Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (15/1) sore ditutup menguat 42,83 poin atau 0,47 persen ke posisi 9.075,41, meskipun mayoritas bursa saham Asia mencatatkan pelemahan.
Indeks LQ45 turut naik 7,34 poin atau 0,83 persen ke posisi 889,43.
"Indeks saham di Asia ditutup beragam dengan kecenderungan melemah karena pasar global bereaksi terhadap pelemahan harga saham-saham di sektor teknologi dan penurunan tajam harga minyak," ungkap seorang analis pasar.
IHSG dibuka menguat dan langsung bertahan di zona hijau hingga penutupan sesi pertama perdagangan.
Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona hijau hingga akhir perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor mencatatkan penguatan.
Sektor barang keuangan memimpin dengan kenaikan sebesar 1,20 persen, disusul sektor teknologi yang naik 1,16 persen, serta sektor konsumen non primer yang menguat 0,96 persen.
Sebaliknya, tujuh sektor mengalami pelemahan.
Sektor industri mencatat penurunan terdalam sebesar 2,17 persen, diikuti sektor barang baku yang melemah 0,79 persen, serta sektor transportasi & logistik yang turun 0,51 persen.
Saham-saham dengan penguatan terbesar antara lain ZATA, ESTI, INOV, BELL, dan CHEM.
Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah NICL, SGER, ACST, BNBR, dan JGLE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.373.659 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 50,63 miliar lembar dan nilai transaksi mencapai Rp28,25 triliun.
Sebanyak 339 saham naik, 331 saham turun, dan 113 saham stagnan.
Dinamika Ekonomi dan Sentimen PasarDari dalam negeri, data Bank Indonesia menunjukkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada November 2025 naik tipis 0,2 persen year on year (yoy), melambat dari kenaikan 0,5 persen pada bulan sebelumnya.
Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik.
Pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan digelar pada 20–21 Januari 2026.
RDG BI diperkirakan akan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen, seiring dengan kondisi nilai tukar Rupiah yang masih mengalami tekanan.
Pasar juga mencermati rilis data pertumbuhan kredit periode Desember 2025 yang diprediksi melambat menjadi 7,6 persen (yoy), dibandingkan 7,74 persen pada bulan sebelumnya.
Dari Asia, data Producer Price Index (PPI) Jepang menunjukkan inflasi produsen naik 2,4 persen (yoy) pada Desember 2025.
Meskipun angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Mei 2024, namun masih lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,7 persen (yoy).
Sementara itu, Bank of Korea (BOK) mempertahankan suku bunga acuan di level 2,5 persen, sejalan dengan ekspektasi pasar.
BOK telah mempertahankan tingkat suku bunga tersebut selama lima bulan berturut-turut.
Kinerja Bursa RegionalBursa saham regional Asia mayoritas ditutup melemah.
Indeks Nikkei Jepang turun 202,30 poin atau 0,37 persen ke 54.138,89.
Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 76,19 poin atau 0,28 persen ke 26.923,81.
Indeks Shanghai China turun 13,48 poin atau 0,33 persen ke 4.112,60.
Sementara itu, Indeks Strait Times Singapura menguat 20,83 poin atau 0,47 persen ke 4.833,33.



