Kayu hanyut, lumpur menumpuk, dan sisa material bangunan berserakan di mana-mana. Bagi sebagian orang, ini adalah masalah lingkungan yang serius. Namun, di balik tantangan tersebut, terdapat peluang ekonomi yang bisa digarap oleh pengusaha kecil dan pelaku UMKM melalui konsep ekonomi sirkular.
Baca juga: Penerapan Ekonomi Sirkluar Mendorong Perputaran Barang Layak Pakai
Pendekatan ekonomi sirkular berbeda dari ekonomi linear konvensional yang sekadar“ambil ,pakai, buang.” Dalam model sirkular, material yang semula dianggap limbah bisa dimanfaatkan kembali, diolah, atau didaur ulang untuk menjadi sumber daya produktif.
Dengan begitu, limbah pascabencana bukan hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka ruang usaha baru, menekan biaya pemulihan, dan memperkuat perputaran ekonomi di tingkat lokal. UMKM, yang berperan sebagai tulang punggung ekonomi nasional, menjadi aktor utama dalam rantai daur ulang ini dari pengumpulan material hingga pengolahan awal.
Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya ekonomi sirkular melalui Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular 2025–2045. Lima sektor prioritas yang diidentifikasi meliputi pangan, tekstil, elektronik, konstruksi, dan kemasan plastik.
Peta jalan ini menetapkan indikator utama seperti tingkat input sirkular nasional, tingkat pemakaian, dan tingkat daur ulang, dengan acuan standar ISO 59000. Strategi ini selanjutnya dijadikan landasan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.
Leonard Tiopan Panjaitan, peneliti dan konsultan di Trisakti Sustainability Center (TSC), menyoroti potensi ekonomi dari limbah pascabencana.
“Banjir di Sumatera meninggalkan jutaan meter kubik lumpur dan kayu. Jika dikelola dengan benar, lumpur bisa digunakan sebagai tanggul alami untuk sungai, laut, atau jembatan. Lumpur ini bisa dicampur dengan tanah dan beton setelah dibersihkan dari kontaminan dan dipadatkan agar stabil. Proses ini membuka peluang usaha lokal, mulai dari jasa pengolahan material hingga konstruksi skala kecil,” ujarnya.
Sementara itu, kayu hanyut atau rusak yang masih layak pakai dapat diolah menjadi furnitur, material bangunan sederhana, atau bahkan produk kreatif lainnya, dengan proses pengeringan yang tepat.
"Kayu harus dijaga agar sirkulasi udara tetap optimal di dalam batangnya, dan perlakuan terhadap rayap, jamur, serta larva harus dilakukan agar kualitasnya terjaga. Kayu yang tidak layak pakai tetap memiliki nilai, misalnya diolah menjadi biomassa atau arang untuk co-firing batubara di boiler, yang bisa melibatkan pengusaha mikro di sektor energi alternatif," tegas dia.
Pemerintah juga ikut mendorong pemulihan infrastruktur. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan sebanyak 117 unit jembatan Aramco telah dikirim untuk mempercepat akses wilayah terisolasi. Salah satu contohnya adalah Jembatan Bailey Jamur Ujung di ruas Bireuen-Takengon yang kini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Libatkan Pengusaha Kecil Agar ekonomi sirkular berjalan efektif, keterlibatan pengusaha kecil dan pelatihan teknis menjadi kunci. Annie Wahyuni, Packaging and Waste Collection Manager di Danone Indonesia, menekankan pentingnya membangun ekosistem yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
“Efek pengganda bisa tercipta dari penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan pengurangan beban lingkungan. Pelaku usaha kecil harus dilibatkan sejak awal,” jelasnya.
Contoh nyata keberhasilan skema ekonomi sirkular dapat dilihat dalam program Inclusive Recycling Indonesia (IRI) yang dijalankan Danone. Pemulung, pelapak, dan pengelola TPS3R dilatih meningkatkan kualitas pemilahan sampah, keselamatan kerja, literasi keuangan, serta mendapatkan akses asuransi kesehatan BPJS. Hasilnya, harga jual lebih baik, omzet meningkat, dan kelompok rentan memperoleh penghidupan lebih layak.
Model serupa bisa diterapkan pada limbah pascabencana banjir Sumatra. Dengan pelatihan teknis, akses pasar, dan dukungan kebijakan, limbah bisa diubah menjadi sumber penghidupan baru bagi pengusaha kecil, sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi daerah.
Leonard menambahkan skema ini tidak hanya berlaku untuk limbah kayu atau lumpur, tetapi juga untuk sektor makanan dan minuman. Misalnya, ampas kopi bisa dijadikan pupuk kompos, atau sampah nasi diolah menjadi pupuk cair melalui proses penguraian alami menggunakan bakteri atau eco-enzym. Namun, dia mengingatkan, proses ini harus profesional karena salah penanganan bisa menimbulkan bau dan menurunkan kualitas.
Pendekatan ekonomi sirkular, meski masih dalam tahap awal, menawarkan strategi jangka panjang untuk memanfaatkan limbah pascabencana secara produktif. Limbah yang diolah kembali menjadi peluang usaha tidak hanya membantu pemulihan daerah terdampak, tetapi juga menguatkan ekonomi lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan memperkenalkan praktik berkelanjutan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.
Dengan dukungan regulasi, pembiayaan, pelatihan, dan akses pasar, UMKM tidak lagi menjadi penerima dampak, melainkan aktor utama dalam pembangunan berkelanjutan dan pemulihan ekonomi pascabencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471388/original/091306400_1768284905-20260113BL_Pengenalan_Pelatih_Baru_Timnas_Indonesia__John_Herdman_23.jpg)



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5474425/original/014389700_1768476633-draw_aff.jpeg)