Wilayah Batu di Jawa Timur telah menjelma menjadi kota wisata. Infrastruktur pariwisatanya terus berkembang. Dampaknya, Batu yang dulu alami, kini berubah signifikan. Puluhan perupa memotret perkembangan itu dan menyuguhkannya dalam karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Garis Hijau.
Sebuah apel ”krowak” (berlubang) tersaji di ruang pameran. Di dalam apel itu, ada gambar bentang alam berupa permukiman, lengkap dengan bianglala besar, tempat ibadah, gedung bertingkat, dan gunung dengan bentuk khas. Karya ini seolah ingin menuntun pengunjung agar bisa langsung menebak apa yang terpampang itu miniatur Kota Batu.
Sang perupa, Agus Sujito, menamai karya itu dengan “Pray for Batu”. Karya tiga dimensi mix media ini menjadi salah satu dari 49 karya seni visual yang dipamerkan di Galeri Raos, Kota Batu, 10-31 Januari 2026. Di dalamya ada lukisan, patung, hingga instalasi yang dibuat oleh 49 perupa setempat.
Agus memberi keterangan bahwa banyak lahan pertanian dan hutan yang telah beralih fungsi menjadi bangunan dan tempat wisata di Kota Batu. Dampaknya, produksi apel yang identik dengan wilayah ini terus berkurang. Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia diharapkan tidak berujung pada bencana.
Apa yang menjadi kekhawatiran Agus memang bukan isapan jempol. Data menunjukkan, luas kebun apel di Batu terus berkurang. Ada beberapa penyebabnya, antara lain soal budidaya yang rumit. Petani membutuhkan biaya dan usaha besar yang belum tentu sebanding dengan hasil panen. Akhirnya, petani memilih menggantinya dengan tanaman lain.
Agus sendiri bukan satu-satunya seniman yang membidik apel sebagai tema karya. Anwar, perupa yang lain, menyuguhkan buah ikonik itu dalam wujud berbeda. Melalui kolase berukuran 40 x 40 centimeter berjudul “Lestari”, Anwar bermaksud mengingatkan bahwa alam Batu merupakan anugerah. Tidak semua daerah memiliki tanaman apel.
Sayangnya, keberadaan apel terus berkurang dan lokasinya bergeser ke elevasi yang lebih tinggi. “Padahal, dulu (apel ada) di banyak tempat. Di pekarangan-pekarangan rumah di tengah kota banyak tanaman apel. Sekarang hampir tidak ada. Semua bergeser ke atas (wilayah yang lebih tinggi),” ujarnya, Kamis (15/1/2026).
Anwar berharap ada upaya untuk mempertahankan buah yang menjadi identitas Batu. Sesuai judul karyanya, Lestari, dia berharap keseburan dan keindahan alam itu dijaga agar tetap lestari.
Para perupa yang notabene lahir dan besar di Batu telah menjadi saksi perkembangan kota itu. Bagaimana dulu, sebelum jadi kota wisata, mereka bisa leluasa blusukan menikmati alam yang asri. Namun, kini banyak tempat alami yang telah berubah fungsi menjadi lahan pertanian dan permukiman.
“Dulu main ke sawah nyari stroberi masih dapat, masih banyak pohon, hutan. Kami biasa terabas, mencari jalan yang belum pernah dilewati sampai Gunung Banyak (salah satu kawasan di Batu barat). Sekarang tempat-tempat terabasan sudah jadi gang-gang. Lahan hijau sudah banyak berubah fungsi,” ujar Rianto.
Menyuguhkan karya berujud “Sold Out”, Riyanto menumpahkan keresahannya melalui lukisan yang menggambarkan seorang superhero memeluk sejumlah satwa, antara lain gajah, monyet, jerapah, harimau, dan rusa.
Lain lagi dengan Prie Wahyuono yang menyuguhkan lukisan abstrak berjudul “Terkepung”. Melalui garis-garis dengan warna dominan biru, hijau, merah muda, dan kuning, Prie ingin menggambarkan ruang terbuka hijau yang kian terdesak oleh pembangunan. Lukisan lainnya bercerita soal bunga, pohon yang terpotong, gedung-gedung rusak, hingga jam pasir yang menggambarkan dua kondisi berbeda.
“Saya memotret Batu dalam perspektif saya, semua terdesak. Sumber (air) terdesak, hutan terdesak, semua terdesak oleh perkembangan,” kata Prie.
Teman-teman seniman, menurut Prie, semacam berkampanye. Memang gaya kampanyenya tidak signifikan, tetapi berusaha mengguggah kesadaran. Mereka mengingat kembali bahwa kota ini harus dijaga, Batu harus diperhatikan.
“Beberapa waktu lalu, di Sumatera terjadi bencana, sekarang di Pati (Jawa Tengah). Apa mungkin di sini terjadi? Ya, mungkin saja. Tahun 2004 pernah, November 2021 Batu juga pernah mengalami banjir bandang. Suatu saat akan terjadi kalau kita tidak menyadari ini. Kalau alam yang ada terus terdesak,” katanya.
Batu dua dasawarsa lalu, menurut Prie, masih banyak pohon. Setelah menjadi kota wisata, Batu menjadi magnet bagi banyak orang dari luar Batu. Mereka datang dan mendirikan vila-vila di gunung.
Menurut dia, 20 tahun lalu, saat dirinya berumur 30-an tahun, pohon masih besar-besar di Batu. Setelah jadi kota wisata, Batu menjadi magnet besar menarik orang-orang untuk datang dan membikin vila di gunung. Hutan yang dulu ada telah berubah menjadi perumahan, perkampungan, dan lahan persawahan.
“Dulu, Batu saat jadi kecamatan, 60 persennya adalah hutan. Namun sekarang kita tidak bisa mengukur persentasenya, mana yang lebih banyak,” kata Prie yang menjadi Ketua Pelaksana Pameran Garis Hijau.
Begitulah, melalui goresan cat dan pahatan kayu, para perupa di Batu berusaha kembali mengingatkan tentang kondisi yang ada. Bagaimana Batu telah berubah dari yang dulu alami menjadi ingar-bingar seperti saat ini.
Seperti pengantar yang disampaikan oleh Ketua Yayasan Pondok Seni Batu Watoni. Menurut dia, dulu Batu merupakan simfoni hijau. Aroma apel dan sayuran berpadu dengan udara sejuk pegunungan. Hal itu menjadikan Batu sebagai “De Kleine Zwitserland” (Swiss Kecil) bagi para pencari ketenangan.
Narasi historis itu mengukuhkan Batu sebagai kota peristirahatan dengan sentra agrikultur yang tenteram. Namun, seiring datangnya modernitas, kanvas yang hijau itu berubah dan mengalami transformasi drastis.
Peleburan sebutan kota pertanian dengan kota wisata telah memicu lonjakan populasi yang masif, didorong gelombang urbanisasi yang tak terelakkan. Peningkatan infrastruktur wisata dan pembangunan properti telah menciptakan sebuah dilema spasial: kontestasi antara beton dan lahan hijau.
Petak-petak sawah dan kebun yang subur kini bernegosiasi dengan pondasi bangunan-bangunan baru, mencerminkan kerugian ekologis dan hilangnya mata pencaharian tradisional.
“Karya dalam pameran ini membuka ruang dialog tentang kompleksitas isu agraria, urbanisasi, dan keberlanjutan sosial ekologis. Kita diajak menyelami riak riuh persoalan yang muncul dari kepadatan penduduk, pertikaian kepentingan ekonomi, dan dampak sosial yang mengikutinya. Ini adalah cermin jujur atas Kota Batu yang sedang berjuang menyeimbangkan warisan purba dengan ambisi kontemporer,” ujar Watoni dalam tulisan pengantarnya.




