Grid.ID – Aktor Arbani Yasiz tengah menikmati fase baru dalam hidupnya sebagai seorang suami. Di tengah kebahagiaan membangun rumah tangga, Arbani justru terlibat dalam proyek series berjudul Keluarga Yang Tak Dirindukan, sebuah cerita yang secara emosional membuatnya banyak belajar dan bercermin tentang makna keluarga.
Arbani mengungkapkan bahwa series yang ia bintangi ini tidak membuatnya was-was sebagai pasangan baru. Sebaliknya, kisah yang diangkat justru menjadi pengingat dan pelajaran berharga agar ia dan sang istri, Raissa Ramadhani bisa membangun keluarga yang sehat dan harmonis.
“Justru lebih ke apa ya, series ini yang aku mainkan, Keluarga Yang Tak Dirindukan, menjadi ajang aku untuk bercermin dan belajar sih. Supaya kelak aku tidak mendapatkan keluarga yang seperti ini ya. Dan juga aku ingin keluarga yang baik-baik saja,” ujar Arbani Yasiz di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan pada Kamis (15/1/2026).
Menurut Arbani, membangun rumah tangga bukan perkara mudah. Ada tanggung jawab besar yang harus dijalani bersama antara suami dan istri, termasuk bagaimana cara membangun fondasi keluarga yang kuat sejak awal.
“Tapi bagaimanapun itu kan tanggung jawab suami sama istri, gimana nge-buildnya. Ya makanya buat berkaca banget sih aku. Takut nantinya ada kesalahan-kesalahan apa,” lanjutnya.
Ia pun mengaku bersyukur bisa terlibat dalam series tersebut karena banyak memberikan pembelajaran, terutama untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang bisa berdampak besar di kehidupan rumah tangga.
“Untungnya ada series ini juga, jadi aku banyak belajar,” imbuhnya.
Sebagai pasangan suami istri muda, Arbani Yasiz menegaskan bahwa komunikasi menjadi kunci utama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga. Ia dan istrinya berusaha semaksimal mungkin untuk tetap terhubung meski kesibukan syuting kerap menyita waktu.
“Komunikasi sudah pasti,” kata Arbani mantap.
Tak hanya soal komunikasi, Arbani juga menekankan pentingnya meluangkan waktu bersama pasangan, sekecil apa pun bentuknya. Menurutnya, kehadiran secara fisik dan emosional menjadi hal yang sangat berarti.
“Kadang aku juga kayak yang penting waktu sama dia, lebih pas, terus dia pun juga sama,” tuturnya.
Di tengah jadwal syuting yang padat, Arbani dan istrinya memilih untuk saling mendatangi agar tetap bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
“Kadang kan kita syuting juga waktu pasti habis di lokasi kan. Ya kita nyamperin aja. Misalnya dia lagi nggak ada waktu, ya aku nyamperin dia,” jelasnya.
Bahkan saat pulang lebih cepat atau larut malam, Arbani selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan berbincang dengan sang istri.
“Atau nggak ya nggak apa-apa, aku pulang cepat pun aku pasti nyamperin dia atau langsung pulang ke rumah biar langsung ketemu,” katanya.
Meski kelelahan setelah bekerja hingga tengah malam, komunikasi tetap menjadi prioritas. Obrolan ringan hingga curhat tentang aktivitas masing-masing menjadi rutinitas yang tak pernah ditinggalkan.
“Terus juga kalau sudah pulang malam jam 12, kita juga masih suka ngobrol-ngobrol dulu, ceritain hari ini dia, ceritain hari ini aku, biar komunikasinya tetap terjaga,” ungkap Arbani.
Baginya, menjaga kenyamanan satu sama lain adalah bagian penting dari kehidupan rumah tangga.
“Terus juga waktunya tetap masih ada buat senyaman mungkin,” tambahnya.
Saat ditanya apakah dirinya termasuk tipe suami yang romantis, Arbani memberikan jawaban yang jujur dan reflektif. Ia menyadari bahwa makna romantis berubah seiring dengan status dan tanggung jawab sebagai suami.
“Nggak tahu ya, mungkin kalau aku belajar jadi kayak gini sih. Ketika sudah berumah tangga, romantisnya itu jadi berbeda kayak pas kita masih pacaran,” ujarnya.
Arbani menilai, banyak pria mengalami perubahan cara mengekspresikan cinta setelah menikah. Namun perubahan tersebut bukan ke arah negatif, melainkan lebih dewasa.
“Cowok itu mengungkapkan rasa cintanya tuh jadi berubah. Bukan berubah ke hal yang jelek, tapi lebih ke tanggung jawabnya, waktunya, terus dalam komunikasinya, dalam hal-hal kecilnya,” jelasnya.
Jika dulu romantisme identik dengan kencan, bunga, dan jalan bersama, kini hal-hal sederhana justru terasa jauh lebih bermakna.
“Kalau dulu kan pacaran kan ya paling bawa bunga, ya sudah kita jalan, nonton, segala macam,” tuturnya.
Kini, bagi Arbani, romantisme hadir dalam bentuk yang lebih sederhana namun penuh makna.
“Sekarang tuh lebih kayak hal-hal simpel kayak cuma dibikinin sarapan atau aku pulang terus aku cerita panjang ke dia juga tuh sudah menjadi hal yang romantis buat aku,” pungkasnya. (*)
Artikel Asli




