BMKG: Bibit Siklon Tropis Perkuat Konvergensi Atmosfer, Cuaca Ekstrem Intai Jawa hingga Sumatera

kompas.tv
3 jam lalu
Cover Berita
Ilustrasi. Kapal feri berlayar di bawah awan mendung di jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (22/12/2025). (Sumber: ANTARA FOTO/Budi Candra Setya)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan mengenai potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa hingga Sumatera seiring penguatan konvergensi atmosfer yang dipicu dinamika regional dan global. 

Dalam Prospek Cuaca Mingguan 16-22 Januari 2026 yang dirilis Kamis (15/1/2026), BMKG mengatakan, dalam beberapa hari terakhir, intensitas hujan meningkat signifikan, dengan sejumlah daerah mencatat hujan lebat hingga ekstrem.

BMKG mencatat hujan ringan-sedang masih terjadi di banyak wilayah Indonesia. 

Namun, hujan lebat-ekstrem teramati di Jawa Tengah dengan curah hujan mencapai 188,4 mm per hari, disusul Banten 90,2 mm per hari, Jawa Barat 89,0 mm per hari, serta Sumatera Selatan 50,6 mm per hari.

Baca Juga: Peringatan Dini BMKG 16–17 Januari 2026: Hujan Lebat Mengintai, Ini Daftar Wilayah Masuk Siaga

Bibit Siklon Tropis dan Monsun Asia Jadi Pemicu Utama

BMKG menjelaskan, cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi kombinasi faktor regional, terutama sirkulasi siklonik di selatan Nusa Tenggara Barat yang telah berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S, serta penguatan monsun dingin Asia. 

Monsun Asia yang aktif membawa massa udara lembap dari Laut China Selatan, bergerak cepat melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa.

Kombinasi kedua faktor ini membentuk dan menguatkan daerah konvergensi berskala luas di selatan Indonesia, yang dampaknya paling nyata dirasakan di Pulau Jawa dan Sumatera bagian selatan.

Konvergensi tersebut berperan penting memicu pertumbuhan awan hujan intensif dan meningkatkan durasi serta intensitas hujan.

Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan. 

Baca Juga: BMKG Peringatkan Dampak Siklon Tropis Nokaen dan Bibit 96S, Awas Gelombang Tinggi

Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, berpotensi menambah pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan.

Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sejumlah perairan Indonesia turut memperkaya suplai uap air, sehingga memperkuat proses konveksi dan peluang hujan, khususnya di Jawa dan Sumatera.

BMKG juga mencatat aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) di beberapa wilayah Indonesia, yang secara tidak langsung mendukung pertumbuhan awan hujan. Di saat yang sama, gelombang ekuator juga terpantau aktif.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Edy-A.-Putra

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • BMKG
  • cuaca ekstrem
  • bibit siklon tropis
  • konvergensi atmosfer
  • hujan lebat ekstrem
  • monsun Asia
Selengkapnya


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Amanda Manopo Hamil Anak Pertama, Tips Makan Sehat untuk Ibu dan Bayi
• 21 jam lalugenpi.co
thumb
Kemlu RI Pulangkan 96 WNI dari Arab Saudi, Ada yang Dalam Kondisi Lumpuh dan Terkait Kasus Pidana
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
PoR Didorong Masuk Draf RUU P2SK Demi Menjamin Keamanan Dana Investor Kripto di Indonesia
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dilepas Arema FC, Yann Motta Buka Suara: Tuhan Punya Rencana Terbaik
• 23 jam lalubola.com
thumb
Insanul Fahmi Akhirnya Bisa Bertemu Anak Setelah Tiga Bulan Terpisah
• 4 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.