Kyiv: Ukraina menetapkan status darurat di sektor energi nasional, dengan perhatian khusus pada Kyiv, setelah serangan Rusia yang terus berlanjut menyebabkan ribuan warga kehilangan pasokan listrik di tengah suhu musim dingin yang ekstrem.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Moskow secara sengaja memanfaatkan kondisi cuaca yang membekukan sebagai bagian dari strategi perangnya. Dalam beberapa hari terakhir, suhu malam di Kyiv dilaporkan turun hingga sekitar minus 20 derajat Celsius.
Dilansir dari BBC, Kamis, 15 Januari 2026, Penetapan status darurat ini muncul di saat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa upaya mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang hampir berlangsung empat tahun dengan Rusia masih tertahan.
Kepada kantor berita Reuters pada Rabu, Trump mengatakan Ukraina “kurang siap untuk membuat kesepakatan” dibandingkan Presiden Rusia Vladimir Putin. Ketika ditanya mengapa perundingan damai belum membuahkan hasil, Trump menjawab singkat: “Zelensky”.
Kedua pemimpin dijadwalkan menghadiri Forum Ekonomi Dunia di Swiss pekan depan, meskipun Trump mengisyaratkan belum ada rencana resmi untuk pertemuan langsung di antara mereka.
Dalam beberapa pekan terakhir, serangan Rusia terhadap Kyiv menyebabkan ribuan rumah kehilangan pasokan listrik, pemanas, dan air bersih secara berkala. Setelah satu malam serangan rudal dan drone yang sangat intens pekan lalu, sekitar 70 persen wilayah ibu kota sempat mengalami pemadaman listrik selama beberapa jam.
Usai rapat kabinet khusus pada Rabu, Zelensky menyatakan pemerintah akan membentuk satuan tugas yang bekerja selama 24 jam untuk memperbaiki kerusakan akibat serangan Rusia dan kondisi cuaca yang semakin memburuk.
Ia menjelaskan bahwa langkah darurat tersebut mencakup pengadaan peralatan dan sumber daya energi penting dari luar negeri guna menggantikan instalasi yang rusak.
“Wakil Perdana Menteri Pertama sekaligus Menteri Energi Ukraina telah ditugaskan untuk mengoordinasikan pekerjaan dalam mendukung masyarakat dan komunitas dalam kondisi ini,” tulis Zelensky melalui platform X.
Zelensky juga memerintahkan penambahan jumlah titik bantuan darurat di sekitar Kyiv untuk menyediakan pemanas dan listrik bagi warga. Kebijakan ini berpotensi diikuti dengan pelonggaran jam malam tengah malam yang saat ini berlaku di ibu kota.
Serangan Rusia terhadap infrastruktur energi tidak hanya terjadi di Kyiv. Pekan lalu, pejabat Ukraina menyebut lebih dari satu juta warga di wilayah tenggara negara itu harus bertahan selama berjam-jam tanpa pemanas dan pasokan air akibat serangan udara Rusia.
Perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, DTEK, disebut berada dalam kondisi krisis permanen akibat serangan berulang terhadap jaringan listrik. Direktur Utama DTEK, Maxim Timchenko, mengatakan kepada BBC bulan lalu bahwa perusahaan tersebut terus menjadi sasaran gelombang serangan drone serta rudal jelajah dan balistik.
Menjelang peringatan empat tahun invasi skala penuh Rusia, Timchenko menyatakan intensitas serangan yang berulang membuat perusahaan kesulitan melakukan pemulihan.
“Serangannya begitu sering sehingga kami tidak punya cukup waktu untuk pulih,” ujarnya.
Saat ini, DTEK memasok listrik bagi sekitar 5,6 juta warga Ukraina.



