DI KEHIDUPAN yang setiap hari kita akui kian sulit dan dikelilingi ketidakpastian, mencari “perhatian” kini berani dijadikan sebagai komoditas demi untuk bertahan hidup.
Di ruang digital, sebagian orang nekat mempertontonkan hal-hal yang kontroversial demi popularitas dan berhasil mendapatkan peluang ekonomi.
Di tengah logika itu, kita mulai melihat bagaimana orang benar-benar bersedia melintasi batas yang dulu dianggap tidak pantas, bahkan berbahaya, demi satu hal yang sama: konten yang viral dan uang yang mengikutinya (monetisasi digital).
Seorang perempuan asal Palembang, misalnya, yang nekat terbang dengan mengenakan seragam pramugari Batik Air palsu hanya demi membuat video yang terlihat meyakinkan.
Ia jelas tidak bercanda sebenarnya; ia sedang memainkan kepercayaan publik, keselamatan penerbangan, dan wibawa institusi demi klik dan atensi. Dia sadar betul akan viral, dan sadar betul bisa mendapatkan peluang setelahnya.
Baca juga: Negeri yang Ribut pada Rok, Lupa pada Penipu
Di Jakarta, ada pula warga yang berkeliling Flyover dengan mobil buatan China sambil membunyikan telolet, melanggar aturan lalu lintas sampai akhirnya ditilang patwal dan sang pengemudi meminta maaf.
Di jalanan, seorang pemuda menantang aparat polisi dan bahkan TNI berkelahi hanya untuk mendapatkan rekaman yang dramatis.
Ruang publik kini diperlakukan seperti panggung pribadi, sementara etika sering kali turun kasta yang bisa diabaikan jika itu menjanjikan secara ekonomi.
Orang-orang rela memproduksi konten yang menyinggung kesusilaan, memelintir fakta, mempromosikan praktik ilegal, atau melontarkan ujaran kasar, bukan semata karena dorongan iseng, melainkan karena tekanan beban ekonomi yang tak lagi terbendung.
Di tengah lapangan kerja yang semakin sempit dan jalur mobilitas yang makin berliku, ruang digital tampil sebagai salah satu dari sedikit arena yang sangat menjanjikan untuk hasil instan, dan bisa dijangkau siapa saja.
Dalam situasi seperti ini, perhatian berubah menjadi mata uang, dan konten—betapapun problematiknya—menjadi alat untuk mengonversi kegelisahan hidup menjadi pemasukan, meski harus dibayar dengan risiko sosial dan hukum.
Latar mereka berbeda, tetapi logika algoritma sama, yakni siapapun yang bisa menarik perhatian publik paling besar, paling provokatif, maka dia menguasai medan nilai ekonomi perhatian publik atau kita sebut dengan (attention economy).
Dalam ekonomi perhatian seperti ini, batas antara kreativitas, kebohongan, dan pelanggaran hukum menjadi kabur, karena setiap detik keterlihatan bisa dikonversi menjadi rupiah atau maya uang asing.
Orang akhirnya rela melakukan apa pun, bukan karena tidak tahu risikonya, tetapi karena tekanan ekonomi dan ilusi popularitas membuat taruhan itu terasa layak diambil.
Fenomena pengejaran atensi ini sebenarnya merupakan manifestasi dari perubahan kapasitas kognitif yang cukup dalam pada generasi sekarang. Perubahannya cenderung ke arah negatif.
Generasi Z, yang tumbuh dalam ekosistem ekonomi perhatian, mulai menunjukkan pengikisan daya tahan (endurance) dalam fokus jangka panjang.
Keinginan untuk selalu mendapatkan stimulasi instan membuat mereka terjebak dalam arus doomscrolling—sebuah kondisi di mana kehendak mereka didikte oleh algoritma yang terus menyodorkan konten baru setiap beberapa detik.
Otak mereka sering kali belum selesai memproses satu informasi ketika informasi berikutnya sudah muncul.
Jika informasinya dinilai positif, muncul dorongan untuk mengejar informasi tambahan; jika dinilai negatif, mereka dengan cepat mengganti konten melalui scrolling.
Informasi-informasi ini kemudian menumpuk tanpa benar-benar diolah oleh otak, lalu tersimpan dalam bentuk imajinasi yang dapat muncul kapan saja tergantung situasi.
Ketika informasi negatif mendominasi, yang muncul adalah kecemasan berlebih; ketika yang mendominasi adalah informasi positif, responsnya bisa berupa euforia yang tidak proporsional.
Artinya, otak dipenuhi oleh imajinasi yang menggerus ruang kognitif, sehingga akal sehat menjadi lebih rentan kalah oleh dorongan perasaan.
Baca juga: Berkah Tuhan Jadi Kutukan Venezuela: Pelajaran Mahal bagi Indonesia
Apakah ini kesalahan mereka? Jelas tidak. Yang mereka butuhkan adalah proses pemulihan, serta pendampingan dari generasi yang lebih senior agar mampu menavigasi lanskap atensi digital dengan lebih sehat.
Data empiris dalam dunia ekonomi menunjukkan betapa drastisnya pergeseran perilaku ini. Jika kita menilik data pasar modal tahun 1960-an, rata-rata investor memiliki daya tahan untuk menyimpan saham (holding period) selama kurang lebih 8 tahun.
Angka ini menyusut menjadi sekitar 1,2 tahun pada awal 2000-an, seiring masuknya era internet.
Di tengah kepungan aplikasi perdagangan yang tergamifikasi, rata-rata durasi kepemilikan saham merosot tajam hingga hanya sekitar 5,5 bulan.
Investasi yang dulunya merupakan tindakan reflektif berbasis analisis jangka panjang, kini terdistorsi menjadi perilaku reaktif yang impulsif.
Sekitar 79 persen investor muda bahkan lebih mempercayai narasi cepat dari media sosial daripada laporan fundamental yang mendalam.




