Iran di Titik Kritis, tetapi Dunia Tidak Siap Menghadapi Apa yang Akan Terjadi

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita

Tak banyak perencana yang benar-benar memikirkan pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk membangun kembali Iran.

Gregory Copley

Ke mana Iran akan melangkah setelah ini? Bagaimana keseimbangan global berubah—dan sedang diubah—oleh runtuhnya rezim teokrasi revolusioner Iran?

Rezim ulama Iran sebenarnya sudah lama berada dalam sakaratul maut. Selama 47 tahun keberadaannya, usia kekuasaannya diperpanjang oleh teknologi pengendalian massa, analisis perilaku kerumunan, serta sistem penindasan modern. Namun pada saat yang sama, ia juga dikalahkan oleh teknologi. Dan pada Januari 2026, pemerintahan Iran di bawah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Hosseini Khamenei pada hakikatnya telah dilumpuhkan.

Meskipun transisi ini nyaris tak terelakkan, hampir tidak ada perencana yang benar-benar memikirkan pekerjaan besar untuk merekonstruksi Iran. Mereka yang memahami tugas itu sebagian besar telah tiada.

Akankah pengaruh masjid Syiah di Iran merosot drastis, sehingga Iran bergerak menuju negara yang lebih sekuler—seperti visi mendiang Shah: bukan memusnahkan agama, tetapi menempatkannya secara seimbang dalam masyarakat?

Berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai muncul kembali keteraturan dan pemerintahan baru? Dan sejauh mana Rusia—khususnya—akan berupaya mempertahankan akses strategisnya ke Samudra Hindia melalui Iran, sesuatu yang telah dikejar Moskow selama berabad-abad?

Inilah intinya: Iran—yang sebelum 1935 dikenal sebagai Persia—memiliki kekuatan strategis besar karena letak geografisnya. Saat ini Iran adalah jembatan darat vital menuju dan dari Eropa Tengah, wilayah yang sangat membutuhkan jalur perdagangan tanpa harus tunduk pada Rusia atau rezim komunis Tiongkok.

Layak dipertanyakan: bagaimana struktur kekuasaan modern semakin mampu mempertahankan kekuasaan meskipun ketidakpuasan publik kian meluas—bahkan di negara-negara yang masih disebut demokrasi? 

Dalam setengah abad terakhir, kapasitas mempertahankan kekuasaan ini melonjak drastis, terlihat di Tiongkok, Iran, Venezuela, Kuba, dan bahkan—dengan cara berbeda—di Uni Eropa, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka yang berkuasa hampir selalu berusaha mempertahankan kekuasaan dengan cara apa pun.

Strategis Assad Homayoun (1932–2020) pernah menilai umur rezim ulama Iran menggunakan teori The Anatomy of Revolution (1938) karya Crane Brinton. Pendekatan ini tepat, kecuali soal lamanya proses. Di era modern, para “revolusioner” mampu memperpanjang masa berkuasa jauh melampaui perkiraan, sehingga memberi mereka lebih banyak waktu untuk mengokohkan cengkeraman kekuasaan.

Namun pada Januari 2026, runtuhnya rezim ulama Iran tampak tak terhindarkan. Ini menjadi sinyal keras bagi rezim-rezim “revolusioner modern” lain untuk menyadari posisi mereka dalam siklus kejatuhan: Tiongkok, Kuba, Venezuela, bahkan Ethiopia—yang telah melalui tiga fase sejak kudeta 1974—semuanya berada pada tahap terminal. Satu-satunya pertanyaan hanyalah: berapa lama fase itu akan bertahan?

Seperti Revolusi Rusia—yang sejatinya adalah kudeta disusul perang saudara—yang mampu bertahan selama 73 tahun sebelum akhirnya runtuh karena keropos dari dalam, rezim-rezim modern juga hidup lebih lama karena legitimasi yang diberikan musuh-musuhnya serta kondisi global yang menguntungkan.

Apa yang akan terjadi pada Iran ketika penggulingan rezim ulama menjadi kenyataan—dengan kemungkinan Khamenei melarikan diri? Faktor terpenting adalah sejauh mana kekuatan asing akan berlomba memengaruhi dan mengendalikan situasi. Pemain utama adalah Israel, Amerika Serikat, Rusia, dan Turkiye. Sementara Tiongkok, India, dan Arab Saudi akan bergerak lebih tidak langsung, dan negara-negara Asia Tengah serta Eropa akan tampil lebih diplomatis, terutama dalam isu perdagangan dan integrasi.

Ironisnya, hampir semua kekuatan besar yang kini ingin “mengklaim” Iran telah kehilangan memori politik tentang dinamika Persia klasik.

Tulisan dan kebijakan AS tentang Iran selama satu hingga dua dekade terakhir nyaris tanpa konteks sejarah mendalam. Sangat mungkin Rusia telah lebih dulu membuka jalur diplomasi bayangan dengan kelompok oposisi Iran, termasuk lingkaran Putra Mahkota Reza Pahlavi (65), untuk mempertahankan kepentingannya. Tidak ada bukti bahwa Reza didukung Donald Trump, yang tampaknya memiliki visi sendiri tentang Iran pasca-ulama—namun hingga pertengahan Januari 2026, visi itu belum pernah diuraikan secara jelas.

Jika Amerika tidak mencegahnya, Rusia akan berusaha mengukuhkan kembali koridor darat Iran dalam International North-South Transport Corridor, yang menghubungkan Baltik–Atlantik ke Laut Kaspia dan menembus Azerbaijan–Iran menuju Samudra Hindia. Respons Moskow yang cenderung tenang terhadap runtuhnya rezim ulama kemungkinan besar karena Rusia melihat masa depannya terikat pada Iran—bukan pada rezim ulama itu sendiri.

Tiongkok kini hampir tak lagi memiliki tenaga untuk menopang rezim ulama Iran. Kejatuhan mereka akan dipandang di dalam Tiongkok sebagai pertanda bahwa Partai Komunis Tiongkok pun sedang menuju kejatuhan. Ketidakberdayaan Tiongkok di Iran dan Venezuela adalah indikator kunci melemahnya PKT.

Masa depan datang lebih cepat daripada kesiapan siapa pun—bahkan rakyat Iran sendiri.

Dari mana akan muncul “penunggang kuda putih”—penyelamat yang mampu membangkitkan kembali bangsa ini?


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PHR Temukan Cadangan Hidrokarbon di Sumur Mustang Hitam-001
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kebutuhan Tavares dan Persebaya untuk Pemain Jangkung, Yuran Fernandes Kembali jadi Incaran?
• 9 jam lalufajar.co.id
thumb
Terpopuler: Nikita Willy Pernah Minta Ganti Lawan Main hingga Ammar Zoni Minta Plastik Klip
• 11 jam laluinsertlive.com
thumb
Ari Askhara Jadi Dirut Baru Humpuss Maritim Internasional, Gas Pol Transformasi Bisnis
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Yoon Suk Yeol Mantan Presiden Korea Selatan Divonis 5 Tahun Penjara
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.