FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Aktivis muda, Laras Faizati akhirnya resmi menghirup udara bebas, pada Kamis (15/1) sekitar pukul 19.00 WIB.
Laras keluar dari Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, dengan mengenakan baju oranye bertuliskan Kritik Bukan Kriminal. Saat keluar dari tahanan tersebut, raut wajah Laras terlihat sumringah tanpa cukup bahagia bisa kembali bebas.
Meski bahagia dengan kebebasannya, ia tidak menampik adanya luka psikis yang membekas.
Laras dibebaskan setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis pidana pengawasan. Walau dinyatakan bersalah atas dugaan penghasutan dalam aksi demo Agustus 2025, ia tidak perlu menjalani hukuman di dalam penjara.
Keluar dari balik jeruji besi memberikan rasa lega sekaligus beban tersendiri bagi Laras. Saat ditanya mengenai keberaniannya bersuara di masa depan, Laras secara terbuka mengakui bahwa proses hukum yang dijalaninya meninggalkan trauma mendalam.
“Jujur, tentu aku ada ketakutan dan ada trauma ya. Karena di sini yang terjerat itu bukan cuma aku, tapi banyak teman-teman pemuda dan perempuan juga. Dan yang terefek itu bukan aku doang, tapi juga keluarga dan teman-teman,” ungkap Laras dilansir JawaPos.com, Kamis (15/1).
Laras merasa dampak dari kasus ini tidak hanya menyerang dirinya secara personal, tetapi juga orang-orang terdekatnya yang ikut merasakan tekanan selama ia ditahan.
Trauma yang dialami Laras membuatnya berefleksi tentang betapa sulitnya warga dalam menyuarakan pendapat di Indonesia. Ia berharap negara hadir untuk memberikan perlindungan nyata bagi para aktivis.
“Makanya mungkin untuk sekarang aku belum bisa mengasih kata-kata gimana caranya biar berani berbicara sebagai perempuan. Tapi mungkin harapan aku ke negara kali ya. Untuk agar perempuan itu berani berbicara, negara harus bisa membangun ruang yang aman untuk kita bersuara, untuk kita berdaulat, untuk kita berekspresi,” tuturnya.
Ia pun berharap tidak ada lagi perempuan atau pemuda lain yang mengalami nasib serupa. “Semoga kasus aku pun akan menjadi refleksi ke depannya. Tidak akan ada lagi laras-laras yang perempuan atau pemuda yang sudah dibungkam,” tambahnya lagi.
Meski masih dalam kondisi memulihkan mental, Laras sudah memiliki rencana besar untuk melanjutkan hidupnya. Pengalamannya selama 5 bulan di balik jeruji besi justru membuka matanya terhadap isu-isu sosial yang lebih luas.
Ia berencana kembali mendalami bidang Hubungan Internasional dan komunikasi, dengan fokus khusus pada hak-hak perempuan. “Selama aku di penjara di Pondok Bambu pun aku jadi belajar banyak banget isu tentang perempuan, dan isu tentang perempuan-perempuan muda, dan aku jadinya pengen banget belajar lagi di ranah HAM, atau di ranah Women’s Rights,” jelasnya.
Agenda pertama Laras setelah bebas adalah kembali ke rumah untuk berkumpul bersama keluarga. Ia ingin menebus waktu yang hilang selama masa penahanan.
“Aku mau spend time sama keluarga aku, sama teman-teman aku, sama orang-orang tercinta aku yang sudah 5 bulan kemarin itu diambil dan dirampas kebebasannya. Dan besok aku pengen ke makam ayah aku dan eyang aku rencananya,” imbuh Laras. (fajar)




