Ubi Cilembu: Si Legit dari Sumedang, Diam-Diam Siap Jadi Pangan Masa Depan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ubi Cilembu punya pesona yang tidak pernah terburu-buru. Ia tidak menawarkan sensasi instan, tetapi mengajak siapa pun untuk menikmati proses menunggu. Saat dipanggang perlahan, dari balik kulitnya muncul cairan lengket berwarna keemasan yang kerap disebut sebagai madu alami. Aromanya lembut, hangat, dan menenangkan.

Orang yang tadinya hanya lewat sering berhenti penasaran. Menunggu berubah menjadi bagian dari kenikmatan. Dari momen sederhana itulah hubungan emosional dengan pangan ini mulai terjalin.

Secara geografis, kisah ini berakar di Desa Cilembu, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Penulis pernah datang ke lokasi ini dan melihat langsung pertanian Ubi Cilembu.

Namun, Cilembu bukan sekadar titik di peta. Ia adalah ruang perjumpaan antara tanah, iklim, dan kebiasaan manusia. Dari desa inilah, rasa manis alami menyebar perlahan. Ia kemudian menjadi identitas kuliner Indonesia yang dikenal lintas daerah.

Sejarah Ubi Cilembu tidak dibangun dalam satu pekan. Petani setempat mulai menanamnya sejak sekitar tahun 1975. Pada masa awal, ubi ini dikenal sebagai Ubi Nirkum. Belum banyak yang memperhatikannya. Tahun 1980-an menjadi fase pertumbuhan popularitas. Permintaan pasar meningkat seiring kabar tentang rasa manisnya.

Pada dekade 1990-an, namanya mulai melejit. Petani melakukan seleksi alami secara turun-temurun. Mereka menjaga rasa, ukuran, dan kualitas dengan ketekunan yang konsisten. Dari proses itulah karakter khas Ubi Cilembu terbentuk.

Ubi Cilembu mudah dikenali. Umbinya memanjang, berurat jelas, dengan kulit krem kemerahan. Dagingnya pucat ketika mentah, lalu berubah kuning cerah saat matang. Teksturnya lembut dan pulen, berbeda dari banyak ubi jalar lain yang cenderung berair.

Rahayu dan Saptana (2018) dalam buku Teknologi Pascapanen Ubi Jalar menjelaskan bahwa struktur pati Ubi Cilembu relatif khas. Kandungan gula alaminya lebih tinggi. Kombinasi inilah yang membentuk sensasi manis yang lembut dan bertahan lama.

Menariknya, rasa manis Ubi Cilembu justru lahir dari kesabaran. Ubi ini idealnya tidak langsung diolah setelah panen. Penyimpanan selama satu hingga tiga minggu menjadi tahap penting.

Pada masa ini, enzim amilase bekerja mengurai pati menjadi gula sederhana. Saat dipanggang pada suhu tinggi, gula alami mengalami karamelisasi. Proses inilah yang memperkuat aroma dan memperdalam rasa manis khasnya.

Ubi Cilembu bukan hanya soal kenikmatan rasa. Ia juga menyimpan potensi besar bagi ketahanan pangan. Ubi jalar dikenal sebagai sumber karbohidrat alternatif selain beras, jagung, dan singkong.

FAO (2022) dalam laporan Sweet Potato for Food Security menekankan keunggulan adaptasi ubi jalar. Tanaman ini relatif tahan kekeringan. Ia mampu tumbuh di lahan marginal. Dalam konteks perubahan iklim, karakter ini menjadi sangat relevan. Ubi Cilembu hadir sebagai contoh pangan lokal yang adaptif dan berkelanjutan.

Ketahanan pangan sendiri tidak sekadar berbicara tentang ketersediaan. Keberagaman dan keberlanjutan juga menjadi kunci. Ketergantungan pada satu komoditas meningkatkan risiko saat terjadi krisis iklim atau gangguan distribusi. Ubi Cilembu menawarkan alternatif yang berakar kuat pada ekosistem lokal.

Dari sisi produksi, Ubi Cilembu cukup bersahabat bagi petani kecil. Umur panennya berkisar lima hingga tujuh bulan. Perawatannya tidak rumit. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi mencatat produktivitas rata-rata Ubi Cilembu mencapai 12 hingga 17 ton per hektar. Angka ini bisa meningkat dengan teknik budidaya tepat.

Biaya produksi relatif terjangkau. Kondisi ini memberi peluang penguatan ekonomi keluarga. Ketahanan pangan tingkat rumah tangga pun ikut terbantu.

Nilai gizi Ubi Cilembu semakin menegaskan posisinya sebagai salah satu pangan sehat. Menurut Alodokter (2022), dalam setiap 100 gram ubi, terkandung vitamin A dalam jumlah tinggi, disertai kandungan vitamin C yang juga cukup signifikan. Selain itu, Ubi Cilembu kaya akan beta karoten yang berperan sebagai antioksidan untuk melindungi tubuh dari radikal bebas.

Kandungan seratnya membantu melancarkan pencernaan sekaligus menjaga rasa kenyang lebih lama. Energi dari ubi dilepaskan secara bertahap, sehingga sangat cocok dikonsumsi untuk orang yang aktif bergerak sepanjang hari.

Rasa manisnya sering memunculkan pertanyaan tentang gula darah. Kekhawatiran ini wajar. Namun, penjelasan ilmiah memberi perspektif yang lebih tenang. Manis Ubi Cilembu berasal dari gula alami hasil konversi pati. Tidak ada pemanis buatan. Alodokter (2022) menjelaskan bahwa indeks glikemiknya tergolong sedang.

Metode pengolahan sangat berpengaruh. Cara rebus dan kukus lebih ramah bagi gula darah. Pemanggangan tetap aman dengan porsi bijak. Prinsip keseimbangan selalu penting.

Dalam urusan pengolahan, Ubi Cilembu tergolong sangat fleksibel. Metode pemanggangan memang telah menjadi ikon karena mampu mempertahankan aroma dan rasa khasnya yang manis alami. Namun, kreativitas pengolahan tidak berhenti di situ. Saat ini, Ubi Cilembu telah diolah menjadi berbagai produk, seperti keripik, selai, dodol, tape, hingga tepung.

Bahkan, inovasi terus berkembang dengan hadirnya mi dan sirop berbahan dasar Ubi Cilembu. Sejalan dengan itu, Kementerian Pertanian mendorong diversifikasi olahan ubi jalar sebagai upaya meningkatkan nilai tambah dan membuka peluang usaha baru. Dengan demikian, pangan lokal tidak hanya menjadi sumber gizi, tetapi juga menjadi ruang strategis bagi inovasi dan penguatan ekonomi.

Nilai ekonomi Ubi Cilembu juga menembus batas nasional. Produk ini telah memasuki pasar Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang. Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat minat besar dari industri Jepang.

Ubi Cilembu digunakan sebagai pangan tradisional, minuman, hingga bahan kosmetik. Oleh karena itu, standar mutu dijaga ketat. Sebab, konsistensi menjadi kunci kepercayaan pasar. Identitas lokal harus tetap melekat di tengah globalisasi.

Ubi Cilembu bukan sekadar cerita kuliner, melainkan juga pengingat bahwa solusi pangan masa depan tidak selalu datang dari teknologi rumit. Kadang, jawabannya tumbuh pelan dari tanah sendiri. FAO (2022) menekankan pentingnya peran generasi muda dalam sistem pangan berkelanjutan.

Inovasi, keberanian, dan kepedulian menjadi kunci. Manis ubi Cilembu bukan hanya soal rasa. Ia membawa harapan akan sistem pangan yang lebih mandiri, beragam, dan berkelanjutan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kepergok Sekuriti, Tujuh Remaja Curi Rel Bekas di Stasiun Jatinegara
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Hearing DPRD Malang, STM Turen Harus Aman dari Premanisme
• 6 jam laluberitajatim.com
thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 15 Januari 2026, Cek Lokasinya
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Hadiri Golden Disc Awards ke-40, ENHYPEN Tampil Modis dalam Balutan Prada
• 18 jam lalubeautynesia.id
thumb
Prabowo Koreksi Desain IKN, Tekankan Antisipasi Panas dan Karhutla
• 15 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.