Ahmad Khozinudin Minta Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis Bertobat: Posisi Kalian Sudah Tamat

fajar.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pengacara Roy Suryo Cs, Ahmad Khozinudin, kembali bicara tentang Eggy Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL) usai keduanya diketahui berkunjung ke Solo dan bertemu Presiden ke-7 RI, Jokowi.

Ia menegaskan, pertemuan tersebut justru menjadi jebakan politik yang berujung pada rusaknya reputasi dan posisi hukum keduanya.

Dikatakan Ahmad, Jokowi disebut mulai menjalankan strategi pecah belah dengan tujuan utama menggagalkan proses hukum agar perkara dugaan ijazah palsu tidak sampai ke meja persidangan.

“Jokowi mulai memainkan strategi pecah belah, yang targetnya agar kasus ini tidak masuk ke persidangan sehingga dia bisa lolos dari aib ketahuan ijazahnya palsu,” ujar Ahmad kepada fajar.co.id, Jumat (16/1/2026).

Ia menyebut ES dan DHL berada dalam kondisi tidak siap secara mental dan politik, sehingga mudah terbuai janji-janji yang ditawarkan dalam pertemuan tersebut.

“Sementara ES dan DHL yang masih belum siuman dari mimpi lepas dari jerat hukum dan sejumlah janji manis Jokowi lainnya sangat terperanjat,” kata Ahmad.

Lanjut dia, kebocoran pertemuan yang awalnya dijanjikan bersifat rahasia membuat ES dan DHL panik.

Situasi itu, kata dia, kemudian direspons dengan klarifikasi tidak resmi hingga berujung pada pemecatan sejumlah anggota Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA).

“Tidak percaya, pertemuan yang dijanjikan rahasia itu bocor ke publik. Lalu, sibuk membuat klarifikasi via sejumlah orang hingga akhirnya sibuk melakukan sejumlah pemecatan anggota TPUA,” ungkapnya.

Ahmad juga menyinggung respons Jokowi yang dianggap sebagai serangan lanjutan, dengan menggelar konferensi pers yang mengonfirmasi pertemuan tersebut.

“Belum sempat ES membuat klarifikasi resmi selain video singkat yang ngeles atas pujian Jokowi CBM (Cerdas, Berani, Militan), Jokowi langsung membuat serangan kedua,” imbuhnya.

Tambahnya, pernyataan Jokowi yang secara lahiriah memuji ES dan DHL justru memperkuat kesan pengkhianatan di mata publik.

“Jokowi mengadakan konpers yang membenarkan pertemuan dengan ES dan DHL, yang meskipun secara zahir memuji ES dan DHL namun secara esensi makin membongkar pengkhianatan ES dan DHL yang bertandang ke Solo,” jelasnya.

Ahmad mempertanyakan motif di balik langkah ES dan DHL, apakah dilatarbelakangi ketakutan hukum, kepentingan materi, atau jabatan.

“Entah apa yang ada di benak ES dan DHL. Lugu dan sangat polos memasukan diri pada perangkap politik Jokowi. Apa karena takut penjara? Ada motif uang dan jabatan? Entahlah,” imbuhnya.

Ia menegaskan bahwa secara hukum, ES dan DHL masih berstatus tersangka. Namun secara politik dan moral, nama keduanya disebut telah rusak.

“Yang jelas, saat ini ES dan DHL masih berstatus Tersangka. Namun namanya sudah rusak karena masuk jebakan politik Jokowi,” tegas Ahmad.

Dalam pandangannya, konsistensi merupakan kunci kemenangan dalam perjuangan mengungkap dugaan ijazah palsu Jokowi.

“Padahal, dalam kasus ini konsistensi akan menjadi penentu kemenangan perjuangan. Kemenangan itu sudah diambang pintu, tinggal sedikit bersabar InsyaAllah sampai pada tujuan,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa target Jokowi untuk membusukkan nama ES dan DHL telah tercapai, namun tidak akan menghentikan perjuangan yang lebih besar.

“Target Jokowi membusukkan ES dan DHL tercapai. Namun Jokowi tak dapat memecah-belah dan menghentikan perjuangan. Karena perjuangan membongkar ijazah palsu adalah milik seluruh rakyat, bukan perjuangan ES dan DHL,” katanya.

Ahmad mengaku pernyataannya ini diungkapkan sebagai peringatan keras agar tidak ada pihak lain yang mencoba berdamai dengan Jokowi.

“Ini sebagai pengingat sekaligus peringatan keras. Agar tak ada lagi yang mencoba berkhianat dan berdamai dengan Jokowi,” tegasnya.

Ia juga menyinggung adanya sejumlah pihak yang disebut mencoba menggiring kasus tersebut menuju jalan damai.

“Penulis juga tahu, sejumlah nama yang mencoba menggiring kasus ini agar damai dengan Jokowi, meskipun mereka dikenal kontra Jokowi,” ungkapnya.

Menurut Ahmad, langkah tersebut tidak dilandasi semangat perjuangan.

“Entah karena motif uang atau cari selamat sendiri, yang jelas itu pasti bukan karena motif perjuangan atau strategi berdalih pertemuan Musa dengan Firaun,” katanya.

Ahmad kembali mengingatkan agar tidak menjalin kesepakatan dengan pihak yang disebutnya sebagai penipu.

“Saya mengingatkan dengan keras, jangan pernah membuat kesepakatan dengan penipu. Tangan Jokowi berlumuran darah 6 syuhada KM 50, berlumuran darah 900 KPPS, berlumuran darah tragedi Kanjuruan,” ucapnya.

“Untuk ES dan DHL, posisi kalian sudah tamat. Segera bertaubat, agar ada ampunan Allah SWT sebelum ajal menjemput. Kalian sudah tak diterima di kalangan pejuang, sebentar lagi juga akan dibuang lawan setelah tidak dibutuhkan,” kuncinya.

(Muhsin/fajar)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pasporisasi Jemaah Haji: Visa Terbit Selambat-Lambatnya 18 Februari, Kartu Nusuk Lanjut Dibagikan
• 8 jam laludisway.id
thumb
Kasus Polisi Bunuh Mahasiswi UMM: Tangan Korban Sempat Diborgol
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Perpres Ojol Tunggu Merger GoTo–Grab, Prasetyo Hadi: Melibatkan Danantara
• 9 jam laludisway.id
thumb
Ini Bahasa yang Sulit Dipelajari Kim Seon Ho untuk Can This Love be Translated?
• 2 jam laluinsertlive.com
thumb
Kode Redeem FF Terbaru 16 Januari 2026: Hadiah Gratis Tanpa Top Up
• 6 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.