Bukan Viral, tapi Kekal: Wajah Lain Ekonomi Kreatif

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

​Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Ida menata meja kecil di sudut jalan. Tangannya cekatan, meski wajahnya masih menyimpan jejak kurang tidur. Makanan itu ia buat sendiri di kontrakan sempit—dimasak di sela hening malam, saat anaknya terlelap.

Jika ditanya, ia tak pernah menyebut dirinya "pelaku ekonomi kreatif". Ia hanya menjawab lirih, “Saya cuma menyambung hidup dengan tangan sendiri.”

​Kontras dengan keheningan dapur Ida, semangat yang berbeda justru menyala sejak malam sebelumnya. Elham—bersama pemuda kampung yang biasa disebut "akamsi" (anak kampung sini)—sibuk menata umbul-umbul dan pernak-pernik di jalan. "Biar bagus Mas, kalau difoto biar viral," ujarnya dengan wajah bercucuran keringat.

​Di pagi itu juga diseberang jalan, Surya menyalakan kompor kecil. Kopi bubuk ditakar, air panas dituang perlahan. Lapaknya sederhana: vespa tua yang diubah menjadi bar dan banner yang warnanya kalah oleh matahari.

Ia tahu, pembeli tak selalu datang. Namun setiap sabtu pagi, ia tetap hadir. Bukan semata mencari untung, melainkan merawat kewarasan: bahwa karya kecilnya masih punya tempat di dunia yang bising ini.

​Di sisi lain, Jaya tampak mondar-mandir. Ia sibuk menginstruksikan teman-temannya agar lapak jualan tidak menjorok ke tengah jalan, sembari mengatur lalu lalang pengunjung.

​Tak jauh dari sana, ada Joko yang sibuk mengangkat kursi sambil berteriak ke temannya, "Kang, aku pinjam kursimu dulu ya, ini pelangganku tidak ada tempat duduk!"

​Teriakan itu segera disahut dari sisi yang lain, "Ambil aja Kang, jangan lupa nanti dikembalikan!"

​Di atas aspal dan trotoar inilah, napas ekonomi kreatif yang sebenarnya berdenyut.

Bukan di ruang seminar berpendingin udara, bukan lewat slogan megah di baliho kota.

Melainkan dari kebiasaan saling menyapa, saling membeli, dan saling menopang.

​Lihatlah cara kerjanya:

Ketika satu pedagang menitip dagangan ke lapak lain tanpa kontrak tertulis.

Ketika satu unggahan media sosial teman membantu warung yang sedang sepi pembeli.

Ketika warga memilih membeli buatan tetangga, meski tahu harganya sedikit lebih mahal dari toko ritel raksasa.

​Tidak ada yang merasa sedang “membangun ekosistem”.

Itu bahasa birokrat.

Mereka hanya berusaha bertahan—bersama.

​Kesadaran kolektif lahir saat orang-orang mulai paham bahwa ekonomi kreatif bukan soal siapa paling viral, siapa paling raksasa, atau siapa paling cepat menjadi "unicorn".

Ia tentang rasa senasib.

Tentang keyakinan bahwa jika satu lapak gulung tikar, lampu jalan terasa sedikit lebih redup bagi yang lain.

​Di sinilah ekonomi kreatif menjadi manusiawi.

Ada lelah yang dibagi.

Ada cemas yang diredam bersama.

Ada senyum kecil saat dagangan laku, meski hanya cukup untuk makan hari ini.

​Pemerintah boleh menyebutnya program. Media boleh menyebutnya industri. Namun bagi mereka yang bertarung di jalanan, di gang sempit, di pasar dadakan, ekonomi kreatif adalah soal dapur yang harus tetap "ngebul" esok pagi.

​Dan kesadaran itu tumbuh bukan karena instruksi,

melainkan karena satu hukum jalanan yang tak tertulis:

tak ada yang bisa selamat sendirian.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Sebut Ketua PDIP Jabar Diduga Kecipratan Duit Kasus Ijon Proyek Bekasi, Berapa Jumlahnya?
• 1 jam lalusuara.com
thumb
Perry Warjiyo dan Bos Bank Sentral Dunia Bersatu Dukung Powell dari Tekanan Politik Trump
• 19 jam lalukompas.id
thumb
Jurgen Klopp Serius Pertimbangkan Latih Real Madrid
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Semen Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Produksi SCG
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pimpinan Komisi II soal Prabowo Koreksi Desain IKN: Ini Ikon Indonesia ke Depan
• 18 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.