Ahli Temukan Luas Gurun Sahara Terus Bertambah, Apa yang Terjadi

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia- Para ahli menemukan bahwa luas Gurun Sahara telah bertambah dalam beberapa dekade terakhir. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Di sepanjang zona Sahel, sabuk kering yang memisahkan Sahara dan sabana Afrika, hujan masih turun setiap tahun. Curah hujan di banyak wilayah Sahel berada pada kisaran ratusan milimeter per tahun, cukup untuk menopang pertanian kering jika air bisa bertahan di dalam tanah. Namun di lapangan, air itu jarang sekali tersimpan.

Baca: Misteri Makam Kaisar Pertama China, Arkeolog Tak Berani Sentuh

Tanah yang tampak gersang bukan karena hujan tidak ada, melainkan karena hujan tidak pernah benar-benar masuk ke tanah. Inilah paradoks utama yang menjelaskan mengapa gurun Sahara terus meluas meskipun langit Afrika Barat dan Tengah masih menurunkan air setiap musim.

Banyak pengambil kebijakan tidak memahami hal ini sehingga program pemulihan lingkungan salah sasaran. Salah satu contoh paling menonjol adalah penggunaan lebah sebagai "infrastruktur ekologi" di tepi Sahara.

Melansir dari CPG, hal ini menyebabkan proyek pengiriman jutaan lebah ke kawasan pinggiran Sahara pada akhirnya berakhir sebagai eksperimen gagal. Lebah membutuhkan suhu sarang sekitar 35°C. Di atas 40°C, mereka berhenti mengumpulkan nektar dan hanya mencari air. Di Sahara, bahkan struktur sarang tidak bertahan. Ini bukan soal kekurangan teknologi, melainkan batas fisika lingkungan.

Pilihan Redaksi
  • Salju Turun di Gurun Arab Saudi, Benarkah Tanda Kiamat Kian Dekat?
  • 6 Negara Timur Tengah yang Dituruni Salju, Banyak Orang Tak Tahu

Lilin Sarang Lebah Mencair: Larva Mati dan Koloni Runtuh

Kegagalan yang sama dialami proyek penanaman pohon skala besar. Data lapangan di wilayah Sahel menunjukkan hujan sebenarnya masih turun secara periodik. Masalahnya ada pada tanah. Lapisan atas sudah mengeras seperti beton. Air hujan tidak meresap, melainkan mengalir di permukaan dan membawa pergi sisa tanah subur ke sungai lalu ke laut.

Akar tanaman tidak bisa menembus lapisan itu. Pohon mati karena panas dari atas dan kekeringan dari bawah. Dalam kondisi seperti ini, menambah jumlah bibit tidak mengubah hasil.

Ide dasarnya sederhana, lebah mempercepat penyerbukan, memperluas vegetasi, lalu membentuk koridor hijau yang menahan pasir. Model ini berhasil di wilayah kering seperti Lembah Arava di Israel dan sebagian Nevada di Amerika Serikat. Ketika diterapkan di Sahel, hasilnya justru berakhir dengan koloni yang mati.

Baca: Rata-Rata Suhu Seluruh Negara: Terpanas - Terdingin, RI Nomor Berapa?

Masalahnya bukan genetika lebah atau kurangnya bunga. Sarang lebah harus menjaga suhu internal di sekitar 35 derajat Celsius agar larva dan madu tetap stabil.

Di Sahara, suhu pasir bisa melampaui 60 hingga 70 derajat. Ketika panas ekstrem ini mengenai sarang, struktur lilin melemah, madu mencair, dan koloni runtuh secara fisik.

Biologi lebah berbenturan dengan termodinamika gurun. Lebah membutuhkan ekosistem yang sudah bekerja, sementara Sahel menghadapi kerusakan pada level yang lebih mendasar.

Degradasi Tanah, Akar Masalah yang Perlu Dibenahi

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) serta UNCCD mencatat bahwa desertifikasi di Afrika terutama dipicu oleh degradasi tanah. Proses ini mengubah lapisan atas tanah dari medium yang menyimpan air menjadi permukaan keras yang bersifat kedap. Di Afrika, wilayah kering dan semi-kering mencakup lebih dari separuh luas daratan. Dalam kondisi ini, produktivitas lahan tidak runtuh karena hujan berhenti, melainkan karena struktur tanah tidak lagi berfungsi sebagai penyimpan air dan nutrisi.

Selama puluhan tahun, kombinasi panas ekstrem, penggembalaan berlebihan, dan praktik pertanian yang tidak memulihkan bahan organik membuat permukaan tanah di Sahel membentuk kerak keras.

Foto: UNCCD
Kategori lahan kering di berbagai wilayah geografis (benua dan kawasan Pasifik).

 

FAO menyebut fenomena ini sebagai soil crusting dan surface sealing. Ketika hujan turun, air tidak meresap ke lapisan bawah, melainkan mengalir di atas permukaan seperti di atas beton. Aliran ini mencuci partikel tanah yang paling subur dan membawanya ke sungai dan laut. Setiap musim hujan justru mempercepat hilangnya kapasitas tanah untuk menahan air.

Dalam kondisi seperti ini, menanam pohon atau menambah vegetasi sering kali gagal. Akar bibit tidak mampu menembus lapisan keras, sementara air yang jatuh di permukaan menguap dalam hitungan jam.

FAO dan lembaga riset tanah di Afrika menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup pohon di zona kering tanpa rekayasa tanah berada di kisaran rendah dalam beberapa tahun pertama. Bibit mati bukan karena tidak ada hujan, melainkan karena air tidak pernah sampai ke zona perakaran.

Kegagalan ini berdampak langsung pada ekonomi dan stabilitas sosial. Ketika tanah tidak menyimpan air, hasil pertanian turun dan peternakan kehilangan padang rumput. Negara-negara di Sahel lalu semakin bergantung pada impor pangan.

Ketegangan antar komunitas meningkat ketika sumber daya air dan lahan menyempit. UNCCD mencatat bahwa degradasi tanah menjadi salah satu pendorong migrasi dan konflik di wilayah kering Afrika, karena masyarakat terdorong meninggalkan lahan yang tidak lagi produktif.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Fokus Dorong Investasi di Sektor Energi Terbarukan dan Digital Jelang 2026
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini, Jumat 16 Januari 2026: Libra Soal Perasaan, Capricorn Fokus Karier
• 9 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pasar Snack Tahan Banting, Produsen Taro (AISA) Optimistis Prospek 2026
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Bikin Geger Bursa Transfer Super League! Persik Kediri Rekrut Dua Pemain Spanyol Sekaligus
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Real Madrid Memalukan, Barcelona Masih Perkasa! Blaugrana Bungkam Racing Santander di Piala Raja Spanyol
• 11 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.