JAKARTA, DISWAY.ID-- Kendati baru beberapa minggu berlalu setelah Indonesia resmi memasuki tahun 2026, suasana persiapan menyambut datangnya bulan Ramadhan, yang rencananya akan datang pada pertengahan bulan Februari 2026 nanti, sudah mulai terasa di sejumlah pusat perbelanjaan fashion dan aksesoris.
Bahkan, tidak sedikit juga dari pembeli yang turut menyambangi pusat thrifting atau pakaian bekas impor layak pakai. Salah satunya adalah pusat thrifting yang terletak di pasar Senen blok III, Jakarta Pusat.
BACA JUGA:Pertapreneur Aggregator, Bangun UMKM Sektor Pangan Berdaya Saing
BACA JUGA:Ini Dia Livery Baru Aprilia Racing di MotoGP 2026, Jorge Martin Pakai Nomor Start 89 Lagi
Terkini, pusat thrifting di Pasar Senen blok III sendiri juga sudah mulai ramai dikunjungi oleh para pembeli yang datang untuk mencari baik pakaian untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 2026 nanti, ataupun untuk mencari pakaian sehari-hari.
Kendati begitu, keramaian pengunjung pasar Senen blok III sendiri masih belum dapat menyurutkan kerisauan yang tengah dihadapi oleh para pedagang pasar Senen blok III.
Pasalnya hingga memasuki bulan Januari 2026 ini, janji Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman untuk mengalihkan penjualan pakaian impor bekas ke produk UMKM lokal masih belum terlaksana hingga saat ini.
BACA JUGA:Dorong SDM Unggul, Pemerintah Tambah Beasiswa LPDP STEM hingga 80 Persen
BACA JUGA:Merek Lain Ketar-ketir, Oppo Reno15 series Punya Kamera Selfie 50 Megapiksel, Ini Kelebihannya!
Bahkan menurut Ketua Umum Himpunan Pedagang Pakaian Bekas Indonesia (HP212), Effendy, kini para pedagang thrifting di pasar tersebut harus mengakali kekurangan stok barang dagangan dengan menggunakan stok barang sisaan dari bulan November-Desember 2025 lalu.
"Untuk produk sekarang masih produk impor, itu pun sisaan kemarin yang gak laku karena ini gak mencukupi lagi. Yang gak pernah dibuka, sekarang dibuka, untuk mengisi perdagangan," ujar Effendy ketika ditemui oleh Disway di lokasi, pada Kamis (15/01).
Tidak hanya itu, Effendy juga turut menambahkan bahwa imbas dari kekurangan stok ini tidak hanya berdampak kepada para pedagang saja, namun juga kepada para pekerja jasa informal seperti porter.
BACA JUGA:Tertibkan! Rano Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk PKL di Trotoar: Itu Regulasi Perda
BACA JUGA:Prabowo Siap Gandeng Kampus Top Inggris, Perkuat Pendidikan Tinggi Indonesia
"Kuli sekarang buat makan ga ada, kuli buat dorong ini. Biasa pada masuk nguli dia 1 karung 20 ribu. Sekarang buat makan ga ada, ongkos misal kulinya dari Serang nih, ongkos 40 ribu, PP 80 ribu, uang dari mana? Mana ini bentar lagi Ramadhan. Itu contoh kecil," pungkas Effendy.
- 1
- 2
- »





