar baik bagi masa depan intelektual bangsa. Bacaan semacam ini adalah nutrisi otak yang bergizi. Ia melatih kesabaran berpikir, memperluas sudut pandang, dan menumbuhkan kemampuan memahami kompleksitas.
Di tengah tantangan zaman yang semakin rumit, generasi yang terbiasa membaca secara mendalam akan memiliki modal penting: kedewasaan intelektual dan ketangguhan berpikir.




