Pada 13 Januari malam, reruntuhan roket pengangkut Long March-6A yang diluncurkan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) jatuh di Ningxia dan beberapa daerah lain, disertai suara ledakan keras. Menurut warga desa, lokasi jatuhnya reruntuhan hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah penduduk terdekat.
EtIndonesia. Media resmi PKT melaporkan bahwa pada 13 Januari pukul 22.16, roket pengangkut Long March-6A lepas landas dari Pusat Peluncuran Satelit Taiyuan, lalu berhasil menempatkan Satelit Penginderaan Jauh Yaogan-50 01 ke orbit yang telah ditentukan.
Sementara itu, pada 15 Januari, akun media independen yang memantau insiden massal di Tiongkok daratan bernama “Zuótiān (Kemarin)” mengunggah tulisan yang menyebutkan bahwa pada malam 13 Januari, setelah terdengar tiga dentuman keras, reruntuhan roket Long March-6 yang digunakan untuk peluncuran satelit jatuh di Desa Liuyangbao, Kelurahan Huamachi, Kabupaten Yanchi, Ningxia. Warga desa mengatakan lokasi jatuhnya reruntuhan hanya sekitar 100 meter dari rumah penduduk terdekat.
Artikel tersebut menyatakan bahwa meskipun pihak berwenang mengklaim telah mengevakuasi warga, video yang direkam penduduk menunjukkan masih ada aktivitas warga di sekitar lokasi, dan sebagian warga sama sekali tidak mengetahui adanya jatuhnya reruntuhan roket.
Setelah peluncuran, media resmi ramai-ramai merayakan keberhasilan misi, namun sama sekali tidak menyebutkan bahwa reruntuhan roket jatuh ke desa. Video yang direkam warga juga dengan cepat dihapus. Bagi penduduk, apakah akan tertimpa reruntuhan roket atau tidak, sepenuhnya hanya bisa pasrah pada nasib.
Sejumlah warganet berkomentar:
“Dekat sekali dengan rumah warga.”
“Rumah terdekat lebih dari 100 meter.”
“Sebenarnya jatuh di mana?”
“Mungkin jatuh di Huamachi, Desa Shabianzi.”
“Pantas tadi malam (13 Januari) terdengar bunyi ‘dug’, ternyata ini—benar-benar menakutkan.”
“Siapa yang bisa tahu pasti dimana reruntuhan roket jatuh? Hanya bisa pasrah saja.”
Ada pula yang mengatakan:
“Di Ulanqab, Mongolia Dalam, juga terdengar (ledakan keras).”
“Kemarin malam aku heran suara apa, kupikir gempa.”
“Di Kabupaten Yanchi, itu benar-benar di desa, lalu pendorong roket jatuh, kemudian terdengar tiga kali dentuman.”
Berdasarkan video yang diunggah banyak warganet, reruntuhan roket kali ini jatuh di Kabupaten Yanchi, Dingbian (Shaanxi), serta Mongolia Dalam. Secara geografis, Kabupaten Yanchi dan Dingbian berbatasan langsung dengan Banner Etuokeqian, Mongolia Dalam.
Seorang warganet Ningxia bernama “Siji Yuqian” mengunggah video di media sosial, mengatakan bahwa pendorong roket seharusnya mendarat di wilayah berpasir Shabianzi, Liuyangbao, Kabupaten Yanchi, namun justru jatuh tidak jauh dari Desa Liuyangbao dan kemudian diambil oleh pihak berwenang. Ada warganet yang menimpali, “Mereka tidak takut sampai membunuh orang?”
Warganet “Noah Bridge” juga mengunggah video dan mengatakan bahwa ini adalah kejadian nyata di lokasi langsung—reruntuhan roket. Teks dalam video berbunyi: “Tiga dentuman keras di Dingbian, reruntuhan roket.”
Warganet Mongolia Dalam “Dongtang Erbashou” menulis, “Kemarin benar-benar membuatku kaget!” Video menunjukkan banyak rumah penduduk di dekat lokasi jatuhnya reruntuhan. Reruntuhan roket ditutup, dan banyak warga datang menonton. Ada komentar warganet yang mengatakan, “Astaga, hampir menimpa orang.” “Nyaris jatuh ke halaman rumah warga.”
Dalam beberapa tahun terakhir, PKT mempercepat frekuensi peluncuran roket demi mencapai tujuan ilmiah dan militernya. Namun, roket Long March yang diluncurkan PKT kerap bermasalah. Pada April dan Juli 2024, perusahaan pemantau antariksa asal Swiss, s2a Systems, mendeteksi puluhan pecahan di sekitar tahap akhir (upper stage) roket Long March-6A.
Surat kabar Inggris The Daily Telegraph pada Juli 2024 melaporkan bahwa roket Tiongkok secara tradisional bergantung pada bahan bakar berbahaya seperti dinitrogen tetroksida (N₂O₄), hidrazin cair (N₂H₄), dan asam nitrat asap merah. Senyawa-senyawa ini membentuk bahan pendorong yang sangat efisien, namun juga sangat beracun dan bersifat karsinogenik. Saat terbakar, bahan bakar ini menghasilkan warna merah kecoklatan yang khas dan kotor.
Pada Agustus 2024, Komando Antariksa Amerika Serikat menyatakan dapat mengKonfirmasi bahwa roket Long March-6A yang diluncurkan PKT pada 6 Agustus 2024 mengalami disintegrasi, menghasilkan lebih dari 300 pecahan yang dapat dilacak di orbit rendah Bumi.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa perusahaan pelacakan antariksa AS LeoLabs menyebut jumlah pecahan kemungkinan melebihi 900, menjadikan insiden ini salah satu peristiwa sampah antariksa terbesar dalam sejarah. Beberapa analis mengatakan awan pecahan yang terbentuk di ketinggian sekitar 800 kilometer akan bertahan selama bertahun-tahun.
Pada 4 November 2022, reruntuhan roket Long March-5B milik PKT jatuh kembali ke Bumi dalam kondisi tak terkendali, menghasilkan lebih dari 500 pecahan. Masyarakat Barat menilai hal ini sebagai satu lagi tindakan petualangan tidak bertanggung jawab oleh Badan Antariksa Nasional Tiongkok.
Para ilmuwan sejak lama khawatir bahwa sampah antariksa dapat memicu tabrakan berantai, yang dikenal sebagai Sindrom Kessler, yang berpotensi menghancurkan kehidupan sehari-hari manusia karena sistem navigasi, televisi, dan komunikasi sangat bergantung pada satelit.
Laporan komprehensif oleh reporter Li Enzhen / Editor Li Quan





